BERITAALTERNATIF.COM – Secara harfiah, mozaik adalah gambar yang disusun dari pecahan—keramik, kaca, batu, cermin—di mana setiap bagian mempertahankan warna dan bentuknya sendiri. Secara metaforis, ia adalah suatu kesatuan yang terbentuk dari bagian-bagian yang beragam, bahkan terpecah, tanpa memaksakan keseragaman.
Mozaik melambangkan kesatuan dalam perbedaan: pengalaman, budaya, atau fragmen yang berbeda menyatu menjadi sesuatu yang lebih kaya daripada masing-masing bagian. Konsep ini sejalan dengan gagasan Taoisme dan Konfusianisme tentang “harmoni dalam perbedaan”, serta konsep Sufi tentang “Tauhid”—kesatuan dalam keberagaman, di mana ribuan bagian kecil membentuk satu pola tanpa kehilangan identitasnya.
“Doktrin Mozaik” Iran bukan sekadar konsep puitis, melainkan strategi militer. Diformalkan oleh Brigadir Jenderal IRGC Mohammad Ali Jafari pada tahun 2005, doktrin ini dirancang untuk mencegah kehancuran cepat seperti yang dialami militer terpusat Irak pada 2003.
Alih-alih satu rantai komando, kekuatan Iran dibagi menjadi 31 komando provinsi yang otonom. Setiap provinsi berfungsi sebagai bagian mozaik, dengan jaringan intelijen, persenjataan, dan kemampuan tempur mandiri jika kepemimpinan nasional dihancurkan.
Struktur ini memberikan ketahanan terhadap serangan yang menargetkan pimpinan, memungkinkan otonomi daerah, serta mendukung perang gerilya dan asimetris di medan pegunungan dan gurun Iran. Konsep serupa juga terlihat dalam Poros Perlawanan.
Yang penting bukan hanya efektivitas militer, tetapi juga dampak politiknya: dengan memberi tanggung jawab pada tingkat lokal, kekuasaan negara menjadi lebih dekat dengan rakyat. Warga menjadi lebih aktif dalam pertahanan nasional. Ketika rakyat lebih terlibat, negara menjadi lebih kuat, masyarakat lebih sadar, dan persatuan meningkat. Ini disebut sebagai pelajaran penting—bahkan disebut sebagai bentuk “demokrasi sejati”.
Di kota-kota Iran, di bawah hujan bom, orang-orang dari berbagai kelas sosial, etnis, usia, dan keyakinan—sekuler maupun religius, reformis maupun konservatif—berkumpul di malam hari di alun-alun sebagai satu kesatuan.
Pertemuan malam ini dimulai sejak hari pertama serangan pada 28 Februari 2026 dan terus berlangsung hingga kini. Rumah rakyat bukan lagi alamat tempat tinggal, melainkan kebersamaan mereka.
Apa yang memicu hal ini? Pembunuhan brutal terhadap pemimpin spiritual dan militer Iran oleh apa yang disebut penulis sebagai “Poros Barbarisme”. Tujuan untuk memecah justru menghasilkan kebalikan: rakyat Iran menyadari bahwa mereka semua terkena dampaknya secara mendasar.
Semangat ini bahkan menjangkau mereka yang sebelumnya menentang pemerintah Iran. Seorang perwakilan perusahaan AI Iran yang membuat konten satir viral mengatakan bahwa dulu mereka menentang kepemimpinan, tetapi kini siap berkorban karena merasa negara “berjuang untuk mereka”. Seorang perempuan Iran di Eropa yang dulu membenci pemerintahnya juga mengungkapkan perubahan pandangannya terhadap negara dan rakyatnya.
Sebuah kampanye nasional bernama “Jânam fadâye Iran” (“Hidupku untuk Iran”)—yang dibuat untuk mendaftarkan warga yang siap merespons agresi militer AS-Israel—dilaporkan telah mencapai 31 juta pendaftar.
Seorang pemuda Iran berusia 21 tahun mengatakan: “Kami siap memberikan nyawa kami untuk Iran jika diperlukan. Itu sudah menjadi hal yang biasa sekarang. Tidak ada yang perlu meyakinkan kami.”
Peserta lain menjelaskan bahwa identitas nasional tidak muncul dari kata-kata, melainkan tindakan—terutama saat ancaman lama kembali muncul. Ia menyaksikan bahwa orang-orang tidak melarikan diri, tetapi tetap di tempatnya: para tukang roti, guru, dan tentara. Bahkan disebutkan adanya kelompok nomaden yang mencari pilot Amerika yang jatuh di Pegunungan Zagros, sementara helikopter AS berputar di atas.
Inisiatif lain, kampanye “Pembawa Bendera”, dimulai oleh pemuda di Mashhad. Warga mendaftar untuk bergiliran memegang bendera besar bersama di alun-alun kota. Daftar tunggunya panjang, bahkan mencakup orang dari luar negeri.
Selain itu, para petani juga ikut serta, membawa traktor ke aksi malam sambil menyatakan:
“Kami datang untuk membajak ‘Israel’.” (*)
Penulis: Nora Hoppe
Sumber: Al Mayadeen












