Search

Berita dari Negeri Khayal: Raja yang Penuh Kebohongan

Pidato Raja Charles dan kunjungannya ke Washington dipandang sebagai momen simbolisme diplomatik langka yang menembus narasi kekuasaan dan konfrontasi ala Donald Trump. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Donald “Jesus” Trump—sebagaimana dalam kondisi pikirannya yang tampak kacau ia kini melihat dirinya—sekali lagi membuktikan bahwa sang “Raja Kemewahan” juga adalah “Raja Kebohongan”.

Seseorang tidak perlu menjadi pendukung monarki atau penggemar pemerintahan Amerika saat ini untuk melihat dengan ketertarikan kunjungan terbaru Raja Inggris ke Washington.

Seorang raja Inggris tidak seharusnya bersikap terbuka secara politik atau kontroversial, tetapi pernyataan publiknya jelas telah disetujui (dan disesuaikan) di tingkat tertinggi oleh pemerintah Inggris.

Sejak masih menjadi pangeran yang aktif mengkampanyekan isu lingkungan dan masa depan kaum muda kurang beruntung, Charles III tidak takut menyinggung isu yang mendekati ranah politik. Dalam beberapa hal, sejumlah komentarnya selama di AS—dengan gaya diplomatik yang halus—bahkan bisa dianggap lebih tajam daripada kecaman perdana menterinya sendiri terhadap perang ilegal Presiden Amerika terhadap Iran.

Sejumlah komentator bahkan menyebut bahwa—seperti halnya mayoritas rakyat Inggris yang mendukung penolakan Keir Starmer untuk ikut dalam “perang gila” Trump—pidato sang raja di Kongres dalam rangka peringatan 250 tahun kemerdekaan AS dapat dianggap sebagai momen seperti film Love Actually. Ini mengingatkan pada adegan ketika perdana menteri Inggris berdiri melawan presiden AS yang arogan, tidak jujur, dan suka menindas.

Dengan menyinggung “tantangan besar bagi komunitas internasional” akibat konflik di Timur Tengah, Charles mengingatkan Kongres bahwa Inggris dan AS “tidak selalu sependapat.” Memang tidak setegas dialog film tersebut, tetapi cukup menjadi sinyal peringatan yang jelas.

Ia menekankan pentingnya komitmen terhadap demokrasi, supremasi hukum, dan keadilan yang tidak memihak. Ia mendapat tepuk tangan ketika menyatakan bahwa nilai-nilai ini bertumpu pada prinsip bahwa kekuasaan eksekutif harus diawasi dan dibatasi.

Ketika menyinggung upaya terbaru terhadap keselamatan Trump, ia hanya menyebutnya sebagai “insiden” yang berusaha merusak kepemimpinan dan memicu ketakutan. Penyebutan yang samar ini membuat sebagian orang mungkin teringat pada serangan terhadap demokrasi Amerika pada Januari 2021 di tempat yang sama.

Berbeda dengan pandangan Trump, Charles juga menyatakan dukungannya terhadap upaya melawan perubahan iklim dan mengingatkan bahwa NATO hanya pernah mengaktifkan Pasal 5 untuk membela AS. Ia secara halus mengingatkan bahwa Gedung Putih belakangan justru mengancam sekutu Eropa yang tidak mendukung perang tersebut.

Tak lama kemudian, Trump merespons dengan klaim-klaim yang diragukan. Dalam jamuan di Gedung Putih, ia berkata bahwa mereka telah mengalahkan musuh secara militer dan bahwa Raja Charles sepakat dengannya—bahkan lebih dari dirinya sendiri—untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Para jurnalis segera menunjukkan bahwa tidak mungkin seorang raja menyampaikan pandangan seperti itu secara pribadi, apalagi presiden mengungkapkannya ke publik. Istana Buckingham juga tidak mungkin secara terbuka menyebut presiden sebagai pembohong.

Dengan kata lain, pernyataan itu tidak pernah terjadi—dan Trump mengetahuinya—tetapi ia merasa bisa mengatakannya tanpa takut dibantah.

Trump juga menyatakan bahwa raja adalah teman dekatnya dan mungkin akan mendukungnya dalam urusan Iran. Pernyataan ini disambut skeptis, mengingat gaya Trump yang cenderung melebih-lebihkan.

Meski demikian, banyak pengamat menilai kunjungan tersebut sebagai keberhasilan diplomatik. Raja berhasil memikat presiden yang dikenal sulit, sambil tetap menyampaikan beberapa pesan politik penting secara halus. Ia bahkan membuat suasana mencair dengan humor, termasuk membandingkan renovasi Gedung Putih dengan pembakaran bangunan itu oleh Inggris pada tahun 1814.

Ia juga menanggapi klaim Trump bahwa Amerika memenangkan Perang Dunia II dengan mengatakan bahwa tanpa Inggris, orang Amerika mungkin sekarang berbicara bahasa Prancis.

Tentu saja, menyoroti sisi positif kunjungan ini bukan berarti mendukung sistem monarki. Ada pula kritik terhadap keputusan raja yang menolak bertemu perwakilan korban kasus yang terkait dengan saudaranya, Pangeran Andrew.

Namun secara keseluruhan, ketika upaya Trump menyeret keluarga kerajaan ke dalam konflik tampak jelas sebagai tindakan yang tidak bijak dan penuh kepentingan pribadi, satu hal menjadi jelas: dalam opini publik, seorang raja selalu lebih unggul daripada seorang penipu—terutama jika yang dimaksud adalah sosok seperti Trump. (*)

Penulis: Alex Roberts
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA