BERITAALTERNATIF.COM – Sebuah laporan investigasi oleh media Israel, Ynet, mengungkap secara gamblang kegagalan memalukan tidak hanya dari perang Amerika Serikat–Israel terhadap Iran, tetapi juga upaya entitas Zionis untuk mengakhiri Republik Islam melalui operasi militer dan intelijen, baik terbuka maupun tertutup. Protes kekerasan yang diatur Mossad, rencana pembunuhan Pemimpin Sayyid Ali Khamenei, serta invasi Kurdi dimaksudkan untuk menghasilkan perubahan rezim dan “kemenangan total” atas Teheran. Namun, seperti disimpulkan Ynet: “apa yang dimulai sebagai langkah Israel yang luas, penuh imajinasi, dengan solusi final, berakhir dengan kepedihan.”
Secara rinci, investigasi tersebut menelusuri bagaimana skema ekstrem entitas Zionis ini lahir di benak para petinggi intelijen, militer, dan politik Israel, sebelum akhirnya berhasil “dijual” kepada pemerintahan Trump. Sepanjang proses itu, Ynet mengungkap tingkat ilusi dan kesombongan imperial yang luar biasa dan berbahaya di tingkat tertinggi Tel Aviv dan Washington. Misalnya, Benjamin Netanyahu secara tulus—namun sepenuhnya keliru—percaya bahwa serangan kriminal Israel ke Lebanon pada September 2024, serta Perang 12 Hari Juni 2025, telah melumpuhkan Hizbullah dan Iran.
Pandangan ini juga dianut oleh Mossad, yang sejak 2022 membangun pasukan anti-pemerintah besar di Teheran. Entitas Zionis secara keliru yakin memiliki kekuatan untuk menjatuhkan seluruh Republik Islam. “Mendorong protes massal” dan memicu “perlawanan bersenjata kelompok minoritas”—khususnya Kurdi di dalam dan luar Iran—bersamaan dengan pembunuhan Sayyid Ali Khamenei, menjadi bagian dari strategi kudeta tiga arah. Netanyahu percaya “kemenangan total” atas Poros Perlawanan sudah dalam genggaman di semua front. Ynet melaporkan:
“Menjatuhkan rezim adalah inti dari rencana perang keseluruhan Israel.”
Operasi ini direncanakan dilaksanakan pada Juni. Namun, pada Januari, ketika “puluhan ribu” pemberontak yang diarahkan Mossad turun ke jalan di Teheran dan kota-kota lain, entitas Zionis menganggap kondisi telah cukup “matang” untuk langkah penentuan. “Organisasi pengaruh” Mossad lahir pada 2022 dan mencapai “kematangan operasional dua setengah tahun lalu.”
Ynet bahkan membanggakan “upaya dan kecanggihan” jaringan rahasia bersenjata ini: “Israel telah membangun mesin racunnya sendiri. Ini adalah sistem senjata serius yang, jika beroperasi penuh, bisa mematikan.”
Mossad mempresentasikan rencana perubahan rezim ini langsung kepada CIA. Komando Pusat Pentagon diberi tahu oleh kepala staf militer Israel, Eyal Zamir, sementara Trump dilobi secara langsung oleh Netanyahu. Presiden—yang “yakin tidak ada batas kemampuan sistem militer yang ia kuasai” setelah penculikan Nicolas Maduro pada 3 Januari—dan pemerintahannya menjadi audiens yang sangat reseptif. Trump memberi sinyal dukungan pada 13 Januari dengan menyatakan kepada rakyat Iran bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.”
Penumpukan militer besar-besaran AS di Asia Barat segera dimulai, sementara pembicaraan damai dengan Teheran masih berlangsung. Negosiasi ini ternyata hanyalah tipu daya untuk meninabobokan pihak Perlawanan sebelum fase berikutnya dari kudeta dimulai. Pada 28 Februari, serangan udara Zionis-Amerika menghujani Teheran. Israel dan AS yakin kepemimpinan Iran telah dieliminasi atau tercerai-berai, serta sistem komando dan kontrol Republik Islam telah “dipukul keras.” Namun, bencana justru mulai terjadi.
Pemberontakan Rakyat
Meskipun Sayyid Khamenei terbunuh—dalam pembunuhan yang secara sinis dirayakan media Barat sebagai “pembunuhan abad ini”—dan kepemimpinan Iran sempat bersembunyi, “pergantian pemerintahan yang tertib sesuai kehendak Khamenei” berhasil dilakukan. Sistem komando dan kontrol Iran tidak terganggu signifikan dan kembali normal dalam hitungan jam. Tidak ada pembelotan. Meski demikian, euforia melanda Washington dan Tel Aviv. Trump—yang secara pribadi “menyambut baik serangan Israel”—merilis pernyataan video yang mendesak rakyat Iran merebut kekuasaan dengan kekerasan, dengan ancaman:
“Kepada anggota Garda Revolusi, angkatan bersenjata, dan polisi: letakkan senjata kalian dan dapatkan kekebalan penuh, atau hadapi kematian.”
Netanyahu ikut menyerukan pemberontakan. Namun masalahnya, “massa memilih tetap di rumah,” sebagian karena pemboman genosidal AS–Israel. Serangan terhadap sebuah sekolah dasar yang menewaskan 165 siswi memicu kecaman internasional, duka mendalam di Asia Barat, dan penyelidikan PBB. Alih-alih memberontak, rakyat Iran justru turun ke jalan untuk berkabung atas Khamenei dan merayakan naiknya putranya, Mojtaba, sebagai pemimpin. Garda Revolusi segera memblokade Selat Hormuz.
Meskipun penutupan ini sudah lama diperkirakan sebagai konsekuensi tak terelakkan dari agresi AS–Israel, Ynet melaporkan AS “tidak siap menghadapi langkah ini dan dampak ekonominya yang menghancurkan.” Ancaman Trump agar Iran tidak memblokade diabaikan. Keterkejutan Washington kemungkinan besar disebabkan keyakinan Netanyahu bahwa Republik Islam akan runtuh dalam hitungan hari—tanpa rencana cadangan sama sekali.
Sementara itu, komponen lain dari operasi perubahan rezim juga gagal total. Setelah 100 jam serangan udara, invasi darat oleh milisi Kurdi dari Irak seharusnya dimulai. Pasukan telah dilatih untuk masuk ke wilayah Kurdi Iran dan berbaris menuju Teheran. Namun intelijen Iran mengetahui rencana ini lebih awal dan diduga memberi tahu Turki, sehingga Recep Tayyip Erdoğan mendesak Trump untuk membatalkannya. Bahkan sebelumnya, banyak pihak telah memperingatkan bahwa rencana ini justru akan menyatukan rakyat Iran melawan intervensi asing.
Meski demikian, invasi Kurdi tetap menjadi bagian penting strategi Israel. Setelah gencatan senjata 7 April, pejabat Israel mempertanyakan mengapa invasi itu tak pernah terjadi—apakah AS ragu, Trump berubah pikiran, atau memang rencana itu sejak awal hanyalah fantasi?
Efek Tak Terduga
Keyakinan entitas Zionis terhadap rencana ini semakin dipertanyakan mengingat laporan Juli 2025 dari Institute for National Security Studies (INSS) di Tel Aviv. Laporan tersebut mengakui bahwa perubahan rezim di Iran adalah tujuan utama sejak awal konflik—dan gagal total. Meski demikian, laporan itu tetap mendorong upaya penghancuran Republik Islam melalui kudeta internal.
Namun INSS secara tegas memperingatkan agar tidak menggunakan metode yang justru dipakai dalam perang terakhir. Serangan militer—termasuk pemboman warga sipil—tidak akan memicu protes anti-pemerintah, melainkan justru memperkuat sentimen anti-Israel dan solidaritas nasional Iran.
Tekad rakyat Iran untuk mempertahankan tanah air meningkat, bahkan setelah perang usai, hingga hampir tidak ada lagi tanda-tanda perbedaan pendapat publik. INSS juga memperingatkan bahwa dukungan terhadap gerakan separatis seperti milisi Kurdi justru akan menyatukan rakyat Iran melawan Israel.
Selain itu, laporan tersebut memperingatkan bahwa pembunuhan Khamenei tidak akan otomatis menghasilkan perubahan rezim, dan justru bisa memperkuat pemerintah serta meningkatkan sentimen anti-Zionis. Semua prediksi ini terbukti benar.
Sejauh ini, prediksi bahwa Iran akan mengejar senjata nuklir sebagai “jaminan eksistensial” belum terjadi, meskipun kini dikhawatirkan oleh Barat. Sementara itu, sejak gencatan senjata, perundingan Washington–Teheran mengalami kebuntuan. AS tetap ingin membatasi program nuklir Iran, sementara Iran menolak membahasnya.
Teheran juga menegaskan bahwa kontrolnya atas Selat Hormuz hanya akan dilonggarkan jika blokade terhadap Iran dihentikan. Sementara Netanyahu masih bermimpi menghancurkan Republik Islam, kekuatan ekonomi dan militer yang diperlukan tidak lagi dimiliki. Tel Aviv justru terjebak dalam situasi sulit di Lebanon, sementara Poros Perlawanan terus mengamati.
Dalam upaya gegabah untuk mencapai perubahan rezim yang tidak realistis di Iran, entitas Zionis justru mempercepat kehancurannya sendiri. (*)
Penulis: Kit Klarenberg
Sumber: Al Mayadeen












