Search

Kolonialisme dalam Tulisan: Bagaimana Jurnalis Liberal Barat Mendistorsi Lebanon dan Palestina

Matt Wolfson berpendapat bahwa jurnalisme liberal Barat sering menyamarkan asumsi kolonial sebagai “objektivitas”, dengan mereduksi orang Lebanon dan Palestina menjadi korban, ekstremis, atau sekadar figur latar. Ia menelusuri distorsi ini melalui jaringan media elite, pengaruh Zionis, dan puluhan tahun peliputan yang mengaburkan sebab, konteks, dan perlawanan. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Pada Rabu, 15 April 2026, ketika serangan Israel ke Lebanon yang dimulai pada Maret—yang menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengungsikan lebih dari 1 juta—mulai “mereda”, Charles Glass, seorang koresponden perang Inggris-Amerika yang dihormati, muncul dengan tulisan sepanjang 3.500 kata berjudul Beirut, Now and Then di The London Review of Books (LRB).

LRB adalah salah satu publikasi intelektual arus utama paling kiri di Inggris, dengan sekitar 74.000 pelanggan cetak berbayar. Majalah ini bisa dibilang salah satu yang paling sukses di Eropa, dan bagi sebagian pembaca, termasuk penulis, merupakan majalah cetak arus utama Barat yang paling konsisten dapat diandalkan. Namun, ciri utama tulisan Glass tentang Beirut justru adalah ketiadaan perspektif antropologis yang hampir terasa seperti parodi diri sendiri. Dalam tulisannya, tokoh utama Beirut bukanlah orang Lebanon. Mereka bahkan tidak disebutkan namanya. Tokoh-tokoh yang disebut justru adalah orang Barat: bartender Hotel Saint Georges, agen Palang Merah asal Swiss, dan para jurnalis dari media besar seperti The New York Times, The Washington Post, The Guardian, BBC, dan Reuters.

Orang-orang Barat ini digambarkan sebagai sosok “beradab” dan “anggun”. Mereka saling berbagi alkohol sebelum melaporkan kekejaman keesokan harinya, mewakili “era jurnalis pencerita” yang disindir oleh Evelyn Waugh. Mereka percaya bahwa keberhasilan dalam jurnalisme membutuhkan kelicikan, gaya yang meyakinkan, dan sedikit kemampuan sastra. Mereka terikat oleh rasa ingin tahu, kompetisi, dan dorongan bercerita—serta persahabatan.

Sebaliknya, orang Lebanon digambarkan sebagai “calon martir” atau “fanatik Kristen” yang sering mabuk obat dan saling menembaki. Mereka disebut terobsesi dengan penjarahan dan pembakaran, menciptakan kekacauan tanpa makna. Atau, dalam gambaran kemanusiaan yang juga simplistis, mereka hanyalah korban yang sekarat karena kelaparan dan kekurangan obat. Meskipun Glass mengaku belajar mewawancarai korban dan sumber di lapangan, tidak satu pun kesaksian mereka muncul dalam artikelnya.

Ketiadaan perspektif ini mungkin tampak tidak penting karena Glass mengaku hanya merangkum kariernya, bukan meliput perang saat ini. Namun justru di situlah letak pentingnya. Ketika ia berbicara bebas, sudut pandangnya mencerminkan pendekatan banyak jurnalis Barat lainnya: gagal memahami perspektif tertentu, atau mereduksinya menjadi kekacauan fakta dan moral yang sulit dipahami.

Pendekatan ini sering dibenarkan atas nama “objektivitas”—yakni melaporkan fakta tanpa berpihak. Namun, kritik terhadap “objektivitas” semacam ini sudah lama ada: seorang penulis bisa merasa netral, padahal diam-diam dipengaruhi ideologi tertentu. Dalam kasus ini, ideologi tersebut adalah kolonialisme, yang dipertahankan oleh budaya media liberal dominan yang terhubung dengan jaringan intelijen dan finansial.

Dalam kerangka ini, “ketertiban” dipertahankan atas nama “keseimbangan” melawan “kekacauan” dan “ekstremisme”. Namun konsep-konsep ini jarang dipertanyakan: siapa yang menentukan apa itu ketertiban dan keseimbangan? Fokus pada hal-hal tersebut membuat jurnalis Barat gagal mengkaji proyek ekstrem yang sebenarnya menciptakan kekacauan—yakni Zionisme—dan akhirnya mengaburkan hubungan sebab-akibat dalam pelaporan.

Akar pandangan ini dapat ditelusuri hingga akhir Perang Dunia II dan munculnya “Imperium Anglo-Amerika kedua”, ketika Amerika menggantikan Inggris sebagai kekuatan global. Jurnalisme menjadi perpanjangan dari proyek tersebut. Para jurnalis belajar dari tokoh-tokoh yang juga terhubung dengan intelijen dan politik imperial.

Salah satu contoh adalah Ian Fleming, penulis James Bond, yang juga mantan intelijen dan editor luar negeri The Sunday Times. Ia memiliki hubungan erat dengan tokoh politik dan intelijen, termasuk dalam peristiwa seperti krisis Terusan Suez dan rencana terhadap Fidel Castro. Hubungan antara jurnalisme, intelijen, dan kekuasaan ini menghasilkan pandangan yang mendukung imperialisme atas nama “peradaban” dan “ketertiban”.

Pandangan ini juga tercermin dalam budaya media: dari The New York Times hingga Time Magazine, banyak keputusan editorial dipengaruhi pertimbangan politik dan intelijen. Bahkan setelah Perang Vietnam, ketika kritik terhadap imperialisme meningkat, kerangka liberal ini tidak melemah—justru semakin menguat.

Selain itu, kepemilikan media besar Barat sejak 1970-an hingga 2010-an banyak berpindah ke tokoh-tokoh yang mendukung Zionisme, seperti Martin Peretz (The New Republic), keluarga Newhouse (The New Yorker), Mort Zuckerman (The Atlantic), dan lainnya. Tokoh-tokoh seperti Ezra Klein dan Jeffrey Goldberg juga disebut berperan dalam membentuk narasi media modern yang cenderung pro-Zionis.

Menurut Wolfson, semua faktor ini menjelaskan bagaimana distorsi terjadi secara sistematis: melalui jaringan kekuasaan, kepemilikan media, dan ideologi yang tidak diakui secara terbuka. Dampaknya adalah penggambaran masyarakat non-Barat—terutama di Palestina dan Lebanon—yang kehilangan suara, konteks, dan agensi mereka sendiri. (*)

Penulis: Matt Wolfson
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA