BERITAALTERNATIF.COM – Komentator politik Amerika Serikat, Christopher Helali, datang ke Iran sebagai jurnalis. Ia pulang membawa sesuatu yang lebih sulit diukur—kesaksian tentang rakyat yang menolak untuk runtuh.
Dalam wawancara eksklusif dengan kantor berita Mehr di Teheran, analis Iran-Amerika ini berbicara tentang ketahanan bangsa Iran, propaganda anti-Iran, dan kesalahan perhitungan paling mahal Washington sejauh ini.
Berikut teks lengkap wawancaranya:
Anda memilih datang ke Iran pada salah satu momen paling kritis dalam sejarah modern negara ini. Apa yang mendorong Anda datang, dan momen apa yang paling menarik selama kunjungan Anda? Apa yang paling mengejutkan atau mengesankan?
Pertama-tama, saya orang Iran secara darah, jadi ini adalah tanah air saya dan saya mencintainya. Ada banyak kutipan terkenal bahwa orang yang tidak mencintai tanah airnya adalah seseorang yang tersingkir. Bagi saya, saya mencintai tanah air saya. Kita bisa berbeda pendapat dalam banyak hal, dan itu wajar dalam sebuah masyarakat. Tetapi ketika tanah air diserang musuh asing—entah itu Alexander Agung, bangsa Mongol, atau AS dan Zionis—kita membelanya tanpa memandang perbedaan etnis, agama, atau politik.
Saya datang pada saat kritis ini sebagai bagian dari pers, untuk pekerjaan media sosial dan perusahaan media kami, DD Geopolitics, yang memiliki hampir 1 juta pelanggan di berbagai platform. Kami ingin datang dan melihat langsung serta menyampaikan kebenaran kepada semua orang.
Hal yang paling mengesankan bagi saya adalah ketahanan rakyat Iran, martabat mereka. Di tengah puluhan ribu pemboman, mereka tetap menjalani hidup. Para pekerja tetap bekerja, orang pergi beribadah, keluarga berkumpul, orang keluar ke jalan, menghadiri aksi malam, berjalan-jalan bersama anak-anak. Kehidupan terus berjalan.
Ini menunjukkan kesinambungan dan kekuatan masyarakat—berlawanan dengan klaim media Barat yang mengatakan Iran berada di ambang kehancuran. Faktanya justru sebaliknya: masyarakat Iran jauh lebih tangguh dari yang mereka bayangkan. Media Barat terlalu banyak mengonsumsi propaganda mereka sendiri dan tidak memahami kekuatan rakyat Iran.
Satu hal yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah bahwa Iran sebagai negara beradab tidak bisa disederhanakan. Ia sangat beragam. Kami pergi dari Teheran ke Isfahan, lalu ke Bandar Abbas dan Minab, bahkan memulai dari Tabriz. Kami melihat keragaman bahasa dan budaya: Azeri, Persia, Arab, dan lainnya. Kami mengunjungi sinagoga Yahudi, gereja Kristen Armenia, dan masjid Sunni. Ini menunjukkan mozaik Iran dan kekuatan besar yang lahir dari keberagaman itu.
Anda menyebut memiliki darah Persia. Bagaimana hubungan pribadi ini membentuk pemahaman Anda tentang konflik dibanding analis Barat?
Saya dibesarkan oleh ayah yang ikut dalam Revolusi Islam dan pernah menjadi bagian dari Garda Revolusi. Ia kemudian belajar di luar negeri dan membangun keluarga. Saya tumbuh dalam keluarga yang menjunjung nilai revolusi, solidaritas dengan Palestina, perlawanan di Lebanon, dan penentangan terhadap imperialisme AS dan Zionisme.
Dari pihak ibu, keluarga saya adalah komunis dari Yunani yang melawan Nazisme dan imperialisme. Saat SMA, saya bahkan memasang foto Imam Khomeini berdampingan dengan Lenin, Mao, dan Marx.
Latar belakang ini membentuk pemahaman saya tentang dunia—tentang Iran, Global South, dan mayoritas global. Saya juga pernah ke Palestina, Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman. Saya melihat langsung dampak kebijakan AS dan Israel.
Karena saya juga dibesarkan di Amerika, saya melihat bagaimana pemerintah AS memperlakukan aktivis pro-Palestina—ditindas, ditahan, kehilangan pekerjaan. Banyak analis Barat tidak memiliki pengalaman dan pemahaman sedalam ini.
Media Barat selama perang ini menyajikan narasi anti-Iran. Bagaimana perbandingannya dengan kenyataan di lapangan?
Media Barat mencoba menggambarkan Iran seperti Afghanistan di masa lalu atau di bawah Taliban—seolah semua orang tertindas, perempuan tidak sekolah, semua memakai burqa atau niqab, padahal itu bukan budaya Iran.
Mereka juga menggambarkan Iran sebagai masyarakat primitif dan tidak beradab, padahal wilayah ini adalah sumber peradaban. Mereka mengabaikan sejarah besar peradaban Persia dan kontribusi Islam dalam menyelamatkan warisan filsafat Yunani serta mendorong Renaisans.
Ketika saya datang ke sini, saya melihat hal yang berbeda. Banyak perempuan tidak memakai hijab ketat seperti yang digambarkan, dan tidak ada pemaksaan seperti yang diklaim. Memang ada masalah, tetapi situasi lebih santai, terutama setelah fase perang.
Perkembangan di sini luar biasa—pusat perbelanjaan besar, infrastruktur modern. Banyak orang di luar tidak percaya bahwa ini Iran. Mereka kira itu AI atau negara lain.
Perjalanan ini membantu membongkar narasi tersebut. Karena itu penting bagi Iran membuka diri bagi jurnalis asing agar mereka bisa menyampaikan kenyataan, bukan propaganda dari media tertentu.
Terkait perundingan damai, bagaimana pandangan Anda? Apakah gencatan senjata permanen bisa tercapai?
AS telah menerapkan blokade, yang dalam hukum internasional merupakan tindakan perang. Jadi sebenarnya kita masih dalam situasi perang, meskipun tidak ada pemboman langsung saat ini.
Kita berada dalam semacam perang dingin yang bisa meningkat kapan saja. Ini adalah situasi “brinkmanship” (adu keberanian) yang berisiko lepas kendali. Kita tidak tahu langkah berikutnya dari AS atau rezim Zionis.
Situasi ini juga terkait dengan Lebanon, karena Iran mengaitkan negosiasi dengan kondisi di sana. Konflik di Lebanon memperumit keadaan dan berdampak langsung pada masa depan Iran.
Pesan Anda kepada rakyat Amerika terkait kebijakan pemerintah mereka terhadap Iran?
Pesan saya kepada rakyat Amerika—yang juga bagian dari diri saya—adalah: apakah ini cara yang Anda inginkan untuk menggunakan pajak Anda? Untuk membunuh anak-anak, menghancurkan rumah sakit, universitas, dan infrastruktur?
Banyak warga Amerika hidup dari gaji ke gaji, sulit membayar layanan dasar, sementara anggaran militer sangat besar. Untuk apa?
Apakah ini cara “membebaskan” rakyat Iran—dengan membombardir mereka? Ini bukan “America First,” melainkan “Israel First.”
Kita sudah melihat hasil intervensi di Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah—tidak ada yang berhasil. Jadi mengapa terus mengulangi kebijakan yang sama?
Harapan saya adalah rakyat Amerika akan meminta pertanggungjawaban pemerintah mereka dalam pemilu mendatang, dan lebih banyak orang berani menantang kebijakan tersebut, baik di dalam negeri maupun secara global. (*)
Sumber: Mehr News












