Search

Trump Dipaksa Mundur dari Rencana Membuka Selat Hormuz secara Militer

Mundurnya cepat Donald Trump dari operasi Hormuz menunjukkan satu hal, kata Profesor Hongda Fan: Amerika Serikat tidak memiliki jalur militer yang jelas ke depan, dan tekanan global memaksanya berkompromi. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Satu minggu sebelum Donald Trump tiba di Beijing untuk pertemuan tingkat tinggi dengan Xi Jinping, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan pertamanya ke China sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Kunjungan ini terjadi tepat pada hari Trump menangguhkan Project Freedom, operasi militer yang gagal untuk memaksa pembukaan Selat Hormuz. Dalam konteks ini, kantor berita Mehr mewawancarai Hongda Fan, profesor di Institut Studi Timur Tengah Universitas Studi Internasional Shanghai, untuk menjawab pertanyaan yang kini menjadi perhatian banyak negara: dapatkah China memanfaatkan pengaruh uniknya—sebagai mitra dagang terbesar Iran, anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan tuan rumah pertemuan Trump—untuk menghasilkan terobosan nyata menuju perdamaian?

Berikut teks wawancaranya:

Menteri Luar Negeri Araghchi tiba di Beijing pada hari Rabu—kunjungan pertamanya ke China sejak perang dimulai pada 28 Februari. Dengan waktu yang bertepatan satu minggu sebelum pertemuan Presiden Trump dengan Presiden Xi Jinping pada 14–15 Mei, bagaimana Anda menilai timing strategis kunjungan ini?

AS dan Iran saat ini berada pada titik kritis dan sensitif dalam negosiasi untuk mencapai kesepakatan. Pada dasarnya, kepentingan nasional kedua negara mengharuskan perang segera diakhiri. Setelah beberapa hari perdebatan, saya percaya sudah saatnya kedua negara berkompromi dan menyatakan berakhirnya perang.

Namun, karena buruknya sikap AS terhadap Iran, seperti penarikan sepihak dari JCPOA, Teheran jelas tidak mempercayai AS. Oleh karena itu, sebagai negara sahabat jangka panjang, pertemuan langsung antara menteri luar negeri Iran dan China sangat penting saat ini, terutama menjelang kunjungan Presiden Trump ke China.

Bagaimana menurut Anda China dapat menggunakan posisinya—sebagai mitra dagang terbesar Iran dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang juga memiliki hubungan dengan Washington—untuk menjembatani kesenjangan antara Teheran dan AS di tengah upaya perdamaian?

Dari sudut pandang kepentingan nasional, baik AS maupun Iran saat ini sama-sama ingin mengakhiri perang, dan China memiliki kemauan serta kemampuan untuk membantu kedua negara mencapai tujuan tersebut. Ketiga negara ini berada di jalur menuju perdamaian.

Saya percaya bahwa AS dan Iran, yang tidak memiliki konflik kepentingan mendasar, memiliki ruang kompromi yang cukup, selama AS tidak membawa tuntutan pihak ketiga ke dalam negosiasi dengan Iran. Saya yakin China akan memanfaatkan kunjungan Presiden Trump ke Beijing untuk membantu mendekatkan AS dan Iran.

Presiden Trump mengumumkan Project Freedom—operasi militer AS untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz—dan menangguhkannya dalam 24 jam, tepat pada hari Araghchi bertemu Wang Yi di Beijing. Ini mengikuti pola pernyataan besar AS yang cepat dibalik: prediksi “perang empat minggu”, pengumuman “kemenangan total” yang prematur. Apa yang diungkap pola ini tentang posisi strategis Washington yang sebenarnya dalam konflik ini? Dan apa alasan utama di balik mundurnya Trump dari operasi di Selat Hormuz?

Alasan utamanya adalah bahwa prospek menyelesaikan krisis Selat Hormuz melalui cara militer tidak jelas bagi AS. Dengan komunitas internasional, termasuk di dalam AS sendiri, yang umumnya berharap de-eskalasi cepat di Teluk Persia, serta adanya pertemuan dengan pemimpin China yang semakin dekat, Presiden Trump terpaksa membuat sejumlah kompromi. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan menang melalui intimidasi telah gagal.

Jika diplomasi terus menemui jalan buntu, apa skenario realistis bagi situasi di kawasan, khususnya Iran?

Saya sepenuhnya mendukung penyelesaian masalah melalui diplomasi dan mengakhiri perang secepat mungkin. Melanjutkan perang jelas akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkan Iran.

Jika diplomasi gagal, meskipun semua pihak akan terus menderita, Iran tanpa diragukan akan menjadi korban terbesar. Kondisi normal sebuah negara seharusnya adalah pembangunan yang sehat, bukan konflik berkepanjangan.

Beberapa analis berpendapat bahwa perang ini telah mengubah secara permanen arsitektur keamanan kawasan Timur Tengah. Apakah Anda setuju—dan jika ya, siapa yang menjadi pemenang strategis ketika konflik berakhir?

Saya setuju bahwa perang ini akan berdampak signifikan terhadap lanskap keamanan Timur Tengah, khususnya Teluk Persia. Iran akan mengakhiri penurunan strategis yang disebabkan oleh perang regional yang berkelanjutan sejak 7 Oktober 2023. UEA, yang sangat bergantung pada AS dan Israel, akan menghadapi dilema keamanan kawasan. Secara keseluruhan, otonomi strategis kawasan akan semakin meningkat.

Bagi Iran, persoalan inti bukanlah faktor eksternal. Selama kebijakan dalam negerinya tepat, Iran pasti bisa menjadi negara yang kuat. Jika Iran tetap tidak melakukan reformasi besar setelah perang ini, saya akan merasakan kekecewaan yang sama seperti rakyat Iran. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA