BERITAALTERNATIF.COM – Agresi terhadap wilayah Iran pada masa jabatan kedua Donald Trump tidak dapat semata-mata dipandang sebagai konfrontasi militer antara Washington dan Teheran; perang agresif ini berubah menjadi ujian untuk mengukur batas kekuatan Amerika Serikat.
Setelah Washington memperkuat anggapan bahwa dirinya dapat mengubah struktur politik negara-negara dengan mengandalkan kekuatan militer melalui penculikan Nicolás Maduro di Venezuela, agresi terhadap Iran menghadirkan ujian yang lebih besar terhadap perhitungan tersebut.
Perlawanan Iran, keberlanjutan kemampuan untuk memberikan respons, meningkatnya biaya militer Amerika, serta ketidakmampuan Washington mengubah serangan militer menjadi hasil politik yang diinginkan, mengungkap kesenjangan yang melampaui sekadar kemenangan atau kekalahan di medan perang; yaitu kesenjangan antara kekuatan militer Amerika dan kemampuannya untuk memaksakan kehendak politik, yang dapat mengguncang fondasi hegemoni negara tersebut dan perhitungan para aktor dalam sistem internasional.
Ilusi Kekuatan Mutlak
Operasi militer Amerika terhadap Venezuela dan penculikan Maduro pada 3 Januari 2026 harus dipandang sebagai salah satu tanda terpenting dari pendekatan agresif pemerintahan kedua Trump. Pasukan Amerika menyerang wilayah Venezuela, menculik Maduro dan istrinya, lalu memindahkan mereka ke AS; sebuah tindakan yang membawa Washington dari kebijakan tekanan, sanksi, dan ancaman ke tahap intervensi langsung dan penghapusan fisik pucuk kekuasaan suatu negara. Trump juga mengumumkan setelah operasi tersebut bahwa Amerika akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu.
Pentingnya peristiwa ini bagi Iran menjadi semakin jelas ketika Washington dapat menarik kesimpulan dari pengalaman Caracas bahwa dengan melancarkan serangan kilat, menghapus pucuk kekuasaan, dan menciptakan guncangan dalam struktur politik, sebuah negara dapat diarahkan menuju perubahan yang diinginkan Amerika.
Dalam perhitungan seperti itu, Maduro bukan sekadar sebuah target, melainkan menjadi contoh kemampuan baru pemerintahan Trump; kemampuan yang menunjukkan bahwa Washington tidak lagi selalu membatasi diri pada sanksi dan tekanan politik dan, apabila kondisi memungkinkan, dapat secara langsung bertindak untuk mengubah keseimbangan kekuasaan.
Dari perspektif ini, membuat kesamaan antara Caracas dan Teheran mungkin menarik bagi para perancang perang terhadap Iran, tetapi perbandingan tersebut sejak awal menghadapi perbedaan-perbedaan mendasar. Iran, dalam hal luas wilayah, struktur politik dan keamanan, kemampuan rudal dan drone, kedalaman strategis, posisi geografis, serta kapasitas untuk memberikan pengaruh regional, tidak dapat dibandingkan dengan Venezuela.
Oleh karena itu, asumsi bahwa penculikan atau penghapusan beberapa tokoh kunci dapat menciptakan kembali guncangan politik yang terjadi di Venezuela di Iran berarti mengabaikan perbedaan antara kerentanan sebuah pemerintahan dan kerentanan sebuah sistem politik.
Serangan agresif Amerika dengan dukungan rezim Zionis terhadap Iran menunjukkan bahwa pemindahan pola Caracas ke Teheran menghadapi hambatan yang jauh lebih besar. Struktur politik dan keamanan Iran tidak lumpuh setelah serangan dan pembunuhan yang ditargetkan, dan negara tersebut tidak mengalami kekosongan kekuasaan; sebaliknya, proses pengambilan keputusan dan respons militer terus berlanjut.
Masalah inilah yang menjadi kegagalan pertama dalam perhitungan yang menyamakan kekuatan militer Amerika dengan kemampuan untuk menciptakan keruntuhan politik dan menganggap bahwa serangan terhadap pucuk struktur secara otomatis akan menyebabkan seluruh struktur runtuh.
Dari sudut pandang ini, Maduro menjadi titik awal sebuah persepsi dan Iran menjadi titik uji persepsi tersebut; sebuah persepsi yang mengatakan bahwa Washington dapat, dengan mengandalkan kekuatan militer dan intelijennya, secara langsung mengubah pemerintahan negara-negara dan meningkatkan biaya perlawanan sedemikian rupa sehingga pihak lawan tidak memiliki pilihan selain menyerah.
Namun, apa yang terlihat dalam menghadapi Iran adalah kesenjangan antara “kemampuan melaksanakan operasi” dan “kemampuan mengubah perhitungan politik”; kesenjangan yang selama perang berlangsung bukan hanya tidak tertutupi oleh serangan militer, tetapi justru semakin dalam akibat meningkatnya biaya bagi Amerika dan berlanjutnya perlawanan Iran.
Bagaimana Iran Mengacaukan Perhitungan Perang?
Perang terhadap Iran, dalam pandangan Amerika dan sekutu Zionisnya, seharusnya menghapus jarak antara keunggulan militer dan keruntuhan politik. Namun, serangan agresif mereka, bahkan dengan menargetkan pusat-pusat sensitif dan tokoh-tokoh senior, tidak mampu melumpuhkan struktur pengambilan keputusan Iran.
Oleh karena itu, struktur pemerintahan di Iran terus berfungsi, kemampuan memberikan respons militer tetap terjaga, dan Teheran, alih-alih menerima persyaratan Washington, meningkatkan biaya kelanjutan perang bagi pihak lawan. Kenyataan inilah yang menggagalkan asumsi awal bahwa serangan besar merupakan pendahulu keruntuhan.
Dari sudut pandang para pengamat, kegagalan ini bukan hanya bersifat politik, tetapi di tingkat militer pula biaya perang bagi Amerika mencapai titik yang secara langsung memengaruhi kemampuan untuk melanjutkan konflik.
Berdasarkan laporan Reuters pada 5 Agustus, militer Amerika selama perang telah menggunakan hampir seluruh cadangan rudal Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM), serta menggunakan hampir setengah dari cadangan rudal Tomahawk dunia; pada saat yang sama, perkiraan yang dipublikasikan menunjukkan penggunaan sekitar 65 persen pencegat Patriot.
Angka-angka ini, meskipun tidak berarti berakhirnya kemampuan militer Amerika, menunjukkan bahwa kelanjutan perang bagi Washington disertai dengan terkikisnya cadangan strategis secara cepat dan meningkatnya biaya untuk menggantikannya.
Sementara itu, Selat Hormuz menjadi tuas tekanan timbal balik Iran yang paling penting; jalur perairan yang sebelum perang menjadi rute bagi sekitar seperlima minyak dunia tersebut kini, akibat agresi ilegal Amerika, secara praktis menghadapi penghentian tajam lalu lintas kapal, dan upaya Trump untuk membukanya kembali telah menjadi salah satu pokok utama perundingan.
Trump, dalam kelanjutan pernyataan-pernyataannya yang berlebihan, bahkan pada 14 Agustus berbicara mengenai kemungkinan menyatakan Hormuz sebagai “wilayah Amerika”; posisi ini sendiri menunjukkan bahwa persoalan telah berubah dari sebuah operasi militer terhadap Iran menjadi perselisihan mengenai kemampuan Amerika untuk mengembalikan kondisi yang diinginkannya.
Dari perspektif ini, Hormuz bukan sekadar jalur laut, melainkan simbol perubahan arah perhitungan perang. Washington memulai perang dengan anggapan bahwa dengan melancarkan serangan berat, mereka dapat mengubah perilaku Teheran, tetapi kini pembukaan kembali jalur vital ekonomi dunia telah menjadi persoalan yang untuk menyelesaikannya Amerika harus menggunakan tekanan, perundingan, dan mediasi!
Oleh karena itu, titik kegagalan perhitungan Amerika tidak semata-mata harus dicari dari besarnya kerusakan yang ditimbulkan atau jumlah target yang dihancurkan; kegagalan utama terjadi ketika daya tembak tidak mampu berubah menjadi kekuatan untuk memaksakan kehendak. Iran tidak hanya melewati keruntuhan yang diharapkan, tetapi dengan mempertahankan kemampuan memberikan respons dan menciptakan biaya militer, ekonomi, serta geopolitik bagi Amerika, mengubah perang dari serangan sepihak menjadi sebuah persamaan yang membuat Washington terpaksa berunding untuk mengakhirinya. Pergeseran inilah yang secara bersamaan telah menargetkan dasar material dan psikologis hegemoni Amerika.
Runtuhnya Hegemoni yang Rapuh
Perang terhadap Iran tidak membatasi dampaknya pada medan pertempuran, tetapi telah mencapai perhitungan negara-negara yang selama bertahun-tahun mengatur perilaku mereka berdasarkan kekuatan dan ancaman Amerika.
Saat ini, yang berubah bukan hanya penilaian terhadap kemampuan militer Washington, tetapi juga kredibilitas ancaman Amerika; yaitu anggapan bahwa setiap kali Amerika memasuki sebuah konflik, pihak lawan pada akhirnya akan terpaksa menerima tuntutan Amerika. Terkikisnya anggapan ini dapat menjadi lebih penting bagi Washington daripada sebuah kekalahan militer, karena pencegahan, sebelum terbentuk melalui peluncuran rudal, terbentuk melalui keyakinan pihak lawan terhadap konsekuensi dari perlawanan.
Perubahan ini juga memiliki dampak langsung bagi sekutu-sekutu Amerika. Negara-negara Eropa dan pemerintahan di kawasan yang selama beberapa dekade sebagian besar menggantungkan keamanan mereka pada kehadiran dan jaminan Washington, kini menghadapi pertanyaan: jika Amerika dalam konfrontasi berskala luas tidak mampu dengan cepat memaksakan hasil yang diinginkannya, dan pada saat yang sama menghadapi terkikisnya persediaan persenjataan serta meningkatnya biaya perang, sejauh mana jaminan Amerika dapat diandalkan untuk menghadapi krisis-krisis di masa depan?
Dalam kondisi seperti ini, diversifikasi hubungan keamanan dan penguatan kapasitas independen dapat berubah dari sebuah pilihan politik menjadi kebutuhan strategis. China dan Rusia juga dapat menggunakan pengalaman ini untuk meninjau kembali perhitungan mengenai kemampuan intervensi Amerika dan biaya perang yang berkepanjangan; di Asia Barat, pemerintahan-pemerintahan yang sebelumnya menganggap kehadiran militer Amerika sebagai jaminan utama keamanan mereka akan memiliki dorongan lebih besar untuk secara bersamaan memperluas hubungan dengan kekuatan-kekuatan Timur.
Selat Hormuz menunjukkan perubahan perhitungan ini secara lebih nyata. Ketergantungan ekonomi dunia terhadap jalur ini dan ketidakmampuan Amerika untuk dengan cepat mengembalikan kondisi sebelum perang menunjukkan biaya yang harus dibayar Washington untuk mengelola konsekuensi konfrontasi langsung.
Gangguan terhadap ekspor energi, meningkatnya biaya transportasi, tekanan terhadap pasar-pasar dunia, dan penggunaan cadangan persenjataan Amerika menunjukkan bahwa perang terhadap Iran tidak hanya menimbulkan biaya bagi Teheran, tetapi juga mentransfer biaya unjuk kekuatan Washington kepada ekonomi dan keamanan sekutu-sekutunya; persoalan inilah yang membuat perhitungan negara-negara mengenai ketergantungan pada Amerika menjadi semakin kompleks.
Pada akhirnya, apa yang kini dihadapkan kepada dunia bukanlah gambaran Amerika yang tidak berdaya, melainkan gambaran Amerika yang batas kekuatannya menjadi semakin jelas; sebuah kekuatan yang dapat menyerang, tetapi tidak lagi dapat semata-mata dengan mengandalkan citra dirinya yang tak terkalahkan menganggap hasil perang telah ditentukan sebelumnya.
Jika sebelumnya banyak negara memulai perhitungan mereka dengan pertanyaan, “Apa yang diinginkan Amerika?”, pengalaman Iran telah mengubah pertanyaan tersebut menjadi “Sejauh mana Amerika dapat melangkah untuk mencapai keinginannya dan biaya apa yang harus dibayarnya?” Perubahan pertanyaan inilah yang menjadi tanda runtuhnya sebuah hegemoni yang selama bertahun-tahun berdiri di atas ketakutan terhadap hegemoni Amerika dan keyakinan akan ketakterkalahkannya. (*)
Sumber: Mehr News











