BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah, Ismail Amin Pasannai, menilai perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah menyingkap sejumlah fakta penting mengenai peta geopolitik Timur Tengah. Menurutnya, terdapat sedikitnya tujuh pelajaran utama yang dapat dipetik dari konflik tersebut.
Pertama, Ismail menyatakan perang Iran melawan AS-Israel meruntuhkan secara faktual slogan yang selama ini menyebut “Zionis dan Syiah bersatu menghantam Islam”.
Dia berpendapat, realitas di lapangan justru menunjukkan Iran berhadapan secara langsung dengan AS dan Israel.
Sementara itu, sejumlah negara Arab di kawasan Teluk bergabung dalam arsitektur keamanan Amerika-Israel dan ikut terdampak akibat menjadi lokasi pangkalan militer AS.
“AS yang berbuat, mereka yang dipaksa turut menanggung akibatnya,” tulisnya di akun Facebooknya sebagaimana dikutip media ini pada Jumat (3/7/2026).
Kedua, Ismail menilai perang tersebut memperlihatkan kegagalan AS dalam menjaga keamanan negara-negara Teluk.
Dia mengatakan tujuan keberadaan pangkalan militer AS di kawasan Teluk selama ini diklaim untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan. Namun, justru kehadiran pangkalan-pangkalan tersebut membuat wilayah negara-negara Teluk ikut menjadi arena konflik.
“Kondisi ini menunjukkan dilema besar. AS hadir sebagai ‘pelindung’, tetapi keberadaannya justru mengundang serangan balasan. Pangkalan militer AS bahkan dilindungi oleh sistem pertahanan yang dibiayai mahal oleh negara-negara Teluk,” katanya.
Ketiga, ia menilai perang tersebut juga menyingkap kontradiksi dalam kampanye anti-Iran.
Menurutnya, selama ini sebagian narasi sektarian menyebut Iran sebagai ancaman utama bagi umat Islam. Namun ketika AS dan Israel menyerang Iran, terlihat bahwa pusat konflik yang sesungguhnya adalah persoalan hegemoni kawasan dan eksistensi Israel yang dipertahankan oleh koalisi AS, bukan persoalan Sunni dan Syiah.
Keempat, Ismail berpendapat narasi anti-Iran yang banyak berakar pada pola pikir takfiri-Salafi ekstrem lebih sering melemahkan solidaritas umat Islam dibanding menghadapi Zionisme.
“Menjadikan Iran sebagai musuh utama sambil membisu terhadap agresi AS-Israel adalah kegagalan membaca peta geopolitik. Propaganda anti-Iran jelas menguntungkan Zionisme. Sementara akar masalah ketidakstabilan kawasan adalah berdirinya negara haram Israel,” ujarnya.
Kelima, dia mengatakan perang tersebut membuktikan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel tidak secara otomatis memberikan jaminan keamanan.
Ia menyebut negara-negara Teluk tetap terkena dampak ketika perang besar pecah karena kedekatan mereka dengan AS dan Israel membuat mereka ikut masuk dalam kalkulasi militer Iran.
Keenam, Ismail menilai konflik tersebut memperlihatkan bahwa kemandirian nasional dan penolakan terhadap hegemoni lebih mampu menjaga martabat sebuah negara.
Sebaliknya, menurut dia, ketundukan dan kerja sama dengan AS hanya melahirkan kehinaan.
“Iran mampu menunjukkan bahwa pertahanan nasional dapat dibangun melalui kemandirian tanpa harus menggantungkan keamanan kepada pihak asing,” katanya.
Ketujuh, Ismail menyebut perang tersebut menyingkap satu kenyataan penting bahwa musuh utama umat Islam bukanlah perbedaan mazhab, melainkan sistem hegemoni yang menjadikan negeri-negeri Muslim sebagai pangkalan militer, pasar senjata, dan medan perang proksi.
Menurutnya, Iran dapat dikritik, namun realitas perang menunjukkan bahwa dalam konfrontasi langsung melawan AS dan Israel, Iran berada di garis depan. Sementara itu, sebagian negara Arab justru masih berada dalam bayang-bayang perlindungan Amerika.
Ia juga menilai Iran lebih mampu menghadirkan keteguhan Islam, penolakan terhadap thagut, serta sikap hanya bergantung kepada Allah dibanding negara-negara Teluk yang, menurutnya, memilih berkoalisi dengan thagut, menggantungkan keamanan kepada perlindungan Amerika, dan membuat nama Islam tampak hina di hadapan publik global.
Menutup pernyataannya, Ismail mengatakan bahwa seluruh fakta tersebut telah disingkap oleh perang Iran melawan AS dan Israel.
“Dan hanya orang-orang yang buta mata (hatinya) yang tidak melihat semua yang tersingkap oleh perang ini,” tutupnya. (*)
Editor: Ufqil Mubin












