Search

Mengapa Trump Tidak akan Mampu Menghancurkan Kuba?

Meskipun Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan dan memperketat blokade terhadap Kuba, tradisi perlawanan negara itu, organisasi sosial yang kuat, serta puluhan tahun persiapan menghadapi intervensi asing membuat pergantian rezim maupun penaklukan militer sangat kecil kemungkinannya terjadi. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Donald Trump telah memperketat blokade Amerika Serikat terhadap Kuba yang telah berlangsung selama enam dekade (blokade itu tidak pernah sekadar merupakan sebuah “embargo”) dan mengancam akan mengambil alih negara kepulauan kecil tersebut. Namun, sebagaimana akan dijelaskan dalam artikel ini, ia akan gagal.

Trump mungkin sedang mencari sasaran penaklukan baru setelah keberhasilannya yang tampak di Venezuela diikuti oleh kekalahan telak di Iran. Metode yang digunakan di Venezuela tampaknya menjadi pilihan terbaik baginya. Namun, sebagaimana akan saya jelaskan, kondisi di Kuba tidak mendukung Trump untuk menggunakan “opsi” tersebut, meskipun negara itu berada dalam situasi pengepungan yang menyerupai Gaza.

Kondisi di Kuba sangat berat. Saya berada di sana pada Mei 2026 dan menyaksikan secara langsung betapa dalamnya penderitaan yang dialami masyarakat. Ketika pasokan bahan bakar dari kapal Rusia Anatoly Kolodkin, yang tiba di Kuba pada Maret, habis, hampir tidak ada lagi transportasi umum, bahkan di ibu kota Havana. Ada beberapa faktor yang sedikit meringankan keadaan, yang akan saya jelaskan kemudian, tetapi sebagian besar angkutan bus dan truk telah berhenti beroperasi.

Kekurangan bahan bakar menyebabkan kesulitan besar dalam mengangkut bahan pangan, pemadaman listrik rutin di sejumlah wilayah, serta berhentinya pompa-pompa air. Berbagai kebutuhan pokok mengalami kelangkaan, kasus kekurangan gizi semakin meningkat, dan selama pemadaman listrik terjadi kematian pada pasien yang bergantung pada peralatan penunjang kehidupan di rumah sakit.

Pengiriman bantuan pangan dan obat-obatan dari Tiongkok, Rusia, Meksiko, dan beberapa negara Amerika Latin lainnya sangat membantu. Namun, blokade terhadap pasokan bahan bakar tetap menjadi faktor yang paling melumpuhkan.

Rakyat Kuba telah mengalami berbagai tingkat pengepungan selama puluhan tahun. Kelangkaan yang terjadi saat ini sama parahnya dengan yang dialami pada dekade 1990-an, ketika runtuhnya perdagangan dengan bekas Uni Soviet menyebabkan kontraksi ekonomi dan depresi selama beberapa tahun.

Saat itu banyak pihak memperkirakan Kuba akan runtuh. Namun sistem yang ada tetap bertahan dan kemudian memperkenalkan berbagai reformasi, seperti membuka sektor pariwisata, memberikan izin bagi berbagai usaha kecil, serta mengizinkan investasi asing dalam bentuk usaha patungan.

Saat ini, wisatawan yang datang ke Kuba sebagian besar adalah warga Kuba-Amerika yang mengunjungi keluarga mereka. Karena tidak ada pengisian bahan bakar bagi pesawat jarak jauh, penerbangan internasional menuju Kuba menjadi sangat sedikit.

Meski demikian, sekelompok yang terdiri atas 15 mantan pejabat intelijen AS telah memperingatkan pemerintahan Trump bahwa, “orang-orang yang mampu membuat mobil Chevrolet keluaran 1957 tetap berjalan hanya dengan menggunakan gantungan baju akan menimbulkan kekacauan besar terhadap rezim yang dipaksakan oleh kekuatan asing.”

Seperti Iran, meskipun dengan cara yang berbeda, Kuba telah menghabiskan puluhan tahun untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan invasi baru, setelah berhasil menggagalkan upaya invasi Presiden John F. Kennedy di Teluk Babi (Bay of Pigs) pada April 1961.

Analis militer Rusia, Dmitry Kornev, menjelaskan bahwa Trump memiliki tiga kemungkinan jalur serangan militer: Operasi terbatas yang bersifat presisi, seperti kudeta di Venezuela pada Januari 2026; kampanye udara berskala penuh, dan blokade laut dan pencekikan ekonomi.

Pilihan ketiga sebenarnya sudah berlangsung saat ini. Pilihan kedua dinilai “tidak menarik” karena kemungkinan akan memicu “reaksi keras dunia internasional”, dan fakta bahwa pengeboman udara semata tidak pernah berhasil menghasilkan pergantian rezim yang dikendalikan oleh kekuatan asing.

Selain itu, sejarah panjang perlawanan rakyat Kuba akan menjadi hambatan besar, sebagaimana dikemukakan sosiolog Anibal Garzon:

“Jika Amerika Serikat menginvasi Kuba, pulau itu mungkin tidak memiliki tentara terbaik, teknologi terbaik, ataupun persenjataan terbaik. Namun Kuba memiliki rakyat yang memiliki keberanian luar biasa untuk melawan kekaisaran yang telah mengepung dan memblokadenya selama puluhan tahun.”

Berdasarkan pengamatan selama beberapa tahun terakhir, pilihan-pilihan intervensi Trump tampaknya didorong sekaligus dibatasi oleh empat faktor.

Pertama, ia ingin menampilkan citra sebagai seorang pemimpin yang mampu memaksakan kehendaknya melalui ancaman, gertakan, dan citra dirinya sebagai pembuat “kesepakatan” yang ulung.

Kedua, pada saat yang sama ia sangat menghindari kerugian. Ia ingin memaksakan kehendaknya tanpa menghadapi risiko kekalahan besar atau kehilangan banyak tentara Amerika—korban yang tidak mungkin dapat disembunyikan.

Ketiga, ia bergantung pada dukungan kelompok-kelompok penting dalam deep state AS, seperti kalangan Zionis atau Miami Mafia, untuk mendukung berbagai petualangan militernya.

Keempat, ia tertarik pada prospek penjarahan sumber daya, terutama minyak, yang dapat diambil dari negara sasarannya. Dengan gaya khasnya yang vulgar, Trump tidak pernah berusaha menyembunyikan hal tersebut.

Dalam kasus intervensi di Venezuela yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026, taktik “pemenggalan kepemimpinan” (decapitation) serta intimidasi atau pemaksaan tampaknya berhasil, karena para pemimpin Venezuela yang tersisa akhirnya tunduk pada tuntutan Trump.

Meskipun hingga kini kita belum mengetahui seluruh rincian operasi tersebut—karena kedua belah pihak menyampaikan versi yang menguntungkan diri mereka sendiri dan tidak sepenuhnya dapat dipercaya—kita mengetahui bahwa di pihak Venezuela telah terjadi pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip yang kemudian membuat Washington secara efektif mengendalikan industri minyak dan pendapatan keuangan negara itu. Pemerintah baru juga membatalkan komitmen Caracas terhadap Tiongkok (minyak sebagai pembayaran kredit) dan Kuba (pembayaran untuk misi kesehatan Kuba), bahkan menyerahkan mantan tahanan politik Alex Saab. Semua itu mengandaikan adanya tingkat korupsi yang mampu melumpuhkan perlawanan yang telah terorganisasi.

Sejauh ini, Kuba hanya sedikit berbicara mengenai pengkhianatan tersebut karena tiga alasan: Kepemimpinan Venezuela saat ini berusaha menggambarkannya secara lebih positif; Venezuela telah memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung Kuba selama abad ini, dan kuba menunggu munculnya kritik dari dalam Venezuela sendiri.

Kini kritik tersebut telah muncul, misalnya melalui sebuah esai yang ditulis intelektual terkemuka Luis Britto Garcia. Ia menuntut agar seluruh kompromi berbahaya yang dilakukan setelah 3 Januari 2026 diperiksa secara menyeluruh.

Ia menulis: “Mereka bermaksud merampas kedaulatan, kemerdekaan, sumber daya alam, otonomi, hak-hak, masa lalu, masa kini, dan masa depan kita demi kepentingan sebuah kekuatan agresif yang membenci dan merendahkan kita.”

Namun, teman-teman saya di Partai Komunis Kuba merasa sangat terkejut atas runtuhnya tekad politik di Venezuela dan tidak dapat menerima bahwa berbagai kompromi tersebut memang diperlukan, sekalipun tekanan dan intimidasi mematikan yang dihadapi sangat besar.

Komitmen Kuba untuk terus melawan adalah satu hal. Namun, dari sudut pandang Trump, operasi bergaya Venezuela terhadap Kuba mungkin merupakan pilihan yang menarik.

Bahkan, Trump berharap dapat melakukan operasi serupa di Iran setelah menerima informasi dari pihak Israel bahwa hanya diperlukan kampanye pengeboman singkat yang kemudian akan diikuti oleh pemberontakan rakyat.

Yang tidak ia perhitungkan adalah daya tahan dan kekompakan rakyat serta negara Iran, juga investasi besar dan efektif yang telah dilakukan Republik Islam dalam membangun persenjataan perang asimetrisnya.

Setelah meraih keberhasilan di Venezuela namun mengalami kegagalan di Iran, Trump mungkin mencari semacam kompensasi melalui Kuba. Namun, bagaimana perbandingan kondisi keduanya?

Satu hal adalah melihat logika dominasi, tetapi dalam setiap kasus logika tersebut harus diseimbangkan dengan logika perlawanan.

Di Iran, logika perlawanan terbukti lebih unggul.

Selain itu, kekalahan pahit yang dialami di tangan Iran mungkin justru membuat Trump berpikir dua kali sebelum melancarkan agresi baru terhadap Kuba.

Lalu, dengan karakter dan kondisi Kuba seperti sekarang, sejauh mana Trump dapat berharap mengulangi sebuah intervensi yang bergantung pada pembunuhan atau penculikan para pemimpin negara, kemudian memasang rezim yang patuh dengan bantuan para pengkhianat Kuba serta melumpuhkan perlawanan dari dalam?

Selain itu, sejauh mana Kuba, yang telah dilemahkan oleh pengepungan yang sangat kejam, masih mempertahankan kemampuan legendarisnya untuk bertahan dan melawan?

Negara kepulauan kecil ini memang tidak memiliki sumber daya maupun persenjataan seperti Iran, dan kondisi geografisnya juga sangat berbeda. Namun Kuba memiliki sejumlah keunggulan lain, serta kemungkinan yang jauh lebih kecil bahwa para pemimpinnya dapat dibeli.

Perlu diingat bahwa pengepungan selama dua belas tahun yang melumpuhkan Suriah di bawah pemerintahan Bashar al-Assad, dengan sendirinya, tidak menyebabkan runtuhnya negara itu pada akhir tahun 2024.

Selama bertahun-tahun, para prajurit Tentara Arab Suriah (SAA) bertempur melawan milisi teroris sektarian yang didukung AS hanya dengan gaji sekitar lima dolar Amerika per bulan.

Namun, berdasarkan percakapan penulis dengan sejumlah analis Suriah yang berpengalaman, runtuhnya Tentara Arab Suriah—yakni kegagalannya menghadapi ofensif HTS—bukan disebabkan oleh kelelahan para prajurit.

Sebaliknya, penyebab utamanya adalah keberhasilan musuh yang didukung Qatar dan Turki membeli sejumlah besar komandan senior Suriah. Mereka tetap berada di Suriah untuk bekerja sama dengan milisi HTS yang kemudian menang.

Dengan demikian, pengepungan semata tidak menjamin terjadinya “pergantian rezim.”

Kuba tampaknya tidak memiliki kerentanan serupa terhadap praktik pembelian para komandan yang korup. Negara itu juga memiliki sistem intelijen yang sangat mapan, termasuk jaringan sipil, sehingga kemungkinan Havana dikejutkan oleh infiltrasi dan pengkhianatan jauh lebih kecil.

Lebih dari 600 upaya AS untuk membunuh Fidel Castro tidak gagal secara kebetulan.

Sepanjang sejarah panjang berbagai upaya Amerika untuk menggulingkan pemerintahan revolusioner Kuba, badan kontraintelijen Kuba tidak hanya berhasil mendeteksi dan menggagalkan berbagai upaya pembunuhan, tetapi juga berhasil menyusup ke dalam kelompok-kelompok yang dibentuk oleh CIA dan National Endowment for Democracy (NED), bahkan sering kali menduduki posisi-posisi penting di dalam kelompok tersebut.

Hal itu dijelaskan secara rinci dalam dua buku, yaitu The Dissidents (2003) karya Luis Baez dan Rosa Miriam Elizalde, serta The Confessions of Fraile (2003) karya Percy Alvarado Godoy.

Yang lebih penting lagi, organisasi-organisasi massa yang dibangun oleh Revolusi Kuba tetap mempertahankan hubungan yang kuat antara negara dan mobilisasi rakyat.

Organisasi-organisasi seperti Committees for Defence of the Revolution (CDR), Federation of University Students (FEU), Federation of Cuban Women (FMC), konfederasi serikat pekerja Central de Trabajadores de Cuba (CTC), Partai Komunis Kuba, serta lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan, dan penanggulangan bencana, menjamin tersedianya jalur komunikasi dan mobilisasi yang sangat penting apabila menghadapi invasi.

Hal itu juga mencakup jaringan komunikasi radio yang digunakan selama musim badai untuk memberikan informasi dan membantu mengoordinasikan keselamatan masyarakat ketika badai tropis melanda.

Tingkat organisasi dalam keadaan darurat seperti itu diyakini menjadi penjelasan utama mengapa badai topan jarang menimbulkan korban jiwa di Kuba, berbeda dengan banyak wilayah lain di Karibia.

Ketika menyangkut persoalan yang dianggap sangat penting, rakyat Kuba mampu mengorganisasi diri secara sangat efektif.

Hubungan antara pemerintah dan rakyat melalui organisasi-organisasi massa tersebut sangat menentukan dalam menilai sejauh mana Kuba secara keseluruhan akan mengikuti tema-tema kepemimpinan negara—seperti slogan “kematian bagi para penjajah”—serta rencana “perang seluruh rakyat”.

Puluhan tahun mempersiapkan berbagai jebakan bagi pasukan penyerbu dapat membuat biaya invasi menjadi sangat mahal, bahkan bagi pasukan yang memiliki persenjataan paling canggih sekalipun.

Seperti Iran, Kuba telah mempersiapkan strategi pertahanannya selama puluhan tahun.

AS mungkin mampu merebut sebagian wilayah Kuba, tetapi akan menghadapi korban jiwa yang sangat besar akibat perlawanan rakyat.

Dengan alasan yang hampir sama, Trump menghindari segala upaya untuk menginvasi Iran.

Lalu bagaimana dengan berbagai faktor yang membantu mengurangi dampak pengepungan saat ini sehingga rakyat Kuba tetap mampu bertahan?

Pertama, terdapat budaya beradaptasi dalam menghadapi berbagai kekurangan.

Rakyat Kuba bukanlah masyarakat yang dimanjakan dengan teknologi-teknologi terbaru. Sebagai contoh, mereka telah melatih ribuan dokter—baik warga Kuba maupun dari negara lain—untuk menyelamatkan nyawa melalui kecerdikan manusia, keterampilan, dan perhatian terhadap pasien, tanpa bergantung sepenuhnya pada teknologi.

Dengan kata lain, mereka mengetahui bagaimana cara hidup di tengah berbagai keterbatasan.

Kedua, krisis bahan bakar sampai batas tertentu diimbangi oleh beberapa perkembangan berikut: Kapasitas baru untuk mengolah cadangan minyak berat Kuba—yang lebih sulit diproses dan memerlukan bahan pengencer dalam jumlah besar—termasuk cadangan di ladang minyak lepas pantai di pesisir utara yang baru-baru ini mulai diakses melalui pengeboran dari daratan; perakitan dan integrasi panel surya buatan Tiongkok ke dalam jaringan listrik nasional sebagai bagian penting dari rencana energi berkelanjutan. Program ini mendukung peningkatan penggunaan kendaraan listrik sekaligus memasok listrik tenaga surya ke pusat-pusat kesehatan dan sekolah, serta rencana AS membangun basis politik dari sektor swasta melalui penjualan bahan bakar kepada perusahaan-perusahaan swasta Kuba dan kedutaan-kedutaan asing. Mengingat besarnya kebutuhan sosial yang mendesak, akan sulit mengisolasi distribusi bahan bakar tersebut.

Ketiga, meskipun selama ini Kuba sangat bergantung pada impor bahan bakar dan pangan, krisis yang terjadi sekarang—seperti krisis pada dekade 1990-an—mendorong lahirnya berbagai inisiatif menuju swasembada, terutama ketika aset utama negara yang dapat diperdagangkan, yaitu sumber daya manusia dalam misi kesehatan dan pendidikan, terhambat.

Proyek-proyek pertanian dan energi berkelanjutan yang sebelumnya hanya memperoleh keberhasilan terbatas kini menjadi jauh lebih mendesak untuk dikembangkan.

Keempat, Kuba masih memiliki cadangan besar dukungan dan simpati internasional. Dukungan tersebut mendorong pengiriman bantuan kemanusiaan sekaligus tekanan diplomatik untuk membela sebuah negara kepulauan yang selama ini telah banyak membantu negara-negara lain melalui layanan kesehatan dan pendidikan.

Beberapa negara telah mengirimkan bantuan, dan Presiden Meksiko menyatakan akan berupaya memulihkan kembali pasokan bahan bakar ke Kuba.

Bagi Trump, Kuba tidak menawarkan daya tarik penjarahan yang sebesar Venezuela, yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan sebagian besar dikuasai Washington sepanjang abad ke-20.

Meskipun demikian, sejumlah rekan Trump di Gillon Capital tampaknya sedang mengambil alih perusahaan Kanada Sherritt, yang hingga belum lama ini memiliki kepemilikan besar dalam industri pertambangan dan ekspor nikel Kuba.

Generasi lama para pengasingan Kuba, yang dikenal sebagai “Miami Mafia”, yang sejak lama mendukung pencaplokan Kuba oleh AS, masih menjadi bagian dari deep state Amerika. Namun, pengaruh mereka telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena generasi baru emigran Kuba tetap menjalin hubungan yang lebih baik dengan tanah air mereka, baik secara pribadi maupun politik.

Saat ini, kelompok tersebut tidak lagi seberpengaruh kalangan Israel, yang mendorong Washington melancarkan perang terhadap Iran.

Bagi seorang predator seperti Trump, logika dominasi mungkin memandang Kuba sebagai sebuah hadiah, “buah yang telah matang” yang selama dua abad diincar AS tetapi belum pernah berhasil dipetik oleh presiden Amerika mana pun.

Keberhasilan yang tampak dari operasi di Venezuela memang memberi harapan bagi dilaksanakannya skema serupa terhadap pulau yang tetap bersikeras mempertahankan kemerdekaannya itu.

Trump mungkin sedang mencari kompensasi setelah kegagalannya menghadapi Iran. Dalam setiap langkah terhadap Kuba, terdapat faksi sayap kanan ekstrem Amerika Latin di dalam deep state yang siap mendukungnya, termasuk apabila diperlukan invasi darat, jika tidak muncul kelompok boneka pengkhianat dari dalam Kuba. Namun, kekuatan faksi tersebut tidak lagi sebesar dulu.

Selain itu, kekalahan pahit yang diderita Washington di tangan Iran mungkin membuat Trump menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Ia tentu menyadari bahwa setiap invasi darat ke Kuba akan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Saat ini ia bahkan masih menghadapi tugas yang sulit untuk menjual kepada publik penarikan mundur AS dari Teluk Persia sebagai suatu bentuk kemenangan.

Yang lebih penting, setiap perhitungan berdasarkan logika dominasi juga harus memperhitungkan logika perlawanan, faktor yang sangat diremehkan Washington dalam perang melawan Iran.

Kuba telah membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi pengepungan berkepanjangan dan beradaptasi terhadap kekurangan yang terus-menerus.

Hal itu juga tercermin dalam usulan-usulan reformasi terbaru—yang mengizinkan perluasan signifikan sektor usaha swasta—yang bertujuan mengurangi peluang Washington memperoleh pengaruh politik di tengah masyarakat Kuba sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi.

Peluang untuk menyuap atau membeli para pemimpin Kuba jauh lebih kecil dibandingkan yang terjadi di Venezuela.

Doktrin Kuba mengenai perlawanan rakyat dalam skala besar didukung oleh tingkat organisasi massa, komunikasi, dan koordinasi yang sangat efektif, sebagaimana telah terbukti ketika menghadapi berbagai bencana alam yang berulang.

Ancaman invasi baru—yang telah diperkirakan selama enam dekade terakhir—memberikan kesempatan bagi Kuba untuk mempersiapkan diri dan mengembangkan komitmennya dalam menghadapi setiap pasukan penyerbu.

Mereka mungkin dipaksa menyerahkan sebagian wilayah, tetapi mereka mampu menimbulkan korban yang sangat besar di pihak penyerang.

Sebagian besar rakyat Kuba mengenal kutipan terkenal pejuang kemerdekaan abad ke-19, Antonio Maceo: “Siapa pun yang berusaha menguasai Kuba akan menggigit debu tanahnya yang bermandikan darah, jika ia tidak binasa dalam perjuangan itu.”

Kuba mampu menimbulkan penderitaan yang demikian besar terhadap setiap pasukan invasi sehingga Trump sekali lagi akan dipaksa mundur.

Menurut pendapat saya, setelah merasakan akibat dari kesalahan perhitungannya di Teluk Persia, kemungkinan besar Trump bahkan tidak akan mencoba melakukan tindakan yang begitu gegabah. (*)

Penulis: Tim Anderson
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA