BERITAALTERNATIF.COM – Iran masih berada di pusat perkembangan arsitektur koridor dan logistik di kawasan Eurasia. Menyusul krisis akibat perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, meningkatnya risiko geopolitik, serta upaya mencari jalur baru untuk pengangkutan barang dan energi, negara-negara Asia Tengah terpaksa meninjau kembali rancangan transit tradisional mereka.
Namun, poin utama yang perlu diperhatikan adalah bahwa Koridor Tengah (Middle Corridor) juga memiliki kerentanan mendasar yang menyebabkan jalur-jalur yang melintasi Iran tetap menjadi pilihan yang menarik bagi negara-negara Asia Tengah.
Gangguan transit yang berkaitan dengan perang AS dan Israel terhadap Iran telah memberikan tekanan besar pada rantai pasok regional dan global. Tekanan ini sangat terasa di kawasan Eurasia, di mana gangguan transit masih terus berlanjut bahkan setelah guncangan awal perang mulai mereda. Perubahan jalur transit dalam rantai pasok negara-negara Eurasia, khususnya arus pengiriman barang antara Eropa dan China, merupakan hasil dari kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran komersial. Akibatnya, redistribusi arus logistik telah menjadi salah satu isu utama dalam kebijakan regional lima negara Asia Tengah.
Merancang Jalur Alternatif bagi Koridor Utara–Selatan
Meningkatnya sanksi terhadap Teheran, adanya titik-titik rawan konflik di Selat Hormuz, serta semakin sulit diprediksinya kondisi penyediaan layanan di kawasan tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap arus transit Eurasia. Selama bertahun-tahun, Iran berperan sebagai negara utama dalam Koridor Transportasi Internasional Utara–Selatan sepanjang 7.200 kilometer yang menghubungkan Rusia, negara-negara Asia Tengah, Republik Azerbaijan, dan Eropa melalui jaringan kereta api, jalan raya, dan jalur laut yang terintegrasi.
Koridor Utara–Selatan mampu mengurangi waktu pengiriman barang sekitar 35 persen dibandingkan rute tradisional, dengan tujuan mempermudah perdagangan di Eurasia. Namun, gangguan terbaru yang dipicu oleh situasi perang di Teluk Persia telah mengurangi efisiensi koridor tersebut dan, di tengah meningkatnya ketidakstabilan finansial, mendorong redistribusi jalur pengiriman barang. Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan perdagangan kini lebih mengutamakan keandalan rute dan efisiensi biaya daripada bergantung pada satu koridor saja.
Perencanaan untuk mencari alternatif semakin terlihat di negara-negara Asia Tengah. Segitiga transit baru yang melibatkan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan tengah berupaya memperkuat hubungan dengan Laut Kaspia serta memperluas jaringan kereta api darat melalui Kazakhstan untuk menghubungkan wilayah Xinjiang di China dengan Eropa.
Konfigurasi ini memiliki sejumlah keunggulan struktural, antara lain mengurangi ketergantungan terhadap kondisi yang tidak stabil di Asia Barat, disertai investasi dalam digitalisasi mekanisme kepabeanan dan perbatasan, elektrifikasi jalur kereta api, serta penyederhanaan prosedur bea cukai. Keunggulan-keunggulan ini sangat kontras dengan jalur-jalur yang keandalannya melemah akibat guncangan geopolitik baru-baru ini.
Perubahan tersebut juga perlu dilihat dalam konteks sistem logistik Eurasia secara keseluruhan. Koridor Tengah atau Trans-Kaspia, dengan panjang sekitar 6.500 hingga 7.000 kilometer, menghubungkan wilayah barat laut China dengan Eropa melalui Turki, Georgia, Republik Azerbaijan, Kazakhstan, dan Laut Kaspia. Koridor ini semakin memperoleh arti strategis sebagai alternatif bagi jalur-jalur yang dianggap lebih berisiko melalui Iran dan Rusia.
Volume transit di Koridor Tengah meningkat tajam sepanjang periode 2022 hingga 2026. Waktu pengiriman barang melalui jalur kereta api antara China dan Eropa kini menjadi sekitar 15 hingga 20 hari, dibandingkan 35 hingga 40 hari pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pengiriman yang tidak melewati koridor ini tetap rentan terhadap gangguan geopolitik. Kenaikan biaya asuransi pada jalur-jalur yang berdekatan dengan Teluk Persia juga menjadikan investasi di pelabuhan darat alternatif di negara-negara seperti Uzbekistan sebagai pilihan yang menarik.
Perubahan ini berlangsung secara bertahap tanpa adanya kesepakatan regional resmi di antara negara-negara Asia Tengah. Penguatan Koridor Tengah semakin banyak didasarkan pada perhitungan risiko yang dilakukan perusahaan-perusahaan logistik yang berusaha mengurangi ketergantungan pada jalur tradisional, termasuk Koridor Utara–Selatan, serta memperbanyak pilihan cadangan.
Hal ini menciptakan dinamika baru bagi para aktor utama, termasuk China yang sangat bergantung pada pengiriman energi melalui Selat Hormuz, dan Eropa yang berupaya mengurangi dampak gangguan akibat perang Rusia-Ukraina.
Tantangan Koridor Tengah
Redistribusi jalur koridor ini juga memiliki dimensi lain yang sering diabaikan. Yang paling penting adalah persoalan ketahanan Koridor Tengah. Jalur baru ini merupakan rute gabungan yang tidak sepenuhnya melewati daratan dan memiliki titik sempit (bottleneck), yaitu Laut Kaspia.
Permukaan air Laut Kaspia telah mencapai titik terendah dalam beberapa abad terakhir dan sejak pertengahan dekade 1990-an telah turun sekitar dua meter. Berbagai pejabat dari negara-negara pesisir melaporkan bahwa karena kapal tidak lagi dapat mengangkut muatan sebesar sebelumnya akibat kedalaman air yang berkurang, volume muatan kapal dalam satu tahun saja menurun sekitar seperlima.
Biaya pengerukan laut juga meningkat, sementara sebagian pelabuhan di pesisir Laut Kaspia mulai kehilangan kapasitas bongkar muatnya. Meskipun berbagai negara telah mengoptimalkan jaringan kereta api dan berupaya meningkatkan armada kapal dagang yang terbatas di laut tersebut, kapasitas angkut yang kecil justru menjadi faktor pembatas utama Koridor Tengah. Keterbatasan ini akan semakin memburuk seiring terus menyusutnya Laut Kaspia.
Apabila ketahanan sebuah koridor utama bergantung pada laut yang terus mengering, maka kerentanannya tetap tidak akan terselesaikan. Dalam kondisi seperti ini, Koridor Tengah tidak akan mampu bersaing secara berkelanjutan dengan Koridor Utara–Selatan milik Iran.
Masalah lain yang menghambat peningkatan posisi Koridor Tengah adalah bahwa muatan yang melintasi Asia Tengah dan Kaukasus Selatan kini diawasi secara ketat akibat tekanan AS dan Eropa terhadap negara-negara di kawasan tersebut.
Tujuan pengawasan yang semakin ketat ini adalah memastikan kepatuhan terhadap sanksi, terutama terhadap Rusia, serta mencegah ekspor ulang produk-produk Rusia melalui negara-negara yang berada di sepanjang jalur tersebut. Akibatnya, biaya tambahan berupa premi asuransi dan layanan perbankan tetap dibebankan kepada pengiriman barang, bahkan pada jalur yang di atas peta tampak lebih aman.
Masih ada tantangan mendasar lainnya yang belum terpecahkan sekalipun masalah sebelumnya dapat diatasi. Koridor Tengah memang menyelesaikan persoalan konektivitas timur–barat bagi China dan Eropa, tetapi tidak memberikan akses bagi Asia Tengah menuju Samudra Hindia.
Akses tersebut hingga kini hanya dapat diperoleh melalui Iran dan Afghanistan melalui Koridor Utara–Selatan. Oleh karena itu, masa depan jalur transit yang dapat diandalkan masih bergantung pada perkembangan situasi di Afghanistan.
Apabila konflik di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman terus berlanjut, negara-negara Asia Tengah akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam mencari solusi atas persoalan koridor mereka. Mereka tidak memiliki pilihan selain meningkatkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi, dan peningkatan kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah situasi yang penuh gejolak saat ini.
Apa yang Harus Dilakukan Iran?
Berdasarkan uraian di atas, persoalan utama dalam meningkatkan daya tarik dan kepercayaan terhadap Koridor Utara–Selatan bukan hanya perang yang baru saja terjadi. Iran juga harus meningkatkan keandalan dan efisiensi biaya penggunaan koridor tersebut, terutama karena risiko geopolitik di sekitarnya semakin meningkat. Negara-negara Asia Tengah berupaya melakukan diversifikasi jalur transit agar tidak bergantung pada satu rute saja.
Agar Iran dapat memperoleh kepercayaan negara-negara tersebut dan mendorong mereka tetap menggunakan Koridor Utara–Selatan, Iran perlu menerapkan strategi empat pilar yang melampaui diplomasi tradisional.
Pertama, menjamin keamanan fisik melalui “Doktrin Netralitas Logistik Positif”. Negara-negara Asia Tengah khawatir Koridor Utara–Selatan akan berubah menjadi medan perang. Iran perlu mengumumkan pembentukan “zona logistik aman” di sepanjang jalur menuju Asia Tengah. Alih-alih hanya berfokus pada pelabuhan-pelabuhan di selatan yang rentan terhadap ketegangan di Teluk Persia, Iran perlu mengaktifkan jalur-jalur gabungan yang melewati kawasan Laut Oman yang relatif lebih aman.
Penyelenggaraan latihan bersama untuk melindungi konvoi dagang dengan negara-negara Asia Tengah serta penegasan bahwa jalur logistik dipisahkan dari sasaran militer juga merupakan bentuk jaminan nyata. Iran harus membuktikan bahwa Koridor Utara–Selatan di wilayahnya dilindungi oleh sistem keamanan yang kuat dan tidak akan berubah menjadi sasaran konflik.
Kedua, mengurangi risiko keuangan dan sanksi. Kekhawatiran terhadap meningkatnya biaya asuransi dan layanan perbankan merupakan tantangan serius lainnya. Iran dapat membentuk “Dana Jaminan Risiko Transit” bersama negara-negara pengguna Koridor Utara–Selatan.
Dana ini dapat menanggung kerugian akibat keterlambatan pengiriman atau dampak sanksi Barat dalam jangka waktu tertentu sehingga mengurangi kekhawatiran perusahaan transportasi Asia Tengah.
Selain itu, pengurangan penggunaan dolar AS dan euro serta penerapan perjanjian mata uang bilateral menggunakan mata uang nasional seperti rial, somoni, dan tenge juga dapat menekan biaya transaksi.
Ketiga, menjembatani Koridor Tengah dan Koridor Utara–Selatan, bukan bersaing. Iran tidak seharusnya hanya menjadi pesaing Koridor Tengah, tetapi dapat memposisikan diri sebagai pelengkap di bagian selatan. Iran dapat menawarkan agar barang-barang yang tiba di Laut Kaspia melalui Koridor Tengah diteruskan menggunakan jaringan kereta api Iran, alih-alih bergantung pada armada kapal yang terbatas dan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Laut Kaspia yang kapasitasnya terus menurun akibat penyusutan laut tersebut.
Selain itu, pembentukan sistem kepabeanan elektronik terpadu antara Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan untuk mengurangi waktu tunggu barang juga menjadi langkah penting. Iran harus sepenuhnya mendigitalisasi prosedur perbatasannya agar dapat menutup kesenjangan waktu dengan Koridor Tengah.
Keempat, berperan sebagai mediator di antara para pesaing. Iran dapat menjadi tuan rumah “Konferensi Keamanan Transit” yang dihadiri lima negara Asia Tengah, Rusia, India, dan China. Dalam forum tersebut Iran seharusnya tampil bukan sebagai salah satu pihak dalam krisis, melainkan sebagai pengelola krisis dan penjamin stabilitas jalur selatan. Kesediaan memainkan peran sebagai mediator serta memberikan jaminan multilateral dapat mengurangi risiko politik yang melekat pada keterhubungan koridor melalui Iran.
Secara keseluruhan, kunci untuk meyakinkan negara-negara Asia Tengah agar terus menggunakan Koridor Utara–Selatan bukanlah dengan menyangkal risiko yang muncul akibat perang terhadap Iran. Solusinya adalah mengelola risiko tersebut secara transparan melalui instrumen keuangan baru, integrasi digital, dan penekanan pada keunggulan unik Iran, yaitu akses menuju Samudra Hindia.
Iran harus mampu menunjukkan bahwa biaya asuransi dan keterlambatan yang relatif kecil pada jalur melalui Iran dalam jangka panjang akan lebih rendah dibandingkan biaya yang ditimbulkan oleh penyusutan Laut Kaspia dan pergantian moda transportasi pada koridor gabungan pesaingnya. (*)
Penulis: Ehsan Movahedian
Sumber: Mehr News












