Oleh: Riyawan*
Pernah enggak, baru pulang kerja, badan capek, kepala penuh masalah, lalu anak malah bikin rumah berantakan? Tanpa sadar, keluar kalimat seperti, “Kamu ini kok malas banget sih!”, “Jangan kayak adikmu, bisanya bikin susah,” atau bahkan, “Kalau begini terus, kamu mau jadi apa?”
Beberapa menit kemudian mungkin kita sudah lupa pernah mengucapkannya. Tapi anak belum tentu lupa. Bagi orang tua, kalimat tersebut mungkin cuma luapan emosi sesaat. Namun bagi anak, terutama yang masih kecil, ucapan orang tua bisa terasa jauh lebih besar. Mereka belum selalu punya kemampuan untuk membedakan mana perkataan yang muncul karena orang tua sedang lelah dan mana yang benar-benar menggambarkan dirinya.
Anak bisa saja kemudian berpikir, “Berarti aku memang malas.” Atau, “Aku memang enggak sepintar kakak.”
Di sinilah persoalannya menjadi serius. Cara orang tua berbicara kepada anak bukan hanya menentukan suasana rumah hari ini, tetapi ikut membentuk cara anak melihat dirinya sendiri di masa depan.
Dalam Islam, pentingnya menjaga ucapan bahkan sudah lama mendapat perhatian. Dalam QS. An-Nisa ayat 9, Allah mengingatkan agar manusia tidak meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah dan mendorong orang beriman untuk bertakwa serta mengucapkan qaulan sadida, yaitu perkataan yang benar dan tepat.
Kalau dipikir-pikir, pesannya sangat relevan dengan kehidupan keluarga hari ini. Membangun generasi kuat ternyata bukan cuma tentang memberikan pendidikan mahal, makanan bergizi, atau fasilitas terbaik. Kata-kata yang setiap hari keluar dari mulut orang tua juga ikut menjadi “makanan” bagi mental anak.
Anak Menyimpan Semua Ucapan
Ada alasan kenapa anak sering tiba-tiba mengucapkan kalimat yang persis seperti perkataan orang tuanya. Kita mungkin pernah tertawa ketika mendengar anak bermain dengan boneka sambil berkata, “Jangan nakal! Mama capek!” Padahal beberapa hari sebelumnya, kalimat serupa pernah kita ucapkan kepadanya.
Di situlah kita sadar, anak adalah peniru yang luar biasa. Mereka bukan hanya memperhatikan apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita mengatakannya. Nada suara, ekspresi wajah, cara menyelesaikan konflik, bahkan bagaimana kita berbicara tentang orang lain, semuanya bisa menjadi contoh.
Itulah sebabnya nasihat panjang terkadang kalah kuat dibanding teladan sehari-hari. Orang tua bisa berkali-kali mengatakan, “Jangan berbohong.”
Namun jika anak melihat orang tuanya berbohong untuk menghindari sesuatu, anak akan mendapatkan pesan yang membingungkan. Begitu juga ketika kita mengajarkan anak agar tidak membentak, tetapi setiap kali marah justru menggunakan suara keras.
Anak akhirnya belajar bukan dari teori, melainkan dari pola yang mereka lihat berulang-ulang. Hal yang sama berlaku pada ucapan negatif.
Kalimat seperti “kamu bodoh”, “dasar pemalas”, “enggak pernah bisa diandalkan”, atau “kenapa kamu enggak seperti kakak?” mungkin terdengar biasa bagi orang dewasa. Tetapi jika terus diulang, anak dapat mulai menghubungkan kata-kata tersebut dengan identitas dirinya.
Padahal ada perbedaan besar antara mengoreksi perilaku dan memberi label kepada anak. Mengatakan, “Mainannya belum dibereskan, yuk kita rapikan,” berfokus pada perilaku. Sementara mengatakan, “Kamu memang anak malas,” menyerang identitas.
Perilaku masih bisa berubah. Tetapi label yang terus-menerus didengar bisa membuat anak percaya bahwa dirinya memang seperti itu. Tidak heran jika seorang anak yang sering dibandingkan akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang selalu merasa kurang. Nilai bagus masih merasa belum cukup. Mendapat pujian pun tetap mencari validasi. Bahkan ketika berhasil, dia bisa berpikir, “Aku benar-benar hebat atau cuma kebetulan?”
Di sinilah komunikasi orang tua dan anak menjadi sangat penting. Rumah seharusnya menjadi tempat pertama anak belajar bahwa dirinya berharga, bahwa kesalahan bisa diperbaiki, dan bahwa kegagalan tidak otomatis membuat dirinya menjadi manusia yang buruk.
Bukan berarti orang tua tidak boleh marah atau menegur. Tentu boleh. Yang perlu diubah adalah cara menyampaikannya. Anak tetap membutuhkan batasan. Mereka tetap perlu belajar disiplin dan memahami konsekuensi. Tetapi semuanya bisa dilakukan tanpa menghancurkan harga diri mereka.
Membentuk Anak dalam Kandungan hingga Remaja
Pengaruh lingkungan keluarga bahkan mulai menjadi perhatian sejak masa kehamilan. Bayi dalam kandungan memang belum memahami arti setiap kalimat seperti anak yang sudah lahir. Namun perkembangan janin dipengaruhi oleh berbagai kondisi biologis dan lingkungan ibu, termasuk stres yang berkepanjangan. Karena itu, menciptakan suasana kehamilan yang lebih tenang tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesejahteraan ibu dan perkembangan anak.
Bukan berarti ibu hamil harus selalu bahagia, tidak boleh menangis, atau tidak boleh mengalami stres sama sekali. Itu justru bisa membuat ibu semakin terbebani.
Yang lebih realistis adalah menciptakan lingkungan yang suportif dan mengurangi konflik berat yang terus-menerus jika memungkinkan. Ayah juga punya peran besar.
Bayangkan seorang ibu sedang hamil, tubuhnya mudah lelah, emosinya berubah, lalu setiap hari harus menghadapi pertengkaran dan kata-kata kasar di rumah. Kondisi seperti ini tentu berbeda dengan rumah yang berusaha menciptakan komunikasi tenang dan saling mendukung.
Setelah anak lahir, tantangannya berubah. Anak mulai menyerap suara, ekspresi, kebiasaan, dan respons orang-orang terdekatnya. Semakin besar, lingkungan sosialnya juga semakin luas. Ada sekolah, teman, media sosial, YouTube, game, hingga berbagai konten digital.
Di zaman sekarang, anak bahkan bisa mendengar ratusan gaya komunikasi berbeda dalam satu hari. Lalu bagaimana agar mereka tidak kehilangan arah? Jawabannya bukan dengan mengontrol semua suara dari luar. Itu hampir mustahil.
Yang bisa dilakukan adalah memastikan suara dari rumah tetap menjadi salah satu suara paling kuat dalam hidup mereka. Anak perlu punya standar komunikasi yang sehat sejak rumah. Ketika mereka menemukan komentar kasar di internet, mereka punya bekal untuk memahami bahwa tidak semua ucapan harus ditiru.
Ketika teman mengejeknya, mereka tahu bahwa ejekan tidak otomatis menentukan harga dirinya. Ketika gagal, mereka tidak langsung berpikir bahwa dirinya bodoh. Dan ketika melakukan kesalahan, mereka tahu bahwa kesalahan bisa diperbaiki.
Semua itu tidak terbentuk dalam semalam. Fondasinya dibangun melalui ribuan percakapan kecil yang terjadi setiap hari.
Mulai dari Mengubah Cara Berbicara di Rumah
Lalu, apakah orang tua harus selalu berbicara lembut setiap saat? Tentu tidak sesederhana itu. Orang tua juga manusia. Bisa lelah, kecewa, marah, bahkan kehilangan kesabaran. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola momen tersebut dan memperbaikinya ketika sudah terlanjur salah.
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memberikan jeda sebelum bereaksi. Ketika anak melakukan sesuatu yang membuat emosi naik, jangan buru-buru mengeluarkan kalimat pertama yang muncul di kepala. Tarik napas, diam beberapa detik, lalu tanyakan kepada diri sendiri.
“Kalimat apa yang sebenarnya ingin saya ajarkan kepada anak?”
Jeda tiga sampai lima detik terkadang bisa menyelamatkan kita dari kalimat yang akan disesali.
Kedua, ganti label dengan koreksi perilaku.
Daripada berkata, “Kamu memang pemalas,” coba katakan, “Tugasnya belum dikerjakan. Sekarang kita selesaikan dulu.” Daripada, “Kamu nakal banget,” coba, “Tadi kamu mendorong teman. Itu tidak boleh. Kalau marah, bilang dengan kata-kata.” Pesannya tetap tegas, tetapi anak tidak dibuat merasa bahwa dirinya adalah masalah.
Ketiga, berhenti membandingkan anak. Kalimat “Lihat kakakmu, kok kamu enggak bisa?” mungkin dimaksudkan sebagai motivasi. Sayangnya, efeknya bisa berbeda. Anak justru merasa kasih sayang orang tua bergantung pada pencapaian. Lebih baik bandingkan anak dengan dirinya sendiri.
“Dulu kamu belum bisa, sekarang sudah bisa. Hebat, berarti ada kemajuan.”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak melihat proses, bukan hanya hasil.
Keempat, jangan takut meminta maaf. Kalau ayah atau ibu terlanjur membentak, tidak perlu gengsi mengatakan, “Tadi ayah terlalu marah dan cara bicara ayah salah. Maaf, ya.”
Permintaan maaf tidak membuat orang tua kehilangan wibawa. Justru sebaliknya, anak belajar bahwa orang kuat bukan orang yang tidak pernah salah. Orang kuat adalah orang yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Kelima, jadikan rumah sebagai tempat anak mendapatkan kalimat-kalimat yang menguatkan.
Tidak perlu setiap hari memberikan pidato motivasi. Cukup dengan ucapan sederhana seperti: “Terima kasih sudah membantu.” “Tidak apa-apa gagal, kita coba lagi.” “Ayah tahu kamu sedang berusaha.” “Ibu tetap sayang meskipun kamu melakukan kesalahan.” “Kalau ada masalah, cerita saja.”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar kecil bagi orang tua. Tetapi bagi anak, pengulangan pesan seperti itu dapat menjadi fondasi rasa aman dan kepercayaan dirinya.
Qaulan sadida bukan sekadar konsep yang terdengar indah dalam ayat. Ia bisa diterjemahkan ke dalam hal-hal sederhana di rumah dengan berkata jujur, tidak merendahkan, tidak memfitnah, tidak memberi label sembarangan, menegur tanpa menghancurkan harga diri, dan memilih kata yang tepat ketika emosi sedang tinggi.
Generasi yang kuat tidak selalu lahir dari keluarga yang sempurna. Mereka bisa tumbuh dari keluarga yang mau belajar. Keluarga yang ketika salah, berani meminta maaf. Ketika marah, belajar menahan diri. Ketika anak gagal, memilih mendampingi daripada menghakimi. Dan ketika dunia terlalu berisik, rumah menjadi tempat pertama yang mengatakan, “Kamu aman. Kamu berharga. Kamu boleh gagal, lalu mencoba lagi.”
Mungkin kita tidak bisa mengontrol semua hal yang akan didengar anak ketika mereka tumbuh dewasa. Tetapi kita masih punya kesempatan untuk menentukan suara apa yang paling sering mereka dengar di rumah.
Dan siapa tahu, kalimat sederhana yang kita ucapkan hari ini justru menjadi suara yang mereka ingat bertahun-tahun kemudian ketika menghadapi dunia.
Membangun generasi kuat bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana dengan menjaga mulut kita sendiri ketika berbicara kepada anak. (*Pengamat sosial)










