BERITAALTERNATIF.COM – PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) mulai menunjukkan keseriusannya untuk mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Kutai Kartanegara (Kukar).
BUMD tersebut resmi menyampaikan Letter of Intent (LoI) atau surat pernyataan minat kepada PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Regional 3 Kalimantan guna mengelola sumur tua maupun sumur idle di wilayah Kukar.
Dokumen bernomor 366/MGRM-Dir/6/2026 tertanggal 30 Juni 2026 itu ditujukan kepada Direktur Utama PHI Regional 3 Kalimantan.
Dalam surat tersebut, MGRM meminta kesempatan untuk melakukan audiensi sekaligus memperoleh daftar sumur tua dan sumur idle yang berpotensi dikerjasamakan dengan MGRM, khususnya di wilayah kerja Sanga-Sanga dan Pertamina EP Field Sanga-Sanga.
Surat tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi antara MGRM dengan SKK Migas Perwakilan Kalimantan-Sulawesi pada 22 Juni 2026 mengenai rencana keterlibatan MGRM dalam mengelola sumur tua dan sumur idle pada wilayah kerja Kukar.
Direktur Utama MGRM, Efri Novianto, mengatakan pihaknya telah melakukan pertemuan awal dengan PHI.
Saat ini, ungkap Efri, Pertamina masih melakukan inventarisasi terhadap sumur-sumur yang secara teknis maupun regulasi dapat dikerjasamakan dengan BUMD.
“Kami sudah menyampaikan LoI ke PHI dan sudah melakukan pertemuan awal. Sekarang mereka sedang menginventarisasi sumur tua dan sumur idle yang memungkinkan untuk dikerjasamakan dengan BUMD,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif baru-baru ini.
Kata dia, MGRM ingin memastikan Kukar sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi memperoleh manfaat yang lebih besar dari sumber daya alam yang dimilikinya.
Ia menilai selama ini daerah penghasil masih lebih banyak menjadi lokasi produksi, sementara ruang bagi BUMD untuk ikut mengelola sumber daya migas masih terbatas.
Karena itu, tegas Efri, MGRM ingin mengambil peran langsung dalam kegiatan hulu migas agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat kembali dirasakan daerah.
Apabila kerja sama tersebut terealisasi, MGRM memperkirakan peluang peningkatan pendapatan bagi Kukar cukup besar.
Sebagai ilustrasi, apabila terdapat sekitar 100 sumur tua yang dapat dikelola dan masing-masing menghasilkan rata-rata 10 barel minyak per hari, maka total produksi dapat mencapai sekitar 1.000 barel per hari.
Dengan asumsi produksi berlangsung stabil, jumlah tersebut setara sekitar 30 ribu barel per bulan atau 360 ribu barel dalam setahun.
Jika dihitung berdasarkan asumsi harga minyak dunia berada di kisaran 80 dolar Amerika Serikat per barel, nilai penjualan minyak dapat mencapai 28,8 juta dolar AS atau Rp 475 miliar dalam setahun sebelum dikurangi biaya operasional maupun skema bagi hasil yang berlaku.
Dia menyebut penghitungan tersebut masih berupa gambaran awal. MGRM belum menghitung secara detail besaran keuntungan bersih karena masih menunggu kepastian jumlah sumur yang akan dikerjasamakan, tingkat produksi masing-masing sumur, serta mekanisme bisnis yang akan diterapkan bersama Pertamina.
“Yang jelas secara bisnis sangat menarik. Selain membuka peluang pendapatan baru bagi perusahaan daerah, ini juga menjadi pengalaman penting bagi MGRM untuk mengembangkan bisnis hulu migas,” katanya.
Pengelolaan sumur tua juga dinilai menjadi strategi jangka panjang MGRM untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan PI yang selama ini menjadi salah satu sumber utama penerimaan perusahaan.
Menurutnya, MGRM tidak ingin selamanya mengandalkan PI sebagai sumber pendapatan.
Ia berharap Kukar sebagai salah satu daerah penghasil dapat menjadi pemain inti yang memiliki kegiatan operasional sendiri, baik di sektor hulu maupun hilir.
“Harapannya MGRM bisa menjadi pemain yang lebih besar di bisnis hulu dan hilir migas. Jadi, ke depan tidak lagi hanya bergantung pada pendapatan participating interest,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin












