BERITAALTERNATIF.COM – Ustadz Sumadi Buton mengajak masyarakat menjadikan istighfar sebagai salah satu ikhtiar dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pesan tersebut disampaikannya dalam program Mutiara Pagi PRO 1 RRI Samarinda dengan tema “Solusi di Masa Sulit”, Senin (14/9/2026).
Dalam penyampaiannya, Ustadz Sumadi mengisahkan cerita yang dinukil Imam Al-Qurtubi dari Ibnu Subaik mengenai Imam Hasan Al-Basri.
Dikisahkan, pada suatu waktu sejumlah orang datang kepada Imam Hasan Al-Basri dengan persoalan kehidupan yang berbeda-beda.
Orang pertama mengeluhkan kemarau panjang yang membuat tanah retak, sungai dan sumber air mengering, hingga aktivitas bercocok tanam terganggu.
Ia kemudian meminta nasihat mengenai apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi tersebut.
Imam Hasan Al-Basri memberikan jawaban singkat, yakni meminta orang tersebut beristighfar kepada Allah.
Tidak lama kemudian, datang orang kedua dengan persoalan berbeda. Ia mengeluhkan kondisi ekonomi meskipun telah bekerja keras setiap hari.
Ia membandingkan kehidupannya dengan tetangga yang menurutnya bekerja biasa saja, tetapi mampu hidup lebih berkecukupan.
Ketika meminta nasihat, Imam Hasan Al-Basri kembali memberikan jawaban yang sama.
“Beristighfarlah kepada Allah,” demikian jawaban Imam Hasan Al-Basri sebagaimana dikisahkan Ustadz Sumadi.
Persoalan berikutnya datang dari orang yang telah menikah selama bertahun-tahun tetapi belum memperoleh keturunan.
Ada pula seseorang yang justru telah memiliki anak, tetapi mengeluhkan perilaku anaknya yang sulit diatur.
Atas berbagai persoalan tersebut, Imam Hasan Al-Basri tetap memberikan jawaban yang sama, yakni memperbanyak istighfar.
Ibnu Subaik yang berada di majelis tersebut kemudian mempertanyakan mengapa berbagai persoalan yang berbeda dijawab dengan satu nasihat yang sama.
Ustadz Sumadi mengungkapkan, Imam Hasan Al-Basri kemudian menjelaskan bahwa jawaban tersebut memiliki dasar dalam Alquran, khususnya Surah Nuh ayat 10–12.
Ayat tersebut memuat perintah untuk memohon ampun kepada Allah dan menyebutkan berbagai karunia yang dapat diberikan-Nya, termasuk hujan, harta, keturunan, kebun, serta aliran sungai.
Dia menyebut kisah tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan kehidupan merupakan sesuatu yang selalu dihadapi manusia, baik pada masa lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang.
“Bahwa sepanjang sejarah kehidupan manusia, dulu, sekarang, dan akan datang, termasuk yang sedang kita hadapi saat ini, akan selalu dihadapkan dengan persoalan-persoalan kehidupan,” katanya dalam program tersebut.
Menurutnya, manusia sering kali mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi. Namun, di sisi lain, Allah telah memberikan petunjuk yang dapat menjadi bagian dari ikhtiar manusia, salah satunya melalui istighfar.
Ia menekankan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan yang diulang, tetapi perlu disertai pemahaman dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Allah Swt sebenarnya telah memberikan diri kita, yaitu istighfar kepada Allah Swt dan ampun kepada Allah Swt,” ujarnya.
Ustadz Sumadi kemudian mengajak masyarakat melihat persoalan hidup sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri.
Dia berpendapat, berbagai kesulitan yang dialami manusia juga tidak terlepas dari kemungkinan adanya dosa yang telah dilakukan, baik yang disadari maupun tidak disadari.
Dosa tersebut dapat berupa perbuatan yang dilakukan secara sengaja maupun tidak, termasuk sesuatu yang tidak terlihat dan tersimpan di dalam hati.
Karena itu, istighfar tidak hanya berkaitan dengan permohonan ampun, tetapi juga menjadi bagian dari upaya manusia untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan kemampuan diri ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga kembali kepada Allah melalui doa, istighfar, dan upaya memperbaiki diri.
“Tinggal sejauh mana kita memahami dan mengamalkan jalan keluar yang sudah Allah berikan itu,” katanya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari











