Oleh: Prof. Mohammad Sharifani*
Keberkahan bukan sekadar soal banyak atau sedikit, panjang atau pendek, besar atau kecil. Keberkahan adalah nilai yang jauh melampaui ukuran lahiriah, angka statistik, maupun hitungan matematis manusia.
Ia merupakan lipatan nikmat dari Allah SWT yang membuat sesuatu memiliki dampak berlipat ganda, jauh melebihi wujud aslinya.
Apa sebenarnya arti keberkahan? Keberkahan adalah sesuatu yang sangat besar nilainya dan sangat tinggi harganya, bahkan bisa melampaui sepuluh kali lipat dari sesuatu itu sendiri. Ketika seseorang memiliki sesuatu, baik harta, usia, ilmu, atau karya, lalu dari sesuatu itu lahir manfaat yang berkali-kali lipat dari nilai awalnya, di situlah keberkahan bekerja.
Dalam konteks usia, panjang umur tidak selalu berbanding lurus dengan nilai hidup seseorang. Ada orang yang umurnya mungkin hanya tiga puluh tahun, tetapi keberkahannya setara dengan ratusan tahun kehidupan orang-orang besar. Sebaliknya, ada pula yang berusia panjang namun dampaknya nyaris tidak terasa bagi siapa pun.
Hal yang sama berlaku pada harta. Ada orang yang memiliki harta melimpah, tetapi manfaatnya berhenti pada dirinya sendiri. Namun ada pula orang dengan harta yang sedikit, tetapi keberkahannya dirasakan oleh banyak orang.
Harta yang kecil bisa melahirkan manfaat besar ketika Allah melipatgandakan nilainya melalui keberkahan.
Untuk menggambarkan hal ini, Ayatullah Murtadha Muthahhari merupakan contoh. Usia Muthahhari hanya sekitar lima puluh tahun, bahkan secara usia usia, lebih tua belasan tahun dibandingkan saya. Namun, keberkahan hidup Muthahhari tidak dapat diukur dengan angka usia manusia.
Dalam waktu hidup yang relatif singkat, pemikiran, karya, dedikasi, dan pengorbanannya dikenal luas dan menjangkau seluruh dunia. Inilah makna keberkahan yang sesungguhnya.
Keberkahan juga tampak nyata pada tempat. Saya mengajak Anda merenungi makna “sepetak tanah”. Masjidil Haram di Makkah dan Haram Imam Husain di Karbala, yang secara fisik hanyalah sepetak tanah, namun menjadi harapan dan kerinduan jutaan umat Islam di seluruh dunia. Nilai tanah tersebut bukan terletak pada luasnya, melainkan karena di sana terdapat nama Allah, nilai-nilai ilahi, dan orientasi penghambaan kepada-Nya. Setiap sepetak tanah yang dijadikan pusat untuk bermasyarakat kepada Allah memiliki potensi keberkahan.
Namun, sepetak tanah yang benar-benar dihidupkan dengan nilai-nilai Allah seperti Masjidil Haram atau Haram Imam Husain as memiliki keberkahan yang tak ternilai harganya.
Keberkahan merupakan lipatan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia, entah itu pada harta, usia, karya, ilmu, maupun tempat. Nikmat tersebut menjadi bermakna bukan karena kemegahan, melainkan karena dampak dan manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Selain itu, keberkahan juga bertransformasi dalam ilmu pengetahuan. Buku yang ditulis Muthahhari mampu memengaruhi kehidupan pribadi pembacanya, akhlak, ucapan, perilaku, hingga ibadah dan membawa pencerahan bagi jutaan orang. Namun, ada pula buku yang ditulis oleh penulis lain, yang justru menyesatkan pembacanya, bahkan tidak sedikit yang berujung pada kehancuran hidup hingga tindakan bunuh diri.
Di titik inilah, keberkahan karya Muthahhari dengan dibanding karya penulis lain. Buku-buku Muthahhari telah mencerahkan jutaan orang, membentuk akhlak, pemikiran, dan kesadaran spiritual. Sementara ada buku lain yang tidak memberi manfaat apa pun selain kebingungan dan keburukan. Perbedaan dampak inilah yang menjadi ukuran keberkahan, bukan popularitas semata.
Contoh keberkahan lainnya juga ditemukan pada sebuah masjid kecil dan sederhana di Qom. Masjid tersebut dikelola oleh Ayatullah Ahmad Miyaniji. Meski bangunannya kecil dan sederhana, ribuan orang berbondong-bondong datang untuk menunaikan salat, bahkan hanya untuk dua rakaat. Masjid itu hidup karena dipenuhi nafas-nafas suci, munajat, dan ketulusan imamnya.
Dari masjid kecil tersebut, lahir berbagai aktivitas spiritual yang mendatangkan amal, pembacaan Alquran, salat, sedekah, amar makruf nahi mungkar, penghidupan malam-malam ibadah, hingga semangat spiritual yang menyebar luas. Banyak orang merasakan manfaat dan keberkahan dari tempat yang secara fisik tampak sederhana, tetapi sarat nilai.
Sebaliknya, saya melihat sebuah masjid besar di Teheran. Bangunannya megah, arsitekturnya menawan, karpetnya mahal, dan secara estetika sangat mengagumkan. Namun, masjid tersebut kosong, nyaris tanpa jamaah. Keindahan fisik tidak otomatis menghadirkan keberkahan jika tidak diiringi kehidupan spiritual dan ketulusan penghuninya.
Keberkahan juga relevan jika dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam. Kelahiran Imam Muhammad al-Jawad as mematahkan seluruh cibiran dan keraguan terhadap imamah Imam Ridha as. Dengan kelahiran Imam Jawad, semua keraguan tentang kelanjutan kepemimpinan ilahi terbantahkan, dan tidak ada lagi suara-suara yang mempertanyakan keabsahan imamah.
Peristiwa tersebut serupa dengan fathul makkah. Sebelum penaklukan Makkah, Nabi Muhammad SAW dicibir, diejek, dan direndahkan. Namun setelah fathul makkah, Allah memberikan kemenangan yang nyata, yang tidak hanya berupa pembebasan kota, tetapi juga membungkam semua celaan dan fitnah. Tidak ada lagi cibiran, celotehan, atau olok-olok terhadap Rasulullah SAW.
Semua peristiwa itu, adalah manifestasi dari keberkahan. Keberkahan yang tidak selalu tampak dalam bentuk materi, tetapi terasa dalam dampak, ketenangan, kebenaran yang tegak, dan manfaat yang terus hidup meski waktu berlalu.
Keberkahan bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan, apalagi tanpa syarat. Ia memiliki hukum, prinsip, dan jalan yang harus dilalui oleh manusia.
Dalam satu uraian yang mendalam, bahwa untuk mencapai dan memperoleh keberkahan, terdapat empat faktor utama yang wajib diperhatikan dan dijalankan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Faktor pertama berkaitan langsung dengan fondasi spiritual manusia, yakni iman dan takwa. Keberkahan dari langit dan dari bumi tidak akan turun kecuali kepada mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Prinsip ini bukan sekadar doktrin normatif, melainkan hukum ilahi yang telah ditegaskan dalam ayat-ayat Alquran. Ketika iman tidak hanya berhenti pada keyakinan, tetapi menjelma dalam ketaatan, maka keberkahan menemukan jalannya untuk hadir dalam kehidupan seseorang, baik dalam bentuk rezeki, ketenangan, maupun kebermaknaan hidup.
Faktor berikutnya adalah keadilan. Keadilan dimaknai sebagai kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, tidak berlebihan dan tidak pula melampaui batas. Keadilan bukan hanya konsep sosial atau hukum, tetapi prinsip hidup yang harus hadir dalam setiap aktivitas manusia, termasuk hal-hal yang sangat personal seperti tidur, makan, dan beristirahat. Tidur selama enam jam, misalnya, dipandang sebagai bentuk keadilan bagi tubuh dalam kondisi tertentu.
Lebih dari itu menjadi berlebihan, kurang dari itu pun tetap berlebihan. Keadilan hadir ketika manusia mengenali batas dan kapasitas dirinya sendiri. Setiap manusia memiliki ukuran yang berbeda, tetapi prinsipnya sama.
Ada orang yang di usia lanjut masih tidur dua belas jam, dan itu dinilai sebagai bentuk ketidakseimbangan. Ketika seseorang melampaui batas yang seharusnya, maka ia telah keluar dari prinsip keadilan. Padahal, dalam hadis yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin as ditegaskan bahwa dengan keadilanlah keberkahan akan datang berlipat ganda. Ketika prinsip adil diterapkan dalam perbuatan dan aktivitas sehari-hari, keberkahan tidak hanya hadir, tetapi berkembang.
Keseimbangan menjadi kata kunci dari keadilan itu sendiri. Tidur, makan, berjalan, dan seluruh aktivitas hidup harus berada dalam proporsi yang tepat. Ketika manusia mampu menjaga keseimbangan tersebut, ia sedang membuka pintu keberkahan dalam hidupnya. Sebaliknya, ketika keseimbangan diabaikan, keberkahan perlahan menjauh, meskipun secara kasat mata kehidupan tampak berjalan normal.
Faktor keempat yang tidak kalah penting adalah menjauhi perbuatan dosa. Keberkahan tidak dapat berdampingan dengan dosa. Ketika larangan Allah dilanggar, maka keberkahan tidak hanya berkurang tetapi bisa berpindah dan hilang sama sekali. Dosa dalam konteks ini tidak semata-mata dimaknai sebagai kejahatan besar atau tindakan kriminal, melainkan segala perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah, sekecil apa pun bentuknya.
Mengambil sesuatu yang bukan hak, meski hanya setetes air minum, tetaplah dosa. Menginjak sepatu orang lain dengan sengaja, meskipun tampak sepele, juga termasuk perbuatan yang tidak disukai Allah. Ukuran dosa bukanlah besar atau kecilnya di mata manusia, melainkan apakah Allah ridha atau tidak terhadap perbuatan tersebut. Inilah parameter utama yang sering dilupakan.
Sikap boros atau israf menjadi contoh nyata dosa yang kerap dianggap remeh. Padahal, Allah tidak menyukai perbuatan boros.
Sekecil apa pun bentuk israf, ia tetap tergolong dosa dan berkonsekuensi pada hilangnya keberkahan. Dalam hadis lain dari Amirul Mukminin ditegaskan bahwa ketika dosa bertambah, maka keberkahan akan semakin menjauh. Fenomena ini tidak hanya berlaku pada individu, tetapi juga pada masyarakat dan bahkan seluruh dunia. Ketika maksiat merajalela, Allah mencabut keberkahan dari suatu tempat.
Hujan yang turun tetapi berujung banjir, atau wilayah yang dilanda kekeringan berkepanjangan, bukan semata persoalan alam, melainkan hilangnya keberkahan. Ketimpngan sosial, di mana satu pihak hidup berlimpah sementara pihak lain kelaparan, juga merupakan tanda bahwa keberkahan telah dicabut akibat dosa yang terus berjalan.
Keberkahan yang berkurang di berbagai belahan dunia hari ini tidak terjadi tanpa sebab. Ia seiring dengan meningkatnya perbuatan dosa manusia. Maka jalan kembali menuju keberkahan bukanlah sekadar doa, tetapi tekad kolektif dan personal untuk berubah.
Karena itu, upaya mendatangkan keberkahan harus dimulai dengan menjauhi perbuatan dosa, meningkatkan iman dan ketakwaan, mengamalkan ajaran kitab suci, serta menegakkan keadilan dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika prinsip-prinsip ini dijalankan, keberkahan bukan hanya akan datang, tetapi menetap dan memberi makna bagi hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. (*Direktur ICC Jakarta/Disampaikan di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada 29 Desember 2025)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin











