Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Setiap kali musibah datang, ada pergeseran fungsi ruang yang nyaris selalu berulang. Lokasi bencana tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat duka dan pemulihan, melainkan berubah menjadi panggung cepat saji untuk pertunjukan moral. Kamera hadir lebih dulu daripada perbaikan, pernyataan resmi mendahului empati yang sunyi. Yang rusak bukan hanya alam dan rumah, melainkan juga makna kehadiran.
Di panggung itu, para tokoh tampil dengan gestur terukur. Nada suara diturunkan satu oktaf, alis dirapatkan, kalimat simpati dilafalkan dengan rapi. Semua tampak serius, namun terlalu tertib untuk disebut tulus. Kesedihan diatur seperti naskah singkat yang harus selesai sebelum jadwal berikutnya. Warga yang kehilangan segalanya menjadi latar alami, seakan-akan penderitaan mereka berguna asal dapat memperkuat kesan kepedulian.
Di tengah adegan itu, muncullah detail kecil yang nyeleneh: rompi anti peluru. Ia bukan pusat cerita, hanya aksesori yang lewat sekilas, namun cukup untuk memantulkan absurditas seluruh adegan. Tidak ada tembakan, tidak ada medan tempur, hanya puing dan air mata. Rompi itu hadir seperti properti yang salah ambil dari gudang, menambah efek parodi pada situasi yang seharusnya ditangani dengan keheningan dan tanggung jawab.
Musibah pun kehilangan daya gugahnya. Alih-alih menjadi pengingat tentang kebijakan yang ceroboh, pembiaran yang panjang, dan keserakahan yang sistematis, ia dipoles menjadi latar dramatik yang aman bagi citra. Di sinilah diagnosologika menemukan gejalanya: empati dipraktikkan sebagai penampilan, bukan sebagai refleksi yang menuntut perubahan.
Ketika lokasi duka dijadikan panggung, yang paling hilang bukan sorotan kamera, melainkan kejujuran. Dan selama tragedi terus diperlakukan sebagai kesempatan tampil, parodi akan selalu menyusup—bahkan lewat detail paling kecil—untuk mengingatkan bahwa ada yang keliru cara kita berdiri di hadapan penderitaan orang lain. (*Cendekiawan Muslim)












