Search

Konflik Laut Merah Tak Bisa Dilihat Sepotong, Persoalan Yaman-Saudi Berakar pada Perang Gaza

Pengamat Timur Tengah, Ismail Amin Pasannai. (Dok. Berita Alternatif)

BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah, Ismail Amin Pasannai, meminta perkembangan konflik di kawasan Laut Merah dan hubungan Yaman dengan Arab Saudi tidak dilihat secara sepotong-sepotong.

Menurutnya, kebijakan Yaman terhadap pelayaran di Laut Merah tidak dapat dilepaskan dari perang Israel di Gaza serta sikap Yaman yang menyatakan dukungan terhadap Palestina.

Ismail menjelaskan, sejak perang Gaza berlangsung, Israel mendapat pasokan persenjataan dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa. Sebagian jalur pengiriman logistik tersebut berkaitan dengan kawasan Laut Merah.

“Israel serang Gaza, bertubi-tubi, tanpa henti, itu semua karena Israel punya stok senjata yang no limit. Ternyata amunisi itu didapat dari suplai AS dan negara-negara Eropa yang di antaranya melintasi Laut Merah,” ungkapnya di akun Facebook pribadinya yang dikutip pada Jumat (18/9/2026).

Dalam pandangannya, Yaman kemudian mengambil posisi dengan mengganggu pelayaran yang dianggap berkaitan dengan Israel sebagai bentuk tekanan terhadap Israel atas perang di Gaza.

Langkah tersebut kemudian memicu serangan AS dan Israel terhadap wilayah Yaman. AS dan Ansarullah Yaman memang mencapai kesepakatan yang dimediasi Oman setelah kampanye serangan udara AS terhadap Yaman. Kesepakatan tersebut berfokus pada penghentian serangan terhadap kapal-kapal AS, sementara pihak Ansarullah menegaskan bahwa kesepakatan itu tidak mencakup Israel.

Dia menilai posisi tersebut penting untuk memahami mengapa serangan terhadap kapal atau kepentingan Israel tetap menjadi persoalan terpisah dari kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Yaman.

“Yaman menyanggupi, tapi dengan ketentuan, perjanjian ini tidak berlaku untuk Israel dan kapal yang boleh melintas hanya yang komersial, bukan kapal militer. Sementara kapal-kapal Israel dan yang membawa kepentingan Israel tetap dilarang melintas,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan posisi yang pernah diumumkan pihak Ansarullah. Misalnya, otoritas yang berafiliasi dengan pemerintahan Ansarullah mengumumkan kembali larangan terhadap kapal-kapal Israel di Laut Merah, Laut Arab, Selat Bab el-Mandeb dan Teluk Aden dengan alasan tekanan terhadap Israel terkait akses bantuan ke Gaza.

Ia menyebut ketika jalur laut menghadapi gangguan, muncul upaya menggunakan jalur alternatif melalui darat untuk mempertahankan pasokan ke Israel.

Ismail menyebut Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Yordania sebagai bagian dari jalur yang digunakan untuk mendukung kelancaran pasokan menuju Israel.

“Bagaimanapun AS tetap butuh jalur Laut Merah aman demi pasokan energi dunia juga aman. Gagal melalui militer, AS tawarkan Yaman gencatan senjata,” katanya.

Dia kemudian mengaitkan perkembangan tersebut dengan konflik antara Yaman dan Arab Saudi.

Ia menjelaskan, persoalan tersebut tidak dapat dipahami hanya dari tindakan Yaman terhadap kapal-kapal Saudi. Sebab, sebelum konflik kembali meningkat, kapal-kapal Saudi sebelumnya dapat melintasi Laut Merah.

“Jadi kalau Saudi mau dibolehkan melintas, hentikan serangan atas Yaman. Tapi kan tidak, masih tetap melancarkan serangan dan ketika dibalas, play victim, Kakbah diserang,” ujarnya.

Perkembangan terbaru memang menunjukkan kembali meningkatnya bentrokan antara Arab Saudi dan Ansarullah Yaman. Reuters melaporkan pada 17 September 2026 bahwa kedua pihak kembali melakukan serangan lintas perbatasan, sementara AP juga melaporkan peningkatan serangan drone Ansarullah dan respons Saudi.

Ismail mengatakan, perbedaan perlakuan terhadap kapal AS dan kapal Saudi harus dilihat dalam konteks konflik masing-masing.

Dia merujuk pada pertemuan delegasi Yaman dengan pihak AS di Oman yang bertujuan mempertegas kesepakatan sebelumnya.

Ia mengungkapkan, dalam pembicaraan tersebut Yaman memberikan jaminan bahwa kapal-kapal komersial AS tidak akan menjadi sasaran selama Washington tidak terlibat dalam serangan terhadap Yaman.

“Yaman janji, kapal-kapal komersial AS tetap aman di Laut Merah selama tidak membantu Saudi menyerang Yaman,” katanya.

Ismail menambahkan, persoalan dengan Saudi berbeda karena Riyadh dinilai masih berada dalam posisi bermusuhan dengan Yaman.

Karena itu, dia menyebut larangan terhadap kapal Saudi tidak dapat serta-merta dipahami sebagai bukti bahwa Yaman hanya memusuhi Saudi.

“Jangan lihat sepotong-sepotong dan dipenggal-penggal. Lantas bikin narasi, kedok Yaman terbongkar bahwa Yaman ternyata hanya memusuhi Saudi, sebab hanya Saudi yang kapalnya diblokade sementara AS boleh saja melintas,” tegasnya.

Laporan Reuters mengenai pertemuan rahasia AS-Ansarullah di Muscat pada September 2026 menyebut delegasi Yaman memberikan jaminan tidak akan menyerang kapal AS dan menyatakan komitmen terhadap gencatan senjata 2025. Reuters juga melaporkan bahwa pembicaraan tersebut berlangsung ketika Arab Saudi meminta dukungan AS menghadapi perkembangan militer Ansarullah.

Dia juga membantah anggapan bahwa Yaman telah membuat kesepakatan yang secara otomatis memberikan jaminan keamanan kepada kapal-kapal Israel.

Menurutnya, persoalan kapal Israel berada di luar kesepakatan Yaman-AS.

“Jangan lihat sepotong-sepotong. Mengenai kapal Israel, Yaman membantah tidak membuat kesepakatan atas itu,” katanya.

Posisi tersebut juga tercermin dalam keterangan Ansarullah setelah kesepakatan AS-Yaman pada Mei 2025. Juru runding Ansarullah Mohammed Abdulsalam mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup Israel.

Sementara itu, otoritas maritim AS pada 2025 juga mencatat bahwa ancaman terhadap pelayaran di kawasan Laut Merah, Bab el-Mandeb dan Teluk Aden tetap ada, termasuk terhadap kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel.

Karena itu, ia menilai perkembangan di Laut Merah harus dibaca sebagai rangkaian konflik yang saling berkaitan: perang Gaza, serangan terhadap Yaman, kepentingan pelayaran dan energi internasional, kesepakatan AS-Yaman, serta konflik Yaman-Saudi.

“Lantas bikin narasi bahwa Yaman hanya memusuhi Saudi. Lho, yang memulai perang dengan Yaman siapa? Sebelum Saudi menyerang Yaman, aman-aman saja kapal Saudi melintasi Laut Merah,” ujarnya.

Ismail menilai, selama konflik militer antara Saudi dan Yaman masih berlangsung, persoalan keamanan pelayaran kedua negara tidak bisa dipisahkan dari dinamika perang tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Saudi dan pihak-pihak yang mendukungnya memiliki versi berbeda mengenai ancaman di Laut Merah. Arab Saudi menyatakan langkah militernya ditujukan untuk melindungi pelayaran dan kepentingan keamanan kawasan, sementara pihak Ansarullah menyatakan pembatasan terhadap pelayaran tertentu merupakan bagian dari tekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap menyerang Yaman atau mendukung Israel.

Dengan demikian, menurut dia, perdebatan mengenai siapa yang menjadi sasaran kebijakan Yaman tidak dapat dipisahkan dari kronologi konflik yang lebih panjang dan kepentingan masing-masing pihak di kawasan Laut Merah. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA