Search

Kemenangan Zohran: Apresiasi untuk Masyarakat Barat yang Menolak Rasisme dan Nasionalisme Irrasional

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Di tengah badai politik Amerika yang kian ganas, kemenangan Zohran Kwame Mamdani dalam pemilihan ulang 2024 menjadi sinar harapan. Terpilih kembali di Distrik 36 Queens dengan suara mayoritas, Zohran—keturunan imigran Uganda-India yang Muslim—menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme sistemik dan natvisme. Terlepas dari imperialisme AS yang terus mengintai dunia dengan intervensi dan standar ganda, kemenangannya membuktikan bahwa banyak warga Amerika telah membebaskan diri dari prasangka, merangkul keragaman sebagai kekuatan.

Lahir di Uganda, Zohran tumbuh di Queens—pusat imigrasi yang menuturkan ratusan bahasa. Kampanyenya berfokus pada perumahan terjangkau, keadilan iklim, dan reformasi kepolisian, dengan slogan “Queens for All”. Ia menggalang dukungan lintas etnis, menolak retorika yang meminggirkan imigran. Kemenangan ini mencerminkan pergeseran: generasi muda di kota besar mulai merebut narasi nasional dari xenofobia.

Inti kemenangannya adalah penaklukan atas rasisme yang mengakar—dari masa Jim Crow hingga kebijakan anti-imigran. Zohran, dengan identitas berlapisnya, menghadapi Islamofobia sejak kecil, namun mengubahnya menjadi kekuatan kolektif. Aliansi lintas rasial menunjukkan bahwa rasisme mulai retak. Ia berdiri bersama tokoh progresif lain, mengukuhkan tren pembebasan dari bias implisit.

Natvisme yang memuja “keaslian”  hingga gelombang anti-imigran—terbukti rapuh. Di Queens, identitas nasional didefinisikan oleh komitmen bersama, bukan garis darah. Pemilih memilih Zohran karena ia mencerminkan perjuangan mereka: melawan deportasi, diskriminasi, dan stereotip. Ini adalah pembebasan kolektif—di mana “kami” bukan klub eksklusif, melainkan kanvas yang terus berkembang.

Ketika masyarakat Barat—khususnya di pusat kosmopolitan seperti New York—mulai membuang nasionalisme berlebih, chauvinisme, dan rasisme, justru di Timur tanda kontra muncul ke permukaan. Di India, narasi eksklusif mengucilkan minoritas. Di Tiongkok, kebijakan asimilasi paksa mencerminkan chauvinisme tak kenal kompromi. Di Turki, retorika neo-imperialis menekan kelompok berbeda. Di Indonesia pun, arus balik ini mengkhawatirkan. Di balik Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, muncul intoleransi berbalut agama dan identitas: pembubaran rumah ibadah minoritas, kriminalisasi kelompok kecil, stigmatisasi “pendatang” atau “ancaman”, serta ujaran kebencian. Politik identitas pemilu 2024—with narasi “asli vs. pendatang”—menggali jurang yang dulu tertutup retorika persatuan.

Sementara Barat merangkul pluralisme, Indonesia terperosok dalam pusaran identitas primordial. Ironi ini lahir dari trauma pasca-kolonial: rasa rendah diri berubah menjadi arogansi kompensatoris. Namun, kemenangan Zohran menjadi pengingat—jalan keluar adalah empati lintas batas, bukan tembok identitas.

Euforia ini tak boleh menutupi tantangan. Pemerintahan federal AS masih bergulat dengan warisan imperialis—dukungan tak kritis atas konflik global, standar ganda yang memicu rasisme domestik. Zohran vokal menentangnya, menyerukan divestasi. Perubahan sejati lahir dari bawah: grassroots yang menolak hipokrasi pusat. Di Queens, empati mengalahkan ketakutan.

Akhirnya, kemenangan Zohran adalah undangan bagi dunia: merangkul evolusi, bukan kemurnian. Di tengah kegelapan imperialisme, cahaya Queens menerangi jalan menuju masyarakat adil—tempat setiap warga bernapas bebas dari prasangka. Seperti kata James Baldwin, “Tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang Amerika yang tidak tahu sejarahnya.” Kini, dengan Zohran sebagai pemandu, bab baru ditulis: pembebasan, solidaritas, harapan. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA