BERITAALTERNATIF.COM – Kaukasus Selatan, setelah tiga dekade konflik berdarah, pada Agustus 2025 menyaksikan penandatanganan kesepakatan damai antara Armenia dan Azerbaijan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan menjamu Ilham Aliyev dan Nikol Pashinyan di Gedung Putih, memposisikan dirinya sebagai pembawa perdamaian besar yang berhasil mengakhiri salah satu konflik paling kompleks di era pasca-Soviet.
Inti utama kesepakatan ini adalah pembentukan koridor bernama Jalur Trump untuk Perdamaian dan Kemakmuran Internasional (TRIPP), yang menghubungkan Azerbaijan ke Nakhchivan melalui wilayah Armenia. AS akan memegang hak eksklusif selama 99 tahun untuk mengembangkan dan menyelesaikan jalur tersebut.
Namun, kemenangan diplomatik ini terjadi di tengah kondisi Timur Tengah yang dalam beberapa bulan terakhir dilanda perang luas—perang yang mengungkap hakikat sebenarnya dari kebijakan luar negeri AS dan keterbatasan kekuatan negara tersebut. Perkembangan di Timur Tengah tidak hanya membayangi dinamika di Kaukasus, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan rencana perdamaian Trump. Rencana ini, karena sifatnya yang tidak stabil dan bergantung pada faktor eksternal, dinilai akan gagal. Argumen-argumennya sebagai berikut:
Pertama, hilangnya kredibilitas Trump dan pelajaran dari Teluk Persia. Alasan pertama dan terpenting adalah menurunnya kredibilitas Trump serta ketidakandalan AS. Pengalaman negara-negara Teluk dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa bergantung pada keamanan yang “dipinjam” dari AS bukan hanya tidak efektif, tetapi juga sangat mahal.
Dalam ketegangan terbaru antara Iran dan AS, ketika Trump mengancam serangan militer dan Iran membalas dengan ancaman terhadap pangkalan AS, negara-negara Teluk menyadari bahwa mereka tidak bisa mengandalkan Washington.
AS bahkan menarik sebagian pasukannya dari pangkalan Al-Udeid di Qatar karena khawatir akan serangan Iran. Penarikan ini menunjukkan ketakutan terhadap kemampuan rudal Iran dan kesiapan Teheran untuk merespons tegas.
Lebih jauh lagi, permintaan Benjamin Netanyahu kepada Trump untuk menunda serangan terhadap Iran menunjukkan bahwa bahkan sekutu utama AS pun meragukan kekuatan dan kredibilitasnya.
Pengalaman ini menjadi peringatan serius bagi negara-negara Kaukasus. Jika keamanan ala AS gagal di Teluk, bagaimana bisa berhasil di Kaukasus? Tidak ada jaminan AS akan melindungi sekutunya saat krisis—dan ini melemahkan fondasi rencana Trump.
Kedua, kehadiran AS: sumber ketidakamanan, bukan jaminan perdamaian. Argumen kedua berkaitan dengan sifat kehadiran AS di kawasan. Secara historis, keterlibatan aktor luar—khususnya Amerika—lebih sering memicu ketidakstabilan daripada menciptakan keamanan.
Dalam kesepakatan ini, AS akan menguasai pengembangan koridor Zangezur selama 99 tahun, bahkan disebut menguasai 74% sahamnya. Ini berarti kehadiran militer dan ekonomi jangka panjang di wilayah dekat perbatasan Iran dan Rusia.
Langkah ini dinilai bertujuan melemahkan Iran, memperkuat Turki, dan mengurangi pengaruh Rusia. Akibatnya, kawasan Kaukasus berpotensi menjadi arena persaingan kekuatan besar, bukan perdamaian. Rusia kemungkinan tetap aktif, sementara Turki diuntungkan sebagai perpanjangan pengaruh Barat.
Alih-alih stabilitas, kondisi ini justru berisiko memicu konflik baru dan persaingan geopolitik.
Ketiga, Iran dan garis merah terhadap kehadiran AS. Hambatan terbesar mungkin adalah penolakan tegas Iran terhadap kehadiran AS di dekat perbatasannya. Setelah perkembangan terbaru di Timur Tengah, posisi Iran semakin kuat dan tidak akan menolerir kehadiran Amerika di utara wilayahnya.
Iran kini berupaya mengusir AS dari Teluk Persia, dan kekuatan militernya telah memaksa Trump mundur dari ancaman sebelumnya. Oleh karena itu, kecil kemungkinan Iran menerima kehadiran AS di Kaukasus.
Ali Akbar Velayati telah memperingatkan bahwa setiap pihak yang mencoba mengulang kegagalan sebelumnya akan menghadapi respons keras Iran.
Selain itu, kedekatan Azerbaijan dengan Israel menambah sensitivitas. Keterlibatan AS dan Israel dalam proyek koridor ini berpotensi mengubah konflik menjadi krisis geopolitik yang lebih luas.
Iran sendiri mendorong format 3+3 (tiga negara Kaukasus+Rusia, Turki, Iran) sebagai solusi regional tanpa campur tangan asing—yang bertentangan langsung dengan rencana Trump.
Keempat, kemunduran Trump dan kepemimpinan yang melemah. Argumen keempat berkaitan dengan kondisi Trump sendiri. Ia kini menghadapi tantangan politik domestik, penurunan popularitas, dan penurunan pengaruh global.
Perkembangan di Timur Tengah menunjukkan bahwa Trump tidak mampu mengelola krisis secara konsisten dan cenderung mundur dalam situasi kritis. Ambisi militernya tidak diimbangi kemampuan menjalankan proyek jangka panjang.
Proyek Jalur Trump yang berdurasi 99 tahun membutuhkan komitmen kuat—sesuatu yang dinilai sulit diwujudkan oleh Trump saat ini. Banyak pihak menilai inisiatif ini lebih merupakan langkah pencitraan politik daripada upaya perdamaian nyata.
Kelima, perdamaian berbasis individu: rapuh dan simbolik. Poin terakhir adalah sifat kesepakatan itu sendiri. Ilham Aliyev mengumumkan pengiriman bantuan energi ke Armenia, namun dinilai lebih sebagai langkah simbolik daripada bukti perdamaian sejati.
Reaksi masyarakat Armenia menunjukkan skeptisisme. Warga Yerevan menyatakan bahwa mereka tidak percaya kesepakatan ini akan membawa perdamaian nyata, mengingat pengalaman buruk sebelumnya.
Perdamaian yang bergantung pada kehendak individu dan dukungan politik sesaat sangat rapuh. Pemilu Armenia pada Juni 2026 bisa menjadi titik penentu. Jika Pashinyan kalah atau melemah, seluruh proses perdamaian bisa runtuh.
Selain itu, kecenderungan Armenia menjauh dari Iran dan mendekat ke Barat serta Turki dinilai tidak berkelanjutan dan bertentangan dengan kepentingan nasional jangka panjangnya.
Kesimpulan
Rencana perdamaian Trump di Kaukasus, meski dipromosikan secara luas, menghadapi tantangan serius yang membuat kegagalannya hampir pasti. Faktor-faktor seperti menurunnya kredibilitas Trump, ketidakandalan AS, dampak negatif kehadiran kekuatan luar, penolakan Iran, serta sifat kesepakatan yang rapuh dan simbolik, semuanya memperburuk prospek rencana ini.
Perdamaian berkelanjutan di Kaukasus hanya dapat dicapai melalui kerja sama negara-negara kawasan tanpa campur tangan asing. Inisiatif 3+3 dari Iran dianggap sebagai alternatif yang lebih realistis.
Pengalaman di Teluk Persia menunjukkan bahwa keamanan yang bergantung pada kekuatan luar tidak dapat diandalkan. Negara-negara Kaukasus pada akhirnya akan menyadari bahwa perdamaian sejati hanya dapat dicapai melalui kerja sama regional, bukan ketergantungan pada kekuatan eksternal yang tidak konsisten. (*)
Sumber: Mehr News












