Search

Associated Press: Amerika Tidak akan Menang Melawan Iran

Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut tidak tercapai, tetapi menurut pengakuan para pejabat Barat dan media Amerika, pihak penyerang juga menghadapi kebuntuan strategis serta kekalahan di medan dan politik. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut tidak tercapai, tetapi menurut pengakuan para pejabat Barat dan media Amerika, kebuntuan strategis serta kegagalan di medan perang dan politik telah dipaksakan kepada pihak penyerang.

Perang yang dimulai dengan serangan besar-besaran dan pembunuhan warga sipil, termasuk para pelajar yang tidak bersalah, dengan cepat berkembang menjadi persoalan kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas serta memunculkan berbagai reaksi dari media internasional.

Media-media dunia, masing-masing dengan pendekatan mereka sendiri, berupaya membentuk narasi mengenai perang tersebut. Menelaah pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi perang yang sebenarnya dan prospeknya.

Media Berbahasa Inggris

Associated Press (AP) dalam sebuah laporan menyatakan bahwa AS dalam beberapa pekan terakhir berhasil melemahkan sebagian kendali Iran atas Selat Hormuz dan secara bersamaan hampir menghentikan ekspor minyak Iran.

Berdasarkan data lembaga Kpler, ekspor minyak Iran turun dari 1,85 juta barel per hari pada musim semi menjadi sekitar 255 ribu barel per hari pada Agustus. Sebaliknya, ekspor minyak negara-negara non-Iran meningkat dari 300 ribu barel per hari pada puncak perang menjadi 8,4 juta barel per hari pada September dan, jika jalur alternatif diperhitungkan, mencapai 10,8 juta barel per hari.

Menteri Energi AS Chris Wright mengklaim bahwa arus minyak telah kembali ke “dua pertiga atau lebih” dari tingkat sebelum perang.

Namun, AP menegaskan bahwa keberhasilan relatif tersebut belum mengakhiri perang. Mona Yacoubian, pakar Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan: “Sayangnya, Amerika tidak akan menang dalam perang melawan Iran. Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dan tidak hanya bersedia melakukan perlawanan, tetapi juga ingin meningkatkan ketegangan di mana pun mereka mampu.”

Laporan tersebut menambahkan bahwa ketegangan terkait Selat Hormuz masih tinggi. Ansarullah Yaman juga meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, yang kembali mendorong harga minyak di atas 100 dolar AS per barel.

AP mencatat bahwa keberlanjutan situasi tersebut mahal bagi kedua belah pihak. Perang sejauh ini telah menelan biaya 37,5 miliar dolar AS bagi para pembayar pajak Amerika dan menyebabkan 18 personel militer Amerika tewas.

Trump juga mengakui bahwa harga bensin kemungkinan akan tetap tinggi hingga pemilihan umum paruh waktu.

Sementara itu, NBC News dalam sebuah analisis menulis bahwa perang dengan Iran, meskipun telah berlangsung selama enam bulan, justru menjadi isu pinggiran dalam konvensi paruh waktu Partai Republik di Dallas. Hampir tidak ada pembicara yang membahas perang tersebut.

Hanya Donald Trump, Pete Hegseth, dan, dalam kadar tertentu, J.D. Vance yang menyinggung perang tersebut. Vance, tanpa menyebut Iran secara langsung, memberikan penghormatan kepada Charlie Kirk dan mengatakan bahwa Kirk “membenci perang”. Ia juga mengakui bahwa “ada orang-orang yang menyukai apa yang telah kami lakukan dan ada yang tidak.”

Robert Jeffress, pendeta Gereja Baptis Dallas, juga mengatakan, “Kita sedang berperang”, tetapi mengklaim bahwa yang ia maksud adalah perang “kosmis” antara kebaikan dan kejahatan, bukan perang melawan Iran.

Laporan tersebut menegaskan bahwa sikap diam Partai Republik menunjukkan menurunnya popularitas perang tersebut serta keengganan partai untuk membelanya menjelang pemilu November.

Survei NBC News menunjukkan hanya 31 persen warga Amerika yang menyetujui cara Trump menangani perang tersebut, sementara 69 persen menolaknya. Tingkat dukungan dari Partai Republik juga turun tajam. Proporsi mereka yang “sangat” mendukung perang tersebut turun 18 poin sejak musim semi menjadi 30 persen.

Di antara pendukung gerakan MAGA, penurunannya mencapai 21 poin menjadi 43 persen. Survei tersebut menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap perang bahkan mulai meluas di basis utama pendukung Trump.

NBC News menambahkan bahwa dalam pidatonya Trump mengklaim perang akan berakhir “tidak lama setelah hari pemilu”. Namun, 18 personel militer Amerika telah tewas dan sekitar 50 ribu pasukan ditempatkan di kawasan tersebut.

Dalam konvensi itu, hanya seorang pendeta yang menyebut para tentara dalam doa pembukaan dan meminta agar mereka dapat kembali dengan selamat dan segera.

Media Arab

Al Jazeera dalam sebuah tulisan mengenai konflik Iran dan AS menulis bahwa konfrontasi antara Iran dan Amerika telah melewati tahap “tidak perang, tidak damai” dan memasuki fase konfrontasi yang lebih langsung, khususnya di bidang pelayaran, minyak, dan Selat Hormuz.

AS menggunakan sanksi, blokade laut, dan serangan terbatas untuk meningkatkan tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran, sembari tetap membuka opsi serangan yang lebih luas.

Iran juga tidak ingin keputusan mengenai waktu dan tingkat eskalasi konflik sepenuhnya berada di tangan Washington. Karena itu, Iran merespons dengan mengancam kapal-kapal, membatasi lalu lintas maritim, serta meningkatkan biaya militer dan ekonomi yang harus ditanggung AS.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama konfrontasi tersebut. Penurunan tajam lalu lintas kapal dan kenaikan harga minyak membuat dampak konflik merembet ke perekonomian global.

Pemilu paruh waktu AS pada 3 November juga memiliki arti penting dalam perhitungan Washington, karena perluasan perang dapat menimbulkan biaya politik dan ekonomi bagi pemerintahan Trump.

Di sisi lain, ancaman Amerika terhadap fasilitas di sekitar Natanz dan upaya Iran memperluas wilayah larangan maritim menunjukkan bahwa garis merah kedua pihak sedang bergeser.

Siapa yang menentukan waktu eskalasi ketegangan? Kesimpulan utama laporan tersebut adalah bahwa tidak ada satu pihak pun yang sepenuhnya mengendalikan eskalasi secara sendirian.

Amerika memiliki kemampuan lebih besar untuk menentukan waktu, lokasi, dan intensitas serangan langsung. Namun, Iran dapat meningkatkan biaya keputusan Amerika untuk melanjutkan eskalasi melalui respons militer, ancaman terhadap pelayaran, serta pengaruhnya terhadap pasar energi.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar “apakah perang besar-besaran akan terjadi atau tidak?”. Persoalan yang lebih penting adalah pihak mana yang mampu meningkatkan biaya kelanjutan konflik sedemikian tinggi sehingga pihak lainnya terpaksa mundur.

Hal yang mengkhawatirkan adalah ketika kapal, fasilitas minyak, pangkalan militer, dan fasilitas nuklir masuk ke dalam siklus serangan dan ancaman, ruang manuver politik semakin menyempit.

Satu serangan dapat memaksa pihak lawan memberikan respons yang lebih besar. Akibatnya, meskipun tidak ada pihak yang menginginkan perang total, risiko terjadinya eskalasi yang tidak disengaja menuju perang yang lebih luas semakin meningkat.

Al-Ahed dalam sebuah artikel yang ditulis oleh penulis Palestina Ihab Zaki menyatakan bahwa klaim berulang Amerika mengenai kekalahan Iran lebih merupakan bagian dari perang psikologis dan media daripada sesuatu yang dibuktikan oleh realitas di lapangan.

Para pejabat Amerika, khususnya Trump, terus berbicara mengenai “kekalahan Iran”, tetapi menurut penulis, tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung klaim tersebut.

Setelah melalui pengalaman sanksi, serangan militer, perundingan, pemberlakuan kembali sanksi, dan kemudian blokade, Amerika masih belum mampu memaksa Iran menyerah atau menerima seluruh tuntutannya.

Menurut penulis, Iran masih memiliki kemampuan untuk memengaruhi Selat Hormuz, pangkalan dan kepentingan Amerika, serta pasar energi global. Karena itu, klaim kemenangan penuh Amerika dinilai masih jauh dari realitas di lapangan.

Pada saat yang sama, artikel tersebut tidak menyangkal tekanan berat sanksi dan blokade terhadap perekonomian serta kehidupan masyarakat Iran. Namun, artikel itu menekankan bahwa tekanan ekonomi tidak selalu berarti penyerahan politik.

Penulis berpendapat bahwa sebagai respons terhadap tekanan tersebut, Iran berupaya mengurangi ketergantungannya pada satu jalur ekonomi atau satu negara dan menciptakan lebih banyak pilihan untuk menghindari tekanan.

Pada akhirnya, pesan utama artikel tersebut adalah bahwa perang psikologis dan propaganda tidak dapat mengubah realitas di lapangan. Jika Amerika terus bersikeras mengklaim kekalahan Iran dan meningkatkan tekanan, hal itu justru dapat mendorong Iran mengambil sikap yang lebih ofensif, bukannya memaksanya menyerah.

Al Mayadeen dalam sebuah artikel menulis bahwa konflik Iran dan Amerika telah memasuki tahap yang menentukan dan mungkin saja fase terakhirnya telah dimulai.

Penulis berpendapat bahwa perselisihan Iran dan Amerika pada dasarnya bukan hanya mengenai program nuklir, melainkan berakar pada konflik politik dan geopolitik setelah Revolusi 1979.

Amerika menggunakan sanksi, tekanan ekonomi, dan sekutu-sekutunya di kawasan untuk melemahkan Iran. Sebaliknya, Iran membangun jaringan sekutu dan kelompok yang sejalan dengannya di kawasan.

Menurut penulis, “Poros Perlawanan” merupakan hasil dari persaingan panjang antara Iran dan Amerika di Timur Tengah.

Perang terbaru Amerika dan Israel terhadap Iran, menurut artikel tersebut, tidak mencapai tujuan maksimalnya. Program nuklir Iran mengalami kerusakan dan sebagian besar pemimpinnya telah tewas, tetapi pemerintahan Iran tidak jatuh dan tetap mempertahankan kemampuan untuk bernegosiasi serta menghadapi lawan.

Artikel tersebut juga mempertanyakan klaim Trump mengenai kendali penuh atas Selat Hormuz dan menganggap kenaikan harga minyak sebagai tanda bahwa kondisi sebenarnya berbeda dengan klaim Amerika.

Menurut artikel tersebut, salah satu kekuatan utama Iran dalam perang ini adalah rudal dan drone yang relatif murah dibandingkan dengan peralatan Amerika yang sangat mahal. Kemampuan tersebut memungkinkan Iran mengancam pangkalan dan kepentingan Amerika di kawasan.

Perkembangan terbaru yang dianggap penting oleh penulis adalah bahwa dalam menghadapi blokade laut Amerika, Iran tidak lagi hanya merespons, tetapi secara langsung menargetkan kapal dan pasukan angkatan laut Amerika.

Media Rusia dan China

Russia Today (RT) dalam laporan berjudul “BRICS 2026: India Menggambarkan Jalannya di antara Rusia dan Barat” menulis bahwa KTT ke-18 BRICS berlangsung dalam kondisi ketika konfrontasi Amerika dan Iran, perang Ukraina, sanksi terhadap Rusia, tekanan Barat terhadap China, serta meningkatnya perang perdagangan dan teknologi telah membuat situasi internasional semakin tegang.

RT menempatkan konfrontasi Amerika-Iran bersama dengan perang Ukraina dan meningkatnya persaingan antara pusat-pusat kekuatan dunia. Menurut laporan tersebut, kondisi ini menjadikan kepemimpinan India di BRICS sebagai ujian penting bagi diplomasi New Delhi.

Menurut laporan tersebut, perang Iran dan Amerika merupakan salah satu faktor utama yang memperlebar kesenjangan geopolitik. Negara-negara anggota BRICS harus mempertahankan kerja sama mereka dalam kondisi yang tercipta akibat situasi tersebut.

Laporan itu menekankan bahwa India di satu sisi mempertahankan hubungan strategis dengan AS dan negara-negara Eropa, tetapi di sisi lain tidak bersedia mengurangi hubungan dekatnya dengan Rusia akibat tekanan Barat.

New Delhi juga tidak memandang BRICS sebagai aliansi anti-Barat, melainkan sebagai kelompok negara non-Barat yang tidak selalu berada dalam posisi berhadapan dengan Barat.

RT selanjutnya menjadikan pernyataan Menteri Luar Negeri India mengenai hubungan dengan Rusia sebagai contoh kebijakan “otonomi strategis” New Delhi. Kebijakan tersebut memungkinkan India, di tengah meningkatnya persaingan antara negara-negara besar, mengikuti jalannya sendiri tanpa menerima tekanan dari salah satu pihak.

Dalam kerangka tersebut, perang terhadap Iran merupakan bagian dari lingkungan geopolitik yang lebih luas yang memengaruhi masa depan BRICS dan peran India dalam tatanan dunia.

Sementara itu, CGTN dalam sebuah tulisan berjudul “Apakah Akhirnya setelah 25 Tahun Kita akan Belajar dari Pelajaran 11 September?” menulis bahwa perang-perang Amerika setelah serangan 11 September, alih-alih menciptakan stabilitas, justru menyebabkan berlanjutnya ketidakstabilan dan kekerasan di Timur Tengah.

Penulis, dengan merujuk pada perang di Irak dan Afghanistan, berpendapat bahwa Washington tidak berhasil mencapai tujuan-tujuan yang diumumkannya dan dampak dari intervensi tersebut masih terus berlangsung.

Dalam bagian yang berkaitan dengan perang Amerika terhadap Iran, CGTN menilai konflik tersebut sebagai kelanjutan dari pendekatan militer Amerika di Timur Tengah dan menulis bahwa ketegangan antara Teheran dan Washington kini telah merembet ke negara-negara lain.

Laporan tersebut menilai kekhawatiran mengenai keamanan jalur-jalur perairan strategis, khususnya Selat Hormuz, sebagai salah satu dampak terpenting perang. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat menimbulkan dampak regional maupun global.

Penulis berpendapat bahwa kepentingan strategis Amerika, yang dalam analisis ini berkaitan dengan akses terhadap minyak, membatasi kemampuan Washington untuk mengubah pendekatannya terhadap kawasan.

Menurut CGTN, biaya perang bagi Amerika terlihat dalam bentuk kenaikan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi, sementara bagi Iran terlihat dalam bentuk korban jiwa akibat serangan udara dan pemboman.

CGTN menyimpulkan bahwa kelanjutan pendekatan yang “berorientasi militer” di Timur Tengah memperlemah prospek stabilitas. Amerika, menurut laporan tersebut, harus mengubah kebijakannya terhadap kawasan untuk mencegah terulangnya siklus perang dan menggantikan ketergantungan yang terus-menerus pada kekuatan militer dengan diplomasi. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA