Search

Chauvinisme AS: Hitung Mundur Robohnya Common Enemy

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Ada kesombongan klasik yang kerap meracuni imperium besar: keyakinan bahwa dunia membutuhkan mereka, sementara mereka tidak membutuhkan dunia. Retorika itu terdengar heroik di panggung kampanye—“America First”, tembok perbatasan, tarif sebagai senjata—namun rapuh ketika berhadapan dengan kenyataan global yang saling terikat. Di bawah gema slogan-slogan itu, terutama pada era Donald Trump, tersimpan satu ilusi berbahaya: bahwa kemandirian mutlak adalah bentuk tertinggi kekuatan.

Padahal Amerika Serikat tidak lahir dari isolasi. Ia menjadi raksasa justru karena keterhubungan. Imigran dari berbagai penjuru membangun tenaga kerjanya. Perdagangan lintas samudra mengalirkan kapitalnya. Rantai pasok global menopang industri-industri strategisnya. Pasar dunia menyerap produk-produknya. Ekspor barang dan jasa memang sekitar sepersepuluh dari PDB, namun bagi sektor otomotif, teknologi, dan hiburan, ketergantungan pada pasar global jauh lebih dalam. Lebih dari 30 persen penjualan mobilnya bergantung pada konsumen luar negeri. Hollywood meraup keuntungan terbesar dari audiens internasional. Silicon Valley berdiri di atas komponen yang dirakit melalui jaringan Asia. Dolar kuat karena dunia percaya.

Memutus simpul-simpul itu bukanlah jalan kejayaan. Itu adalah proses menggerogoti fondasi sendiri.

Chauvinisme nasional—superioritas yang menolak kritik dan kerja sama—selalu menjadi gejala awal kemunduran. Ia menutup telinga dari masukan, menutup pintu bagi inovasi, dan pada akhirnya menutup peluang regenerasi. Dalam ekonomi global, konsumen bukan sekadar angka statistik; mereka adalah kedaulatan yang bergerak. Loyalitas merek bisa berpindah secepat sentimen geopolitik berubah. Dunia memiliki pilihan: Samsung alih-alih iPhone, Toyota alih-alih Ford, produksi Korea atau Bollywood menyaingi Hollywood. Bahkan hegemoni dolar pun retak jika kepercayaan internasional terkikis. Di era multipolar, pilihan adalah senjata paling sunyi sekaligus paling menentukan.

Ironi itu terpampang jelas dalam respons Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum. Tanpa retorika bombastis, ia menunjukkan bahwa di luar tembok imajiner terdapat miliaran konsumen dan mitra dagang yang dapat berpaling. Diplomasi dingin namun tegas, kesiapan retaliasi tanpa menutup dialog, adalah pengingat bahwa saling ketergantungan adalah fakta, bukan pilihan ideologis. Pernyataannya mencerminkan perubahan besar: dunia tidak lagi menerima dikotomi pusat dan pinggiran.

Namun persoalan ini bukan hanya relasi eksternal Amerika dengan dunia. Retakan itu juga terjadi di dalam dirinya sendiri. Amerika bisa hancur—bukan sebagai bangsa, bukan sebagai rakyat, tetapi hancur sebagai hegemoni. Hancur sebagai imperialisme. Hancur sebagai sentra arogansi global. Hancur sebagai pusat kerakusan kapitalisme. Tidak ada yang mustahil dalam sejarah. Apa pun bisa terjadi.

Kesombongan yang merasa dunia membutuhkan Amerika sementara Amerika tidak membutuhkan dunia adalah bibit kehancuran itu. Bukan semata karena dunia akan melawan, tetapi karena rakyatnya sendiri mulai menolak. Mereka lelah dengan arogansi. Lelah dengan kolonialisme gaya baru. Lelah dengan intervensi atas nama demokrasi. Lelah dengan merasa paling besar dan paling menentukan nasib bangsa lain.

Rakyat Amerika tidak ingin terus menjadi pekerja kasar bagi ambisi geopolitik dan kerakusan korporasi. Mereka tidak ingin pajak dan masa depan generasi mereka dihabiskan untuk mempertahankan citra adidaya yang semakin kehilangan legitimasi moral. Mereka tidak ingin bangsa lain diperlakukan lebih rendah, karena mereka sadar bahwa merendahkan orang lain pada akhirnya merendahkan diri sendiri.

Gelombang demonstrasi besar di berbagai kota, polarisasi politik yang tajam, serta tuntutan impeachment terhadap Donald Trump menjadi tanda kelelahan kolektif itu. Itu bukan sekadar dinamika politik biasa. Itu adalah gejala bahwa sebagian rakyat menolak wajah chauvinistik negaranya sendiri.

Jika dunia luar mulai melihat Amerika sebagai common enemy, itu bukan karena kebencian irasional, melainkan karena akumulasi kebijakan yang menempatkan dirinya sebagai pusat dan yang lain sebagai pinggiran. Tetapi yang lebih menentukan adalah ketika rakyatnya sendiri mulai lelah menjadi musuh seluruh umat manusia.

Sejarah menunjukkan bahwa hegemoni tidak runtuh dalam satu malam. Ia runtuh ketika legitimasi moralnya terkikis. Ketika kepercayaan dunia menyusut. Ketika rakyatnya sendiri tidak lagi bersedia memanggul beban imperialisme. Maka yang hancur bukan tanahnya, bukan bangsanya, melainkan klaimnya sebagai pusat kuasa tunggal dunia.

Tidak ada imperium yang abadi. Tidak ada hegemoni yang kebal. Jika arogansi terus dipelihara, maka yang roboh bukan rakyatnya, melainkan hegemoninya. Bukan negaranya, melainkan imperialismenya. Bukan bangsanya, melainkan sentra dominasi global yang selama ini ia bangun dan banggakan. Dan hitung mundur itu selalu dimulai dari satu hal: kesombongan yang menolak menyadari bahwa dunia tidak pernah dimiliki oleh satu bangsa saja. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA