Search

Kemenangan Iran dan Terbukanya Wajah yang selama Ini Disembunyikan

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Agresi Amerika dan Israel terhadap Iran ternyata melahirkan akibat yang jauh melampaui medan perang dan perhitungan geopolitik. Dunia menyaksikan sesuatu yang selama puluhan tahun berusaha dicegah oleh propaganda global: Iran tidak runtuh, tidak mundur, dan tidak kehilangan kendali. Iran justru tampil sebagai pihak yang menentukan arah keadaan, sementara Amerika dan Israel masuk ke dalam kebingungan strategis yang semakin terbuka di hadapan dunia. Dunia Barat sendiri akhirnya mengakui bahwa Iran tetap berdiri dengan kekuatan yang tidak berhasil dihancurkan. Bahkan banyak analisis internasional mengakui bahwa tujuan utama Amerika dan Israel gagal tercapai.

Keadaan itu mengubah cara manusia memandang Iran dan Syiah. Selama puluhan tahun, Syiah dibentuk dalam imajinasi publik melalui propaganda ketakutan, fitnah sektarian, dan produksi kebencian yang terus diulang. Banyak orang membenci sesuatu yang tidak pernah mereka kenal. Banyak yang curiga terhadap sesuatu yang tidak pernah mereka pelajari. Iran dipersempit hanya sebagai persoalan politik dan konflik kawasan, padahal di belakang semua itu berdiri sebuah kesadaran sejarah yang sangat panjang: Karbala, pengorbanan, keteguhan menghadapi penindasan, dan keyakinan tentang keadilan serta datangnya sang fajar kemanusiaan.

Ketika dunia melihat Iran mampu bertahan sekaligus memaksa lawan-lawannya menghadapi situasi yang tidak mereka kuasai sepenuhnya, pertanyaan mulai muncul di berbagai tempat. Dari mana daya tahan itu lahir? Apa yang membuat sebuah bangsa tetap berdiri di tengah tekanan global sebesar itu? Apa fondasi spiritual yang membuat masyarakatnya tidak tercerai-berai oleh rasa takut? Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan membuka jalan menuju pengenalan yang lebih jujur terhadap Syiah.

Namun perubahan paling menarik justru terjadi di dalam komunitas Syiah sendiri. Selama ini, risiko sosial, tekanan psikologis, bahkan ancaman terhadap karier dan posisi sosial hanya dipikul oleh segelintir orang yang siap menerima konsekuensi itu. Mereka hadir di tengah masyarakat, berbicara, mempertahankan identitasnya, dan tetap terhubung dengan komunitasnya meskipun harus menghadapi stigma dan kecurigaan sosial. Sementara banyak yang lain memilih diam, menjauh, menghilang dari komunitasnya sendiri, atau menyembunyikan keyakinannya demi keamanan hidup dan kenyamanan sosial.

Fenomena itu menyimpan pelajaran yang sangat penting. Setiap keyakinan menuntut kesiapan menghadapi risiko. Identitas spiritual tidak mungkin bertahan hanya di ruang sembunyi. Kehadiran tentu berbeda dari kesombongan. Tidak ada keharusan mempertontonkan keyakinan secara arogan atau memancing permusuhan. Namun jika sebuah komunitas terus-menerus menghapus jejak keberadaannya sendiri, bagaimana masyarakat dapat mengenalnya? Bagaimana sebuah tradisi dapat dipahami jika para penganutnya sendiri takut memperlihatkan eksistensinya?

Agresi Amerika dan ketangguhan Iran justru memunculkan hikmah yang tidak terduga itu. Banyak orang Syiah yang selama ini hidup dalam posisi defensif mulai berhenti merasa harus terus bersembunyi. Media sosial yang dahulu steril dari segala hal yang berkaitan dengan Syiah mulai berubah. Tulisan tentang Iran mulai bermunculan. Kutipan tentang Ahlulbait mulai dibagikan. Simpati yang dahulu disimpan rapat mulai menemukan keberaniannya.

Perubahan itu memperlihatkan satu kenyataan lain yang sangat mendasar: manusia memerlukan rekatan sosial dan penguatan komunitas untuk menjaga identitas keyakinannya tetap hidup. Seorang pemula yang baru mengenal sebuah keyakinan tidak mungkin bertahan sendirian tanpa lingkungan yang menguatkan. Ketika seseorang justru memutus dirinya dari komunitasnya sendiri demi menyembunyikan identitasnya, yang perlahan hilang bukan hanya keberaniannya, melainkan juga ingatannya terhadap keyakinan itu sendiri.

Dalam keadaan seperti itu, generasi berikutnya akan tercerabut. Anak-anak tumbuh tanpa ikatan emosional dengan sejarahnya sendiri, tanpa kedekatan spiritual dengan tradisinya sendiri, tanpa pengenalan terhadap Ahlulbait dan warisan Karbala. Pada titik tertentu, identitas itu akan hilang secara perlahan tanpa terasa. Yang tersisa hanya nama tanpa kesadaran, simbol tanpa makna, bahkan akhirnya tidak tersisa apa-apa sama sekali.

Karena itu, apa yang terjadi hari ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada kemenangan militer atau politik semata. Agresi yang dimaksudkan untuk melemahkan Iran justru membuka jalan pengenalan terhadap Syiah di berbagai tempat. Banyak orang yang sebelumnya dipenuhi prasangka mulai membaca ulang. Banyak yang sebelumnya tidak mengenal Syiah mulai ingin tahu. Dan sebagian orang Syiah sendiri mulai menyadari bahwa menyembunyikan identitas terus-menerus hanya akan melahirkan keterputusan sejarah dan kehilangan generasi.

Karbala kembali menemukan resonansinya di dunia modern. Imam Husain hadir bukan sekadar sebagai tokoh sejarah yang dikenang dalam ritual duka, melainkan sebagai simbol keberanian moral yang hidup dalam kesadaran perlawanan terhadap penghinaan dan dominasi. Dalam konteks itulah hubungan emosional masyarakat Syiah terhadap Iran menjadi dapat dipahami. Hubungan itu bukan sekadar hubungan politik, melainkan hubungan sejarah, spiritualitas, dan makna perjuangan.

Sejarah memang sering bergerak dengan cara yang tidak terduga. Sesuatu yang dimaksudkan untuk menghancurkan justru membuka jalan pengenalan. Sesuatu yang dirancang untuk menakut-nakuti justru melahirkan keberanian. Dan sesuatu yang selama ini disembunyikan perlahan mulai menampakkan dirinya kembali di hadapan dunia. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA