Search

Amerika Serikat Diguncang Gelombang Protes

Aksi protes warga Amerika Serikat menuntut Donald Trump mundur dari jabatannya. (CNBC Indonesia)

BERITAALTERNATIF.COM – Jutaan orang tumpah ruah di lebih dari 2.000 kota di Amerika Serikat pada Sabtu 13 Juni. Mereka berbaris, meneriakkan slogan seperti “No to the King” dan “Get the Clowns Out”, dalam aksi nasional menuntut diakhirinya kekuasaan Presiden Donald Trump. Pesan mereka jelas: cukup sudah!

Gelombang protes ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan nasional, dengan 4.000 personel Garda Nasional dan 700 Marinir masih siaga di Los Angeles. Kebijakan imigrasi Trump, gaya pemerintahannya yang otoriter, serta rencana parade militer megahnya, menjadi pemicu utama ledakan kemarahan publik.

Aksi besar ini merupakan respons langsung terhadap rencana Trump menggelar parade militer di Washington, D.C., bertepatan dengan ulang tahun ke-250 Angkatan Darat AS dan ulang tahunnya sendiri yang ke-79.

Parade itu dianggap banyak pihak sebagai unjuk kekuasaan otoriter. Penyelenggara aksi “No to the King” menegaskan bahwa unjuk rasa kali ini adalah demonstrasi satu hari terbesar sepanjang masa jabatan kedua Trump.

“Alih-alih menjadikan parade ulang tahun sebagai panggung propaganda, kami memilih untuk menciptakan narasi yang berpusat pada rakyat,” ujar penyelenggara dalam pernyataan resmi.

Aksi berlangsung di seluruh negeri: dari kerumunan puluhan ribu orang di Philadelphia yang memenuhi Benjamin Franklin Parkway, hingga ribuan demonstran yang memadati jalan-jalan di Atlanta dan Los Angeles. Poster-poster bernada pedas bermunculan: “Ya Tuhan, apa yang dilakukan Partai Republik?” dan “Apakah kita sudah gila? Apakah kita buta terhadap Konstitusi?”

Teriakan seperti “Tidak ada raja! Tidak ada tiran!” menggema di Rocky Steps, Philadelphia, simbol ikonik perjuangan rakyat.

Namun, protes yang semula damai berubah menjadi mencekam ketika kekerasan politik menghantam Minneapolis. Dua anggota parlemen negara bagian ditembak dalam serangan yang disebut Gubernur Tim Walz sebagai aksi teror politik. Salah satunya, Melissa Hurtman, pemimpin Demokrat di DPR AS dilaporkan tewas. Di mobil pelaku, ditemukan selebaran bertuliskan “Kings Out”.

Di Salt Lake City, seorang peserta protes terluka parah akibat penembakan. Polisi meminta publik mengirimkan bukti visual kejadian. Di New York City, setidaknya delapan orang ditangkap. Di Los Angeles, situasi memanas saat pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu dan petasan; aparat membalas dengan perintah evakuasi dan penggunaan senjata tidak mematikan.

Sementara Trump berdiri di mimbar parade dengan latar tank Sherman dan bendera raksasa, puluhan ribu rakyat Amerika menunjukkan wajah lain dari negeri itu, wajah yang terluka, marah, dan tak mau diam.

Menurut laporan Wall Street Journal, parade ini tak lebih dari simbol kebangkrutan moral dan keretakan sosial yang semakin dalam. Di balik pertunjukan militer, kekacauan sipil dan kekerasan politik justru memperlihatkan Amerika yang tak lagi utuh.

Penembakan politis, ancaman terhadap anggota parlemen, dan evakuasi gedung legislatif di Texas menunjukkan bahwa konflik ini telah menembus dinding institusi. Di Washington, anggota DPR dari Partai Republik bahkan menggelar rapat darurat daring guna membahas keamanan nasional.

Ketika jalan-jalan dipenuhi rakyat yang menolak tunduk, dan istana kekuasaan justru dikeraskan dengan parade dan ancaman, satu pertanyaan besar menggantung di udara: akankah Amerika menjadi tanah kebebasan, atau kerajaan tirani yang disamarkan dengan demokrasi?

Jawaban mungkin akan ditentukan di jalanan, bukan di kotak suara. Sementara suara rakyat, hari itu, terdengar sangat jelas, “Usir badut itu. Kami tidak diperintah raja.” (*)

Sumber: Poros Perlawanan

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA