BERITAALTERNATIF.COM – Agresi Amerika Serikat menargetkan sebuah bandara, sebuah stasiun persimpangan kereta api, dan dua jembatan pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, yang menewaskan tiga warga sipil, menurut media pemerintah Iran.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa agresi AS yang menargetkan dua jembatan di Provinsi Hormozgan menewaskan tiga warga sipil dan melukai sembilan orang lainnya, merevisi jumlah korban yang sebelumnya dilaporkan.
Televisi tersebut juga mengonfirmasi bahwa “tiga ledakan terdengar di sekitar Bandara Iran Shahr, sementara sedikitnya satu proyektil milik Amerika Serikat menghantam bandara tersebut,” yang terletak di bagian tenggara negara itu.
Serangan AS menargetkan tiga jembatan di Iran, di antaranya: Bandar Khamir, sebuah jalan layang penting yang menghubungkan Bandar Abbas dengan Lar. Saat serangan terjadi, terdapat kendaraan yang sedang melintas di atas jembatan tersebut.
Sementara itu, Kantor Berita Mehr melaporkan melalui Telegram bahwa sebuah stasiun persimpangan kereta api di Bandar Abbas menjadi sasaran agresi Amerika Serikat, serta mengonfirmasi bahwa “dua warga Iran terluka dalam serangan tersebut.”
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa agresi AS lainnya melukai satu orang di kota pesisir Bushehr di Iran bagian barat.
Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA), mengutip Universitas Ilmu Kedokteran Hormozgan, juga melaporkan bahwa tujuh orang tewas akibat agresi AS terhadap jembatan-jembatan di Kota Bandar Khamir, sebuah kota pesisir yang terletak di Iran selatan.
Menurut IRNA, serangan AS terhadap wilayah selatan Iran pada Kamis malam telah menewaskan total delapan orang dan melukai 20 lainnya, dengan infrastruktur sipil menjadi sasaran utama.
Dalam konteks ini, misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan PBB yang mengecam tindakan agresi tersebut serta penargetan yang disengaja terhadap infrastruktur sipil.
Surat itu menegaskan bahwa agresi AS terhadap infrastruktur sipil merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan termasuk dalam kategori kejahatan perang.
Perkembangan ini terjadi ketika Washington terus melanjutkan agresinya selama beberapa hari terhadap sejumlah wilayah di Iran selatan, sementara Teheran merespons dengan menargetkan pangkalan, fasilitas, dan lokasi-lokasi strategis AS di kawasan tersebut.
Perlu dicatat bahwa Iran berulang kali menyatakan bahwa pangkalan militer dan aset ekonomi AS di kawasan Teluk telah digunakan untuk melancarkan tindakan agresi terhadap Iran, termasuk serangan yang mengakibatkan korban sipil.
Dalam kerangka tersebut, setiap tindakan Iran yang menargetkan fasilitas-fasilitas itu dipandang sebagai aksi balasan terhadap aktivitas militer yang bersifat permusuhan yang berasal dari atau difasilitasi oleh pangkalan-pangkalan tersebut. (*)
Sumber: Al Mayadeen












