BERITAALTERNATIF.COM – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan dari operasi tersebut yang gagal tercapai, tetapi berdasarkan pengakuan para pejabat Barat dan media-media Amerika, kebuntuan strategis serta kekalahan di medan militer dan politik justru menimpa pihak-pihak agresor.
Perang yang diawali dengan serangan besar-besaran dan pembantaian warga sipil, termasuk para pelajar yang tidak berdosa, dengan cepat berkembang menjadi krisis kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas serta memicu beragam reaksi di media internasional.
Media-media dunia, masing-masing dengan pendekatannya sendiri, berupaya membentuk narasi mengenai perang ini. Menelaah berbagai pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi sebenarnya di medan perang serta prospeknya ke depan.
Media-Media Inggris
Dalam sebuah analisis yang ditulis William Wechsler, mantan pejabat Pentagon, Atlantic Council menyatakan bahwa Donald Trump, dengan memulai “perang yang keliru” dan menandatangani “kesepakatan yang cacat”, telah membawa AS ke ambang “masa depan yang berbahaya”.
Menurut Wechsler, nota kesepahaman yang terdiri atas 14 pasal itu, dengan mengulangi kesalahan Woodrow Wilson dan Thomas Jefferson, pada praktiknya mengakui kendali de facto Iran atas Selat Hormuz, memungkinkan pembangunan kembali persenjataan Iran melalui anggaran rekonstruksi sebesar 300 miliar dolar AS, serta melalui klausul yang mengizinkan Iran mempertahankan “status quo program nuklirnya”, secara efektif membuka jalan bagi kelanjutan program persenjataan negara tersebut.
Wechsler menggambarkan empat skenario yang mungkin terjadi di masa depan: pelaksanaan kesepakatan yang berakhir dengan bencana, gagalnya perundingan dan kembalinya perang yang memicu resesi global, melemahnya kekuatan AS secara bertahap yang berujung pada perang baru di masa depan, serta skenario yang paling diharapkan, yaitu terciptanya stabilitas.
Ia mengajukan tiga langkah untuk menghindari bencana. Pertama, “membalik strategi negosiasi” dengan memperpanjang proses perundingan tanpa kembali berperang demi memulihkan cadangan minyak dunia. Kedua, memperkuat kehadiran militer melalui penempatan permanen kelompok tempur kapal induk di kawasan, membangun kembali seluruh pangkalan yang rusak, serta melakukan patroli laut untuk mengakhiri “normal baru” di Selat Hormuz. Ketiga, mempersiapkan diri menghadapi “perang berikutnya” dan memberikan dukungan yang diklaim ditujukan kepada rakyat Iran.
Di akhir analisisnya, Wechsler memperingatkan bahwa kegagalan dalam mempertahankan daya tangkal akan mengarah pada “Finlandisasi” kawasan Teluk Persia serta penyerahan bertahap negara-negara Arab terhadap meningkatnya kekuatan Iran.
The Guardian dalam laporannya dari Teheran menulis bahwa upacara pemakaman selama enam hari bagi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mendiang Pemimpin Revolusi Islam, akan diselenggarakan dengan dihadiri jutaan orang di seluruh Iran.
Menurut laporan tersebut, rangkaian upacara yang dimulai sejak Jumat dini hari dengan pendirian pos-pos pemeriksaan polisi dan markas relawan di Teheran itu disebut sebagai “peristiwa terpenting abad ini” sekaligus menjadi pertemuan massa terbesar sejak Revolusi Islam 1979.
The Guardian menambahkan bahwa jenazah pemimpin revolusi akan diarak dari Masjid Besar Mosalla Teheran menuju Lapangan Azadi. Wali Kota Teheran memperkirakan sekitar 20 juta orang akan mengikuti prosesi pada hari Senin.
Upacara yang berlangsung bertepatan dengan bulan Muharam itu disebut akan menyampaikan pesan-pesan politik dan keagamaan tentang perlawanan kepada dunia serta menunjukkan bahwa bangsa Iran “tidak akan tinggal diam menghadapi kezaliman dan arogansi”. Sesuai permintaan sejumlah politisi Irak, jenazah beliau juga akan dibawa melewati kota-kota suci Karbala dan Najaf sebelum akhirnya dimakamkan pada hari Kamis di Makam Imam Ridha (as) di Mashhad.
Laporan tersebut juga menyinggung kemungkinan tidak hadirnya Hujjatul Islam Mojtaba Khamenei, pemimpin baru Revolusi Islam. Mengutip Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, disebutkan bahwa “bangsa Iran yang mulia tidak akan membiarkan darah imam mereka berlalu tanpa balasan.”
The Guardian juga menyoroti ketatnya pengamanan di ibu kota, penutupan kantor-kantor pemerintahan, serta ditutupnya wilayah udara Teheran. Wali Kota Alireza Zakani menyebut prosesi itu sebagai “pertemuan terbesar dalam sejarah kota”, dengan berbagai pengaturan lalu lintas dan akomodasi yang telah dipersiapkan.
Associated Press dalam laporannya dari Teheran menulis bahwa Republik Islam Iran tengah mempersiapkan penyelenggaraan upacara pemakaman beberapa hari bagi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mendiang Pemimpin Revolusi Islam yang gugur syahid dalam perang.
Menurut laporan tersebut, spanduk-spanduk yang dipasang di seluruh ibu kota mengajak masyarakat bangkit mendukung sistem pemerintahan. Mulai Sabtu, jutaan orang diperkirakan akan memadati jalan-jalan Teheran dalam pemandangan yang mengingatkan pada pemakaman bersejarah pendiri Republik Islam pada tahun 1989.
Laporan itu menambahkan bahwa demonstrasi besar dukungan rakyat ini dapat menjadi penguat yang signifikan bagi pemerintah Iran, terutama ketika Teheran memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz sebagai salah satu kartu tawar dalam perundingan dengan AS guna mengakhiri perang secara permanen, sementara kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan baru Israel masih tetap ada.
Associated Press juga menyoroti kemunculan seorang jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam yang untuk pertama kalinya tampil di hadapan publik setelah beberapa bulan, serta kehadiran para pejabat tinggi pemerintah dan tokoh-tokoh asing sebagai simbol kekuatan Republik Islam.
Mengutip Mohammad Hossein Rezaei, salah seorang relawan penyelenggara upacara, laporan tersebut menyatakan bahwa kebijakan “tidak kepada kehinaan” yang diletakkan oleh pendiri Republik Islam akan terus berlanjut melalui kehadiran rakyat, dan bahwa seluruh keputusan akan tetap diambil di dalam negeri serta oleh rakyat Iran sendiri.
Media-Media China dan Rusia
Harian Rusia Izvestia, dalam laporan berjudul “Iran dan Amerika Serikat masih Jauh dari Kesepakatan Damai Final”, menulis bahwa meskipun intensitas pertempuran telah menurun dan dialog tidak langsung telah dimulai, Teheran dan Washington masih memiliki perbedaan mendasar mengenai isu-isu utama sehingga tercapainya kesepakatan komprehensif dalam waktu dekat dinilai kecil kemungkinannya.
Laporan tersebut menyebut bahwa hambatan terbesar adalah persoalan pengayaan uranium. Iran menegaskan bahwa hak melakukan pengayaan merupakan bagian dari hak kedaulatan yang tidak dapat dinegosiasikan, sementara AS menginginkan pembatasan yang lebih luas terhadap program nuklir Iran. Perselisihan mengenai mekanisme pelaksanaan komitmen, pencabutan sanksi, serta sistem verifikasi juga masih belum terselesaikan.
Menurut Izvestia, kedua belah pihak saat ini memiliki kepentingan untuk mencegah kembalinya perang, tetapi hal itu tidak berarti perdamaian yang berkelanjutan telah tercapai. Para pakar menilai bahwa kesepakatan yang ada saat ini lebih bersifat sementara dan dirancang untuk membeli waktu serta mencegah memburuknya krisis.
Para analis berpendapat bahwa mengubah kesepahaman awal tersebut menjadi perjanjian final membutuhkan perundingan yang sulit dan saling memberikan konsesi. Situasi politik domestik di kedua negara, ditambah peran para aktor regional, membuat proses negosiasi menjadi semakin rumit.
Surat kabar tersebut juga menyinggung pengaruh isu-isu regional lainnya, termasuk situasi Lebanon, keamanan Teluk Persia, dan Selat Hormuz terhadap jalannya perundingan. Menurut laporan itu, setiap ketegangan baru di kawasan tersebut dapat menyebabkan dialog terhenti atau bahkan gagal.
Secara keseluruhan, para pakar Rusia menilai bahwa meskipun risiko perang telah menurun dibanding sebelumnya, masih terdapat jarak yang cukup besar menuju tercapainya kesepakatan yang menyeluruh dan berkelanjutan antara Iran dan AS. Negosiasi kini telah memasuki fase yang panjang, rumit, dan melelahkan.
Sementara itu, kantor berita Xinhua melaporkan bahwa upacara pemakaman Pemimpin Syahid Revolusi Islam dimulai pada hari Jumat di Teheran dengan dihadiri masyarakat dalam jumlah besar serta delegasi tingkat tinggi dari berbagai negara di Musala Imam Khomeini.
Menurut Xinhua, sejak pagi hari masyarakat telah memadati lokasi upacara untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Pemimpin Revolusi Islam.
Laporan tersebut menambahkan bahwa para pejabat dan perwakilan dari lebih dari 100 negara hadir dalam acara tersebut. Di antara para tamu asing terdapat kepala negara, ketua parlemen, menteri luar negeri, utusan khusus pemerintah, serta tokoh-tokoh politik dari berbagai kawasan dunia yang datang ke Teheran untuk menyampaikan penghormatan.
Mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Xinhua menyebut upacara tersebut sebagai sebuah peristiwa bersejarah dan penting. Kehadiran luas delegasi asing dinilai mencerminkan kedudukan internasional Pemimpin Syahid Revolusi Islam sekaligus menunjukkan arti penting acara tersebut di tingkat global.
Laporan itu juga menyebut bahwa demi kelancaran penyelenggaraan upacara, sejumlah tempat umum di Teheran ditutup sementara dan berbagai langkah khusus telah diterapkan untuk mengelola besarnya jumlah peserta serta tamu asing yang hadir. (*)
Sumber: Mehr News












