Search

Aliisme dan Magma Perlawanan

Penulis. (Alqurba TV)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Dalam dialektika moral peradaban, terpateri prinsip abadi bahwa kebenaran sejati—baik pada individu maupun kelompok—terverifikasi justru melalui kebencian yang ditimbulkannya di hati para pelaku kejahatan. Ketika suatu entitas dibenci oleh perampas hak, penindas, dan perusak tatanan, kebencian itu bukan cela melainkan legitimasi. Ia lahir dari ancaman eksistensial: kehadirannya mencabut topeng kepalsuan, menggoncang kerajaan kegelapan, dan menyalakan api keadilan yang membakar kebatilan. Kebencian pun berubah menjadi mahkota tak kasatmata—saksi bisu bahwa sang pembenci sedang berhadapan dengan kebenaran yang tak tergoyahkan.

Prinsip ini termanifestasi sempurna dalam metafora cahaya dan kegelapan. Semakin murni terang yang dibawa seseorang, semakin menyilaukan ia bagi mata yang terpapar kelam—memicu reaksi visceral: kebencian, amarah, dan upaya pemadaman. Mereka membenci bukan karena kesalahan cahaya, melainkan karena sinarnya menyingkap distorsi dalam diri mereka. Setiap desis kebencian dari mulut penjahat adalah gema pengakuan: bahwa di hadapan mereka berdiri kekuatan yang terlalu lurus untuk disuap, terlalu kokoh untuk ditaklukkan, dan terlalu suci untuk dinodai.

Sejarah menjadi saksi agung atas prinsip ini. Kebencian sistematis yang diterima para pengikut Ali ibn Abi Thalib sepanjang zaman—dari pengkhianat, pencabik persatuan, hingga penjilat kekuasaan—justru menjadi medali kehormatan. Setiap gemuruh kebencian itu membuktikan dua hal: pertama, mereka berdiri di pihak kebenaran mutlak yang mengancam singgasana kezaliman; kedua, warisan spiritual mereka adalah cahaya yang terlalu agung untuk ditolerir kegelapan. Dalam konteks inilah kebahagiaan menjadi hak mereka. Kebencian yang ditujukan kepada mereka adalah pengakuan abadi bahwa mereka duri dalam daging kezaliman. Maka berputarlah siklus abadi: kebenaran muncul, kebencian penjahat bangkit, kebenaran terverifikasi, dan para pejuang diteguhkan. Selama kebencian itu ada, selama itu pula dunia tahu panji keadilan masih berkibar—dan para pembawanya hidup dalam setiap perlawanan terhadap kelam.

عَلِيٌّ مَعَ الْحَقِّ وَالْحَقُّ مَعَ عَلِيٍّ

“Ali bersama kebenaran. Dan kebenaran bersama Ali.”

Aliisme bukanlah kultus individu. Ia hidup dalam jiwa yang menjadikan kebenaran sebagai kompas, keadilan sebagai napas, dan keteguhan sebagai senjata. Api spiritualnya menyala abadi—menyalakan hati yang menolak diam di hadapan kelaliman. Magma perlawanan terakumulasi di bawah permukaan kesabaran. Setiap kebencian dari penindas, setiap fitnah perusak moral, menjadi tekanan yang memampatkannya. Mereka yang ketagihan penyesatan silakan melanjutkan mengisap opium intoleransi sambil duduk manis menyaksikan Aliisme menggoreng para pelaku kezaliman yang tak peduli agama dan mazhab. Hingga pada waktunya ia menyembur: menghanguskan kepalsuan, mengubur keangkuhan, menyuburkan bumi dengan bijih kebajikan baru.

Maka selama kezaliman ada, Aliisme tetap bergema. Selama Aliisme bergema, magma perlawanan terus bergolak. Di setiap desah pejuang yang menolak kompromi pada batil, di setiap langkah di jalan sunyi membela tertindas—di sanalah ia menemukan wujudnya. Dan selama kebenaran itu ada—di mana pun, pada siapa pun—maka di sana pula magma itu tetap membara: siap mengubah peta peradaban. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA