Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Dulu, saya mengukur seseorang dari ilmunya—terutama ilmu agama. Dalam pandangan saya sebagai seorang Syiah, mereka yang paling dekat dengan para imam adalah para marja. Sejak usia belia mereka telah mengabdikan diri: belajar, mendalami, menempa diri, hingga mencapai derajat mujtahid. Dari fatwanya ditentukan sah dan tidaknya ibadah. Dari ijtihadnya bergantung amal-amalan umat. Dan di sisi lain, ada para filsuf dan teolog—mereka yang menggenggam keilmuan rasional dengan kedua tangan. Saya mengukur kehebatan seseorang dari pandangan filosofisnya, dari penguasaannya atas literatur yang tebal dan berat, dari istilah-istilah yang ditampilkannya, dari kitab-kitab yang telah disyarahinya. Itulah timbangan yang saya pegang. Itulah standar yang saya anggap paling adil.
Namun waktu bergerak. Dan pandangan pun ikut bergeser. Bukan berarti penghormatan itu luntur. Para ulama, para marja, para fuqaha, para mufasir—mereka tetap saya muliakan, yang masih hidup maupun yang telah kembali kepada-Nya. Akan tetapi, saya mulai melihat sesuatu yang selama ini luput dari penglihatan saya: bahwa ukuran keilmuan tidak cukup berhenti pada teks. Tidak cukup berdiam dalam teori. Ilmu yang sejati harus turun ke bumi—harus berwajah, harus bergerak, harus meninggalkan jejak.
Alhamdulillah, saya beruntung menjadi bagian dari generasi pertama “talabeh” Indonesia pasca Revolusi Islam yang pernah duduk sebagai murid di hadapan sejumlah guru hauzah yang kelak menjadi ikon-ikon besar dalam tradisi keilmuan Islam. Saya pernah menimba ilmu dari Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, yang kemudian dikenal sebagai salah satu filsuf besar hauzah. Mengais secercah dari laguna hikmah malakutiyah Ayatullah Hasan Hasanzadeh Amuli, sang arif yang memancarkan aura malakuti dan dikenal sebagai maestro gnosis. Memungut premis-premis sentesis primasi eksistensi-esensi dari Ayatullah Gholam Reza Fayyazi, yang kelak tampil sebagai kritikus tajam Hikmah Mutaaliyah dan pelopor New-Sadrianisme. Menyimak paparan-paparan tajam dan bernas Ayatullah Sayyid Kamal Haydari, pemikir lintas disiplin yang menjadi marja progresif juga kontroversial. Menghadiri kuliah berseri Ayatullah DR. Sadiqi dalam tafsir kosmologi dan astronomi Alquran yang membuka cakrawala baru dalam penafsiran. Dari Ayatullah Sayyid Khotami, Imam Jumat Yazd sekaligus ayah dari mantan Presiden Iran. Dari Ayatullah Husaini Busyehri, mantan Direktur Madrasah Hujjatiyah dan mantan Direktur Hauzah Ilmiah Qom, yang namanya pernah mencuat sebagai salah satu kandidat kuat Pemimpin Tertinggi. Juga dari Ayatullah Sayyid Jalali, Ayatullah Nur Muhammadi, Ayatullah Ali Kurani pakar Fiqh Siyasah, Ayatullah Sayyid Syahid Baqir Al-Hakim, Ayatullah Sayyid Eshkewari, Ayatullah Khaqani, Ayatullah Ja’far Al-Hakim, dan sejumlah guru besar Hauzah Ilmiah Qom lainnya yang masing-masing meninggalkan bekas mendalam dalam perjalanan intelektual saya.
Kepada mereka semua saya menyimpan hormat yang tak terhingga dan hutang budi yang tak akan pernah lunas. Nama-nama itu bukan sekadar daftar—mereka adalah guru, mereka adalah cermin, mereka adalah warisan hidup dari tradisi keilmuan yang agung. Merekalah yang membentuk cara saya membaca, cara saya berpikir, dan cara saya memandang dunia.
Namun justru karena telah belajar dari mereka—justru karena pernah mengenal kedalaman tradisi itu dari dalam—saya kemudian mampu melihat sesuatu yang melampaui semua itu. Sesuatu yang tidak sepenuhnya terjawab oleh kitab-kitab, tidak sepenuhnya terwadahi oleh argumen-argumen aksiomatik, tidak sepenuhnya tercakup oleh istilah-istilah teknis yang memukau.
Pergeseran itu semakin jelas ketika saya menatap sosok Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei. Di sana saya menemukan sebuah potret yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya: seorang agamawan multidimensional yang utuh, seorang marja progresif yang tidak membeku dalam teks, seorang faqih kosmopolit yang membaca dunia sebagaimana ia membaca kitab.
Bukan karena ia pasti melampaui semua marja dalam penguasaan kitab-kitab klasik—mungkin ada yang lebih hafal, lebih teknis, lebih dalam dalam urusan riwayat dan sanad. Namun ia melakukan sesuatu yang tidak semua orang berani lakukan: ia membawa fikih turun dari menara, dan berjalan bersamanya di tengah sejarah yang sedang berderak.
Ia memahami realitas politik dan membaca peta geopolitik dengan ketajaman yang tidak lahir dari ruang belajar semata. Ia mengenali strategi-strategi mereka yang memusuhi Islam—bukan hanya untuk menangkisnya, tetapi untuk mengatasinya. Ia membangun jembatan persatuan di atas jurang-jurang perpecahan, mengambil sikap-sikap yang menjaga umat bahkan dalam isu-isu yang secara internal menyimpan bara dan ketegangan. Ia mengenal dunia sastra. Ia memahami pemikiran-pemikiran di luar tradisinya. Ia membaca masyarakat dengan kepekaan seorang budayawan sekaligus kewaspadaan seorang negarawan. Ilmunya tidak terkurung dalam satu disiplin—ia menjadikan ilmu itu bernapas dalam kehidupan nyata, hadir dalam realitas yang terus berubah.

Namun di atas segalanya—dan inilah yang paling menggetarkan saya—dengan segala kebesaran, keagungan, dan penghormatan umat yang menghampirinya dari segala penjuru, ia tetap memposisikan diri sebagai pengikut. Sebagai seorang fakih yang berjuang dalam kerangka kepatuhan. Sebagai hamba yang tunduk, sebagai pejuang yang setia. Ia adalah ayah bagi setiap individu Mukmin. Ia adalah teladan moral yang begitu dibutuhkan—bukan hanya oleh umat Islam, tetapi oleh umat manusia yang haus akan sosok yang menyatukan antara ilmu dan adab, antara kekuasaan dan kerendahan hati, antara kebesaran dan ketundukan. Jika para guru saya adalah bintang-bintang yang menerangi langit keilmuan, maka Imam Syahid Ali Khamenei adalah matahari yang terlalu benderang—cahayanya tidak hanya menerangi, tetapi menghangatkan, menggerakkan, dan menghidupkan.
Kemudian saya menatap Sayyid Syahid Hassan Nasrallah—dan di sana saya menemukan lapisan makna yang berbeda, namun sama dalamnya. Secara jenjang formal, mungkin ia tidak lama belajar di hauzah, dan mungkin tidak mencapai tingkat mujtahid dalam pengertian teknis yang lazim digunakan. Namun ia adalah mujtahid dalam pengertian yang lebih luas dan lebih hidup—seorang mujtahid kosmopolit yang berhasil menyelaraskan dirinya dengan seluruh lapisan realitas yang mengitarinya. Ia selaras dengan dinamika Lebanon yang rumit dan penuh luka. Ia selaras dengan dunia Syiah yang luas dan beragam. Ia selaras dengan dunia Arab yang bergolak, dengan dunia Islam yang mencari arah. Dan dalam keselarasan itu, ia tidak kehilangan dirinya—ia tetap berdiri sebagai seorang Syiah, sebagai seorang pengikut, sebagai seorang tokoh, sekaligus sebagai warga negara yang berakar kuat dalam tanah bangsanya. Tidak larut. Tidak tercerabut. Tidak terseret.
Ia berdiri berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang namanya saja cukup untuk membuat banyak orang mundur: Amerika, Israel. Namun ia tidak bergeser. Ia melahirkan satu generasi besar yang mengharumkan nama Syiah ke seluruh dunia. Dan jika kita mendengarkan ceramah-ceramahnya, hikmah-hikmahnya—di dalamnya mengalir deras dimensi filosofis, dimensi gnosis, dimensi sejarah, dimensi budaya, dimensi pemikiran. Semuanya hadir dengan kuat, tersusun rapi, dengan gaya bahasa yang tinggi—namun tidak berhenti sebagai keindahan kata. Ia membangkitkan. Ia menggerakkan. Ia melahirkan pejuang. Di situlah saya melihat bahwa ilmu yang tidak berujung pada gerakan hanyalah arsip—dan Hassan Nasrallah adalah bukti bahwa seorang mujtahid sejati bukan hanya yang memahami teks, tetapi yang mampu mengubah teks menjadi sejarah. Ia adalah purnama di langit dunia Syiah dan dunia Islam—terang yang lembut namun tak pernah padam, bahkan setelah raganya tiada.

Dan dari kedua sosok itulah saya akhirnya menyadari sesuatu tentang filsafat—sesuatu yang dulu tidak mampu saya lihat. Saya pernah menganggap filsafat sebagai mahkota keilmuan. Ilmu yang mengesankan, yang membuat orang terbelalak, yang mampu mematahkan lawan dengan argumen-argumen aksiomatik. Saya mengenali kebanggaan itu. Saya pernah menikmatinya. Namun kemudian saya sadar bahwa filsafat yang tidak mengarahkan kepada kepatuhan adalah kekeliruan yang berkedok kebijaksanaan. Ia bisa menjadi benih kesombongan, rasa superior, kecenderungan meremehkan—jika tidak dijadikan motor penggerak. Sekadar berpindah dari satu diskusi ke diskusi lain, memamerkan teori dan mengutip nama-nama besar—itu bukan ilmu. Itu pertunjukan.
Filsafat yang sejati harus hadir sebagai sistem yang menggerakkan, yang membentuk militansi, yang menumbuhkan komitmen, yang melahirkan pejuang. Karena yang benar-benar berguna di medan bukanlah teori yang menggantung di udara—melainkan keyakinan yang turun ke tanah dan berjalan dengan kaki. Dan itulah yang saya saksikan—terbukti, nyata, dan hidup—dalam diri Khamenei yang membawa fikih menjadi peradaban, dan dalam diri Nasrallah yang mengubah hikmah menjadi perlawanan.
Maka kini saya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana namun berat: ilmu yang sejati bukan hanya yang dipahami—tetapi yang dialami, yang menggerakkan, dan yang meninggalkan jejak nyata dalam sejarah umat manusia. Bukan ilmu yang berhenti di rak-rak perpustakaan, bukan pemikiran yang hanya berputar dalam ruang diskusi—melainkan ilmu yang menjelma menjadi sikap, menjadi keberanian, menjadi pengorbanan, dan pada akhirnya, menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi mereka yang datang sesudahnya.
Kepada para guru saya di Qom, saya tetap menyimpan cinta dan penghormatan yang tak ternilai. Merekalah yang mengajarkan saya cara memegang pena, cara membaca argumen, cara berdiri dalam tradisi yang agung. Namun Imam Khamenei dan Syahid Nasrullah mengajarkan saya sesuatu yang lebih: cara memegang pedang tanpa melepas pena, cara berdiri dalam sejarah tanpa kehilangan akhirat, dan cara menjadi manusia yang ilmunya bukan hanya memenuhi kepala—tetapi membakar dada dan menggerakkan kaki menuju yang benar, sejauh apa pun jaraknya dan seberat apa pun harganya. (*Cendekiawan Muslim)












