BERITAALTERNATIF.COM – Pakar kebugaran dan tokoh inspiratif kesehatan Indonesia, Ade Rai, kembali mengedukasi publik mengenai pentingnya memahami cara kerja insulin dalam tubuh, serta bagaimana resistensi insulin menjadi akar dari banyak penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2.
Dalam penjelasannya, Ade Rai menyederhanakan peran insulin layaknya kurir Grab atau Gojek yang bertugas mengantar gula (glukosa) ke dalam sel.
“Agar gula bisa digunakan tubuh sebagai energi, insulin harus masuk melalui reseptor khusus di sel. Tapi jika kita terlalu sering makan karbohidrat, pintu reseptor ini lama-lama tertutup,” jelasnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Dunia Ade Rai pada Sabtu (24/5/2025).
Kondisi ini disebut resistensi insulin, di mana sel menolak menerima insulin meski kadarnya tinggi di dalam darah. Tubuh justru merespons dengan memproduksi lebih banyak insulin, yang akhirnya menciptakan lingkaran setan bernama hyperinsulinemia.
Menurut Ade Rai, salah satu solusi alami dan efektif untuk mengembalikan sensitivitas reseptor insulin adalah dengan latihan beban.
“Otot itu ibarat glucose sponge, busa penyerap gula. Kalau sering digunakan, otot akan punya reseptor insulin yang aktif. Ini membantu menyerap gula lebih cepat dan menurunkan kebutuhan tubuh akan insulin,” katanya.
Dia menambahkan bahwa otot menyumbang hingga 75% dari massa tubuh manusia, sehingga sangat berpengaruh dalam pengelolaan kadar gula darah.
“Semakin besar dan aktif ototmu, semakin kecil kemungkinan kamu mengalami resistensi insulin,” tegasnya.
Tak hanya diabetes, resistensi insulin juga dikaitkan dengan sejumlah penyakit berat lainnya seperti kanker, perlemakan hati (fatty liver), penyakit jantung, stroke, hingga alzheimer.
Dia juga mengingatkan publik agar tidak serta-merta menyalahkan genetik atas penyakit metabolik yang diderita. “Yang sering diturunkan bukan hanya DNA, tapi kebiasaan. Kalau orang tua kita punya pola hidup buruk, lalu kita tiru, maka hasilnya akan sama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa diabetes tipe 2 adalah penyakit gaya hidup (dietary disease), dan karena itu, bisa dicegah serta dibalikkan melalui perubahan perilaku, seperti mengurangi asupan karbohidrat olahan, memperbanyak aktivitas fisik, dan membangun pola makan yang lebih sehat.
“Perubahan kecil dilakukan konsisten akan berdampak besar,” tutup Ade Rai. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












