Search

Ade Rai Beberkan Sejumlah Penyebab Resistensi Insulin

Pakar kesehatan dan kebugaran Indonesia, Ade Rai. (RCTI Plus)

BERITAALTERNATIF.COM – Pakar kebugaran nasional Ade Rai menyampaikan pandangan kritis terhadap budaya makan masyarakat Indonesia yang dianggap kurang bersinergi dengan prinsip kesehatan.

Dalam penjelasannya, Ade menekankan bahwa pola makan tinggi karbohidrat olahan, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan mempertahankan makanan tertentu demi cita rasa justru bisa menjadi pemicu utama resistensi insulin yang berdampak jangka panjang terhadap kesehatan.

Menurut dia, banyak orang merasa makanan belum “sempurna” tanpa tambahan seperti kerupuk atau lauk tertentu, padahal itu sering kali memperparah ketidakseimbangan nutrisi.

“Kita mempertahankan budaya makan, tapi mengorbankan kesehatan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Dunia Ade Rai pada Sabtu (24/5/2025).

Ia menyoroti bahwa konsumsi karbohidrat yang berlebihan dapat memicu produksi insulin secara terus-menerus hingga menyebabkan tubuh menjadi kurang responsif terhadap hormon tersebut—suatu kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin.

Ade menjelaskan bahwa resistensi insulin tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkelindan dengan inflamasi atau peradangan dalam tubuh.

“Inflamasi bisa disebabkan oleh konsumsi gula, tepung, minyak goreng, margarin, rokok, alkohol, stres, dan emosi negatif,” katanya.

Peradangan kronis membuat tubuh seperti mengalami “kecelakaan” internal yang membutuhkan energi tinggi, sehingga distribusi glukosa menjadi tidak merata dan memperburuk resistensi insulin.

Poin penting lain yang disampaikan Ade adalah hubungan antara massa otot dan sensitivitas insulin.

“Semakin banyak otot, semakin baik tubuh merespons insulin,” ungkapnya.

Sayangnya, seiring bertambahnya usia, massa otot menurun secara alami. Setelah usia 40 tahun, seseorang bisa kehilangan 1% massa otot per tahun, 3–5% kekuatan otot per tahun, dan 8–10% kecepatan gerak eksplosif per tahun.

Ade menekankan pentingnya latihan beban untuk mempertahankan massa otot dan mencegah gangguan metabolik.

Ade menjabarkan sejumlah faktor gaya hidup yang memperburuk resistensi insulin, di antaranya gaya hidup sedentari (tidak aktif secara fisik), stres berkepanjangan, kurang tidur, serta ketidakseimbangan mikrobiota usus, akibat pola makan rendah serat, toksisitas, atau konsumsi antibiotik berlebih.

Selain itu, penumpukan lemak abnormal, terutama visceral fat (lemak di sekitar organ dalam) dan ectopic fat (lemak di tempat yang tidak seharusnya seperti otot dan liver).

Lemak jenis ini tidak hanya mengganggu fungsi organ, tetapi juga memperkuat lingkaran resistensi insulin.

Ade juga menyoroti bahwa resistensi insulin bisa muncul secara alami dalam fase-fase tertentu:

Pertama, pubertas. Hormon meningkat drastis, tapi sensitivitas insulin bisa kembali setelah masa ini lewat.

Kedua, kehamilan. Tubuh sengaja menciptakan resistensi insulin untuk janin, tapi biasanya membaik pasca melahirkan.

Ketiga, menopause. Hormon estrogen menurun, mempengaruhi sensitivitas insulin.

Keempat, penuaan. Berkurangnya massa otot mempersulit tubuh mengelola glukosa.

Namun, ia menekankan bahwa semua kondisi ini bisa dibalikkan atau dikelola, tergantung pada pola perilaku dan gaya hidup.

Di akhir penjelasannya, Ade menegaskan bahwa tubuh memiliki potensi untuk pulih dari resistensi insulin.

“Begitu puber lewat, sensitivitas insulin bisa kembali. Setelah hamil, bisa kembali. Begitu juga setelah menopause. Tapi semua tergantung perilaku,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap pentingnya menjaga pola makan, olahraga, tidur cukup, serta menjaga kesehatan mental sebagai kunci utama melawan resistensi insulin dan menjaga kualitas hidup. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA