Search

20 Kecamatan di Kukar Alami Karhutla, Fida Hurasani: Hampir 90 Persen Faktor Manusia

Potret kebakaran lahan di Kukar. (Disdamkarmatan Kukar)

BERITAALTERNATIF.COM – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di 20 kecamatan yang ada di daerah tersebut.

Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, menegaskan bahwa kesimpulan tersebut diambilnya setelah terlibat secara aktif menangani karhutla di Kukar selama dua bulan terakhir.

“Dua puluh kecamatan ada semua titik apinya. Walaupun di setiap kecamatan punya karakter masing-masing,” kata Fida kepada awak media Berita Alternatif pada Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, titik kebakaran terjadi dari Kecamatan Tabang hingga Marangkayu. Setiap kecamatan terdapat titik api.

“Titiknya memang ada semua. Dari Tabang sampai Marangkayu itu ada. Tidak ada yang terlewatkan. Tinggal diperhatikan besar kecilnya,” jelasnya.

Dia menyebut wilayah pesisir menjadi salah satu kawasan yang menghadapi kondisi cukup ekstrem. Salah satunya terjadi di Kecamatan Marangkayu yang sempat mendapat perhatian serius karena kebakaran yang terjadi di wilayah tersebut.

Untuk menangani kebakaran tersebut, Disdamkarmatan Kukar menurunkan dua tim yang bekerja selama dua hari.

“Kemarin Marangkayu sempat mau di-water bombing sama Bupati. Alhamdulillah kita jor-joran di situ, saya turunkan dua tim dan menyelesaikannya selama dua hari,” ungkapnya.

Ia mengatakan rencana water bombing atau pemadaman menggunakan bom air masih menjadi salah satu opsi apabila kondisi kebakaran membutuhkan penanganan dari udara. Namun, pelaksanaannya bergantung pada hasil pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait.

Fida juga menegaskan pihaknya tidak akan meninggalkan lokasi kebakaran sebelum memastikan api benar-benar padam.

Dia berpendapat, asap yang masih terlihat menjadi salah satu indikator bahwa proses pemadaman belum selesai.

“Saya tidak mengizinkan meninggalkan lokasi dalam posisi masih berasap. Saya tidak mengizinkan. Sampai ketika kita berangkat,” tegasnya.

Untuk memastikan kondisi tersebut, Disdamkarmatan Kukar melibatkan aparat desa setempat dalam pemeriksaan akhir. Jika lokasi kebakaran berada di sekitar atau berbatasan dengan konsesi perusahaan, pihak perusahaan juga akan dilibatkan untuk memastikan kondisi di lapangan. “Kalau mereka sudah menyatakan aman, kita keluar,” jelasnya.

Karakter Lahan Berbeda

Dalam penanganan karhutla, Fida mengatakan pihaknya menemukan karakter lahan yang beragam. Sebagian kebakaran terjadi di kawasan gambut, sementara lainnya berada di lahan terbuka atau lahan yang telah dibuka masyarakat.

Dia menjelaskan, karakter gambut di Kukar juga memiliki perbedaan dengan wilayah lain. Sebagian kawasan gambut di Kukar berada pada lingkungan danau atau rawa yang sangat dipengaruhi kondisi curah hujan dan ketersediaan air.

Ia menerangkan, ketika tidak terjadi hujan dalam waktu cukup lama, debit air yang menjadi sumber air di kawasan tersebut akan menyusut. Kondisi tersebut kemudian membuat lapisan atas lahan gambut mengalami kekeringan.

Fida menyebut berdasarkan pengamatannya di lapangan, tingkat kekeringan gambut di sejumlah lokasi saat ini belum separah kondisi yang pernah terjadi sebelumnya.

“Kalau kita bicara gambut, kekeringannya masih level atas. Kekeringannya masih di bawah 30 sentimeter. Jadi, kondisinya masih belum separah beberapa waktu yang lalu,” katanya.

Faktor Manusia Dominan

Fida menilai sebagian besar kejadian kebakaran yang ditanganinya dalam beberapa waktu terakhir diduga berkaitan dengan aktivitas manusia.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama terlibat dalam penanganan kebakaran, dia memperkirakan hampir 90 persen kejadian bukan disebabkan faktor alam.

“Jelas kejadian hari ini hampir 90 persen itu akibat manusia, bukan karena alam,” ungkapnya.

Ia mengatakan dugaan tersebut tidak terlepas dari karakter lokasi kebakaran yang banyak berada di sekitar permukiman dan lahan yang dimanfaatkan masyarakat.

Namun, Fida menegaskan pernyataan tersebut merupakan hasil pengamatan di lapangan dan bukan tuduhan terhadap pihak tertentu. Penyebab kebakaran tetap perlu dibuktikan secara akademis dan teknis.

“Tapi saya berbicara apa yang saya lihat, apa yang saya alami, yang saya hadapi di beberapa lokasi saya ikut pemadaman,” jelasnya.

Dia juga mengutip penjelasan seorang akademisi alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah disampaikannya dalam sebuah forum resmi. Menurut penjelasan tersebut, gambut tidak akan terbakar dengan sendirinya hanya karena suhu udara berada pada kondisi seperti saat ini.

Ia menyebut gambut membutuhkan suhu yang jauh lebih tinggi untuk dapat terbakar secara alami. Sementara suhu udara di Kukar saat ini, menurutnya, masih berada di bawah 45 derajat Celsius.

Kawasan Tol IKN Jadi Pengecualian

Meski menilai faktor manusia dominan dalam banyak kejadian, Fida menyebut terdapat lokasi tertentu yang menurut pengamatannya memiliki karakter berbeda.

Ia mencontohkan beberapa titik di sekitar kawasan tol Balikpapan-Samarinda, khususnya pada kisaran kilometer 51 hingga 53. Di kawasan tersebut, menurut Fida, terdapat hamparan batu bara yang dapat menjadi salah satu faktor pemicu kebakaran.

“Itu kan ada beberapa kali terbakar. Nah, itu bisa kita simpulkan akibat alam, karena ada hamparan batu bara sedikit di situ,” katanya.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki kondisi berbeda karena tidak terdapat aktivitas manusia yang berdekatan seperti permukiman atau kebun warga.

Fida menjelaskan, material batu bara yang berada di permukaan atau dekat permukaan tanah dapat mempertahankan panas dalam kondisi tertentu, terutama apabila tidak terkena air.

Namun, dia kembali menegaskan bahwa faktor penyebab kebakaran tetap perlu dibuktikan melalui kajian teknis.

“Batu bara kan terus-menerus panas, tidak kena air, itu bisa memicu juga. Tapi kalau yang lain, saya tidak mau menuduh langsung. Ini juga harus dibuktikan secara akademis dan teknis,” tuturnya.

Petugas Hadapi Tantangan di Lapangan

Dalam beberapa bulan terakhir, Disdamkarmatan Kukar terus terlibat aktif dalam penanganan kebakaran di berbagai wilayah Kukar.

Fida mengatakan tantangan utama tidak hanya berkaitan dengan luas wilayah dan karakter lahan, tetapi juga kondisi di lapangan yang dapat berubah dengan cepat.

Di sejumlah kawasan pesisir, dia bahkan menyaksikan langsung kepanikan masyarakat ketika kebakaran mendekati permukiman.

“Kalau di Pendingin itu saya menyaksikan sendiri. Saya mendengar sendiri jeritan-jeritan masyarakat, panik, kekhawatiran. ‘Tolong air, tolong pemadam, tolong Pak.’ Jadi itu saya mendengar sendiri, saya menyaksikan sendiri,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, katanya, menunjukkan pentingnya kecepatan respons dan kesiapsiagaan petugas dalam menghadapi karhutla.

Ia memastikan Disdamkarmatan Kukar akan terus mengerahkan personel dan peralatan yang tersedia untuk menangani kebakaran di berbagai wilayah Kukar.

Meski distribusi personel dan peralatan di 20 kecamatan belum sepenuhnya merata, keberadaan unit pemadam di setiap wilayah menjadi modal penting dalam mempercepat penanganan ketika kebakaran terjadi.

Fida menegaskan pihaknya akan terus bekerja bersama pemerintah daerah, BPBD, aparat desa, perusahaan, dan masyarakat untuk memastikan setiap lokasi kebakaran benar-benar aman sebelum petugas meninggalkan lokasi. (*)

Penulis: Arif Rahmansyah
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA