Search

Untuk Kalian yang Terlanjur Benci Iran dan Syiah

Penulis. (Alqurba TV)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Seperti singa yang lepas dari kurungan, kebenaran tak butuh pembelaan berbelit-belit. Ia akan mengaum dan mempertahankan dirinya sendiri, sebagaimana Augustinus pernah menggambarkan kekuatan fakta yang tak terbantahkan. Namun, selama puluhan tahun, dunia Islam terbuai oleh candu narasi yang menyebut konflik Iran-Israel sebagai sandiwara belaka. Narasi ini, laksana opium, meninabobokan mereka yang menolak realitas: Iran, negara Syiah, adalah satu-satunya kekuatan Muslim yang berani meluncurkan serangan rudal langsung ke jantung Israel. Pada Juni 2025, ketika rudal-rudal Iran menghantam infrastruktur Tel Aviv, menewaskan puluhan warga Israel, dunia tersentak. Data satelit, laporan kerusakan, dan deretan korban jiwa menghancurkan tembok ilusi yang dibangun di atas kebencian sektarian. Ini bukan drama, ini perang nyata.

Tak perlu takut terpengaruh atau beralih ke Syiah. Ketangguhan sering kali muncul dari hal kecil, bak atom yang penuh daya. Mengakui fakta bukan berarti mengubah keyakinan, melainkan menunjukkan keberanian untuk melihat kebenaran apa adanya. Iran telah menunjukkan keberanian yang sulit disangkal. Namun, mengapa fakta ini begitu sulit diterima oleh sebagian orang?

Kebutaan sektarian adalah akar masalahnya. Bagi sebagian kalangan Sunni, dendam terhadap Syiah jauh lebih membara daripada kebencian terhadap Zionis, penjajah Palestina. Iran dicap sebagai musuh dalam selimut, sementara Israel diterima melalui normalisasi diam-diam seperti Abraham Accords oleh Uni Emirat Arab, Bahrain, dan bahkan Arab Saudi. Ketergantungan pada hegemoni Amerika Serikat memperburuk situasi. Negara-negara Sunni, terikat oleh kontrak senjata, investasi, dan perlindungan AS—sekutu utama Israel—memilih bungkam saat Iran diserang. Lebih ironis lagi, doktrin pengkafiran dari segelintir ulama konservatif, yang menyebut Syiah bukan Islam, menutup mata terhadap fakta bahwa Iran melindungi 50.000 warga Yahudi di wilayahnya. Kebencian ini telah melumpuhkan nalar: mengapa memusuhi Syiah lebih diprioritaskan daripada melawan pembantaian di Gaza?

Keberanian Iran, bagaimanapun, tak terbantahkan. Operasi True Promise III pada Juni 2025, dengan lebih dari 150 rudal balistik dan 100 drone yang menghantam Israel, mencatat sejarah sebagai serangan militer langsung pertama oleh negara Muslim terhadap Israel. Iran bukan sekadar beretorika. Melalui Poros Perlawanan, mereka menyalurkan senjata dan dana ke Hamas yang Sunni, Hizbullah, dan Houthi, sementara negara-negara Sunni lain memilih diam. Sejak Revolusi 1979, melalui Hari Quds, Iran menjadikan pembelaan Palestina sebagai pilar kebijakan luar negeri. Sementara itu, negara-negara Sunni sibuk membangun megamal dengan investasi Israel. Iran menolak normalisasi dengan Israel, bahkan dengan risiko kehilangan ilmuwan nuklir akibat operasi Mossad, sementara yang lain justru menjadi pion dalam agenda proksi AS.

Saatnya umat Islam membuka mata dan hati. Mengakui keberanian Iran bukan berarti memeluk mazhab Syiah, melainkan soal kejujuran intelektual. Jika Zionis membantai Muslim di Gaza, logika mana yang membenarkan kebencian terhadap Syiah di atas kebencian terhadap penjajah? Narasi sandiwara adalah racun politik yang memecah belah solidaritas umat. Ketika media Teluk menyebut serangan Israel ke Iran sebagai “konsekuensi wajar,” mereka tak lebih dari alat propaganda Zionis. Umat Islam harus dewasa: tinggalkan fitnah dan nyinyir, fokus pada perlawanan nyata. Boikot produk pendukung Israel, tekan pemerintah Sunni untuk memutus hubungan dengan Tel Aviv, dan dukung Palestina dengan tindakan, bukan sekadar doa tanpa aksi.

Iran telah membuktikan bahwa melawan Israel bukan mimpi. Mereka bertarung, mempertaruhkan nyawa, tanpa memandang mazhab korban yang mereka bela. Tak ada yang meminta umat Sunni meninggalkan keyakinannya, tetapi hentikan ritual kebencian yang mengubur fakta. Sementara sebagian terjebak dalam pengkafiran, Iran terus berjuang. Satu tusukan jarum dari saudara sendiri (seagama) lebih menyakitkan dari serangan puluhan rudal dari musuh nyata.

Pilihan kini ada di tangan umat Islam: tetap terlena dalam candu sektarian atau bangkit dari puing-puing ilusi, menuju solidaritas sejati demi keadilan. Marwah umat bergantung pada keberanian untuk memilih jalan yang benar. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA