BERITAALTERNATIF – Dalam beberapa hari terakhir, Pasukan Dukungan Cepat melakukan kejahatan genosida terhadap penduduk Fasher yang tak bersenjata, dengan dukungan dari para pemimpin UEA serta rezim Israel. RSF, yang dipimpin Mohammed Hamdan Dagalo (dikenal sebagai Hamidti), telah beroperasi sebagai milisi di Sudan sejak 2013. Organisasi milisi ini memiliki akar dalam kelompok Janjaweed di Darfur, dan kemudian muncul sebagai salah satu pihak utama dalam perang saudara negara tersebut setelah kudeta 2021 dan pecahnya konflik dengan militer pada April 2023.
Menurut laporan yang diterbitkan, genosida semacam itu terjadi di Kota Fasher oleh kelompok yang disebut sebagai teroris dan didukung UEA hingga terlihat jejak darah dalam citra satelit untuk pertama kalinya.
Terungkapnya Dokumen Kerja Sama Intelijen antara Rezim Zionis dan Kelompok Teroris Sudan
Eksekusi massal, pembersihan etnis, dan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia merupakan sebagian dari kejahatan mengerikan yang dilakukan kelompok bersenjata tersebut di Fasher dan Kordofan Utara, kejahatan yang hingga kini masih berlangsung di tengah diamnya apa yang disebut sebagai komunitas internasional.
Meskipun para pemimpin UEA memainkan peran utama dalam tragedi di Fasher, ada aktor penting lainnya yang tidak boleh diabaikan—sebuah entitas yang telah berkali-kali dikecam di forum internasional karena melakukan kejahatan perang, yaitu rezim Zionis. Dalam kerangka kebijakan luar negerinya di kawasan Tanduk Afrika, rezim ini berusaha memperluas pengaruhnya di Afrika, dan memainkan peran penting dalam memberikan dukungan teknis, media, serta dukungan strategis kepada RSF.
Rezim Zionis, yang memiliki sejarah panjang dalam pertumpahan darah dan berbagai kejahatan, tidak ragu untuk terlibat dalam genosida di mana pun demi mencapai tujuan politiknya. Setelah pembantaian warga sipil di Gaza, Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran, kini giliran Sudan.
Dukungan RSF terhadap Normalisasi dengan Rezim Zionis
RSF mendukung normalisasi hubungan dengan rezim Israel, dan pada masa keterlibatannya dalam pemerintahan Sudan, kelompok ini menyetujui langkah bergabungnya negara tersebut ke dalam Kesepakatan Abraham, meskipun hal ini ditentang keras oleh rakyat Sudan. Dukungan RSF terhadap normalisasi tersebut membuatnya menjadi mitra potensial bagi rezim Zionis di Afrika.
Oleh karena itu, rezim Zionis memainkan peran aktif dalam perkembangan internal Sudan selama beberapa tahun terakhir, dengan memberikan dukungan kepada RSF untuk menyerang dan membunuh warga negara tersebut. Secara umum, alasan utama intervensi rezim Zionis dalam perkembangan Sudan dapat dirangkum dalam tiga hal:
Letak Geopolitik Sudan:
Negara ini terletak di pesisir Laut Merah dan memiliki posisi strategis untuk mengendalikan jalur laut, terutama dalam upaya membatasi pengaruh negara-negara Poros Perlawanan, terutama Iran, demi kepentingan Israel.
Tujuan Rezim Zionis:
Melemahkan poros perlawanan (Iran, Yaman, serta kelompok perlawanan Palestina), memperluas pengaruhnya di Afrika, serta membangun basis intelijen di Tanduk Afrika.
Pandangan RSF yang Berseberangan dengan Kelompok Islam:
RSF menolak orientasi Islamis dan mendukung normalisasi hubungan dengan Israel, sementara militer Sudan cenderung dekat dengan negara-negara seperti Iran serta kelompok Islamis.
Rezim Zionis, yang berupaya melemahkan poros perlawanan dan mencegah bantuan kepada kelompok perlawanan Palestina, melihat konflik internal Sudan sebagai kesempatan dan mulai memberikan dukungan luas bagi kelompok bersenjata dan para tentara bayaran RSF.
Sebagai contoh, situs Haaretz sebelumnya menulis laporan yang mengungkap bahwa pada Mei 2022, sebuah delegasi rahasia Israel menyerahkan teknologi mata-mata canggih (seperti perangkat peretasan Android/iOS, pelacakan GPS, dan penyadapan GSM serta Wi-Fi) kepada komandan RSF, Hamidti. Peralatan tersebut dikirim dari Uni Eropa menggunakan pesawat yang terkait dengan program spyware Israel dan mendarat di wilayah Jebel Marra di Darfur (daerah yang dikuasai RSF). Teknologi ini mengubah RSF menjadi struktur intelijen yang terpisah dari militer Sudan.
Menurut laporan, sistem peluncur roket LAR-160 buatan Israel juga terlihat digunakan dalam operasi RSF, terutama di Fasher.
Hubungan Mossad dengan RSF
Mossad memiliki hubungan dekat dengan RSF dan komandannya. Situs berita Israel Walla melaporkan adanya pertemuan antara Hamidti dan mantan Kepala Mossad, Yossi Cohen, di Abu Dhabi. Seorang jurnalis Libya bernama Mahmoud Al-Misrati, yang dekat dengan Khalifa Haftar, juga mengungkap hubungan Haftar dengan rezim Israel, termasuk keterlibatannya dalam pertemuan antara putranya (Sadiq Haftar) dan perwira Mossad. Rezim Israel disebut sebagai pihak pertama yang mendukung pemberontakan RSF yang dipimpin Haftar, dan membantu merancang rencana mereka melalui pertemuan pra-perang.
Penulis dan analis politik Sudan, Rashid Abdulrahim, menulis tentang hubungan antara rezim Israel dan RSF. Ia menggambarkan RSF sebagai “versi Sudan dari zionisme”, sebagaimana Israel dianggap sebagai “versi zionis dari Yudaisme”. Keduanya, menurutnya, didasarkan pada strategi, program, dan tujuan yang serupa. RSF memasuki wilayah yang bukan miliknya dan mengungkap ambisi teritorialnya secara terbuka, sebagaimana dilakukan Israel ketika menginvasi dan menguasai tanah Palestina.
Kemiripan Perilaku antara RSF dan Rezim Zionis
Ada kesamaan antara tindakan dan pola operasi Israel dan RSF. Keduanya berupaya mencapai tujuan melalui kekuatan militer, seperti terlihat dalam pemberontakan Sudan dan pendudukan Israel di Palestina. Keduanya menggunakan strategi serangan intensif untuk menakut-nakuti lawan dan mengusir penduduk dari wilayah mereka. Keduanya juga memakai kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, dan upaya penghancuran populasi di daerah yang mereka kuasai.
Jelas bahwa rezim Zionis terlibat dalam pembantaian rakyat Sudan dan umat Muslimnya jauh lebih besar daripada yang diberitakan di media. Para pemimpin UEA bukan satu-satunya pihak yang terlibat dalam genosida tersebut—sekutu dekat mereka, yaitu Israel, memainkan peran penting dalam dinamika internal Sudan. (*)
Sumber: Mehr News
Editor: Ali Hadi Assegaf












