Search

NATO di Titik Kritis: Eropa Melawan saat Tekanan AS Meningkat

NATO menghadapi tekanan internal yang semakin besar, dengan tekanan Amerika Serikat terhadap Eropa meningkat pasca perang melawan Iran, memunculkan pertanyaan tentang masa depan aliansi ini serta kemungkinan terbentuknya kerangka keamanan yang dipimpin Eropa. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) telah lama melampaui tujuan awalnya, yaitu menghadapi Uni Soviet. Setelah runtuhnya Blok Timur, anggota Eropa dalam aliansi keamanan ini bergantung pada kekuatan unipolar Amerika Serikat untuk mempertahankan relevansi global mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, kebijakan luar negeri Washington semakin agresif. Jika Eropa tidak mengikuti model diplomasi berbasis kekuatan tersebut, mereka dianggap sebagai beban dan pemborosan.

Perang melawan Iran semakin menegaskan sikap AS tersebut, bahkan bisa menjadi titik retak penting yang mengubah NATO secara signifikan.

Perang Iran sebagai Titik Balik

Setelah Washington melancarkan serangan bersama dengan Israel terhadap Iran, Presiden AS Donald Trump segera meminta sekutu Eropa untuk membantu membereskan situasi yang ia ciptakan.

Eropa secara tegas menolak terlibat dalam perang tersebut. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa itu bukan perang Eropa. Penolakan ini dianggap Trump sebagai serangan pribadi terhadap dirinya dan posisinya.

Alih-alih membuka dialog, Trump justru meningkatkan agresivitasnya melalui pernyataan di Truth Social:

“Tanpa AS, NATO hanyalah macan kertas! Mereka tidak mau ikut menghentikan Iran yang memiliki kekuatan nuklir. Sekarang setelah perang dimenangkan secara militer dengan risiko kecil bagi mereka, mereka malah mengeluh soal harga minyak tinggi, tapi tidak mau membantu membuka Selat Hormuz… Pengecut, dan kami akan mengingat ini!”

Pernyataan ini muncul setelah berminggu-minggu Trump menekan Eropa agar menaikkan anggaran pertahanan NATO hingga 5% dan mengancam keluar dari aliansi jika Uni Eropa tidak “membayar kewajibannya.”

Kampanye Tekanan Washington terhadap Eropa

Pemerintahan Trump juga membuat daftar sekutu Eropa yang “baik” dan “nakal” untuk menentukan siapa yang akan dihukum.

Gedung Putih dilaporkan mempertimbangkan perubahan posisi Spanyol dalam NATO serta meninjau kembali dukungan terhadap kendali Inggris atas Kepulauan Falkland.

Spanyol menolak ikut perang dan menyebut serangan terhadap Iran sebagai tindakan ceroboh dan ilegal, serta melarang penggunaan pangkalannya oleh AS.

Inggris juga sempat menolak penggunaan pangkalannya karena kurangnya bukti ancaman dari Iran, meski kemudian mengizinkan penggunaan terbatas untuk tujuan defensif.

Ketergantungan Strategis Eropa Dipertanyakan

Selama ini Eropa bergantung pada kekuatan militer AS untuk keamanan. Namun tekanan baru dari Washington menjadi “tamparan realitas,” terutama karena arah kebijakan AS dianggap tidak stabil.

Sekjen NATO Mark Rutte mengakui bahwa Eropa terlalu bergantung pada militer AS dan kurang bertanggung jawab terhadap keamanannya sendiri.

Kini, negara-negara Eropa mulai meningkatkan kemampuan pertahanan dan bahkan mempertimbangkan pembentukan “NATO Eropa”—aliansi keamanan yang lebih dipimpin oleh Eropa.

Tujuannya adalah menggantikan peran komando AS dengan struktur Eropa serta memperkuat kemampuan militer sendiri.

Ketegangan Lama dalam Aliansi

Keraguan terhadap NATO sebenarnya sudah muncul sejak masa jabatan pertama Trump. Ia menuntut Eropa untuk membayar lebih dan bahkan mengancam tidak akan membela mereka jika tidak patuh.

Sejumlah analis menyebut sikap Trump bisa menjadi akhir NATO. Bahkan sekutu konservatif AS mengingatkan bahwa aliansi ini bisa runtuh jika Eropa tidak meningkatkan kontribusi.

Trump juga kembali menekan dengan menarik 5.000 dari 36.400 pasukan AS di Jerman dan menaikkan tarif perdagangan.

Dampak jika NATO Runtuh

Ketergantungan berlebihan pada AS kini menjadi masalah serius bagi Eropa. Hubungan transatlantik berada di titik terendah dalam sejarah.

Eropa memang telah meningkatkan anggaran pertahanan hingga sekitar 450 miliar dolar, hampir dua kali lipat dari 2022, tetapi tekanan AS tetap tinggi.

Jika AS benar-benar menarik diri, Eropa diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 1 triliun dolar untuk menggantikan kemampuan militer AS, termasuk teknologi, intelijen, dan logistik.

Konsekuensi bagi AS

Bagi Amerika, keluar dari NATO memiliki keuntungan dan kerugian:

Keuntungan: penghematan anggaran militer, fokus pada kebutuhan domestik, dan mengurangi kehadiran militer global.

Kerugian: kehilangan jaringan intelijen global, melemahnya pengaruh internasional, dan kesulitan menghadapi musuh tanpa dukungan sekutu.

Kesimpulan

Krisis NATO saat ini tampaknya bukan sementara, melainkan bagian dari proses kemunduran jangka panjang.

Dengan AS terus mendorong dominasi unipolar, aliansi global bisa bergeser menjadi lebih berbasis kepentingan masing-masing negara.

NATO kini berdiri di atas fondasi yang rapuh—masa depannya mungkin ditentukan bukan oleh persatuan, tetapi oleh fragmentasi. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA