Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Bagaimana mungkin generasi yang tidak pernah hidup dalam revolusi justru menemukan kembali revolusi melalui tekanan dan agresi?
Iran berdiri dengan seluruh perangkat ketangguhan yang matang: sistem yang kokoh, sumber daya manusia yang terlatih, dan ideologi yang telah lama mengakar. Namun realitas sosialnya tidak tunggal. Sebagian besar masyarakatnya—bahkan dapat dikatakan setengah atau lebih—tidak hidup dalam masa Revolusi Islam Iran 1979. Mereka tidak tumbuh dalam atmosfer revolusi, tidak mengalami langsung pergulatannya, dan tidak menyerap semangatnya sebagai pengalaman eksistensial. Generasi ini hidup dalam arus modernitas global yang intens, ditandai oleh gaya hidup media sosial, keterbukaan informasi, dan perbandingan tanpa batas dengan dunia luar.
Dalam kondisi tersebut, jarak historis berubah menjadi pergeseran kesadaran. Semangat revolusi meredup menjadi narasi, bahkan bagi sebagian berubah menjadi sesuatu yang asing. Religiusitas tidak lagi menjadi fondasi yang kokoh bagi seluruh lapisan generasi; sebagian menjauh, sebagian meragukan, dan sebagian lain kehilangan kepercayaan. Pada saat yang sama, kemakmuran dan kemewahan di luar batas negara menjadi objek perbandingan yang terus-menerus, memunculkan kecemburuan sosial yang nyata. Tekanan ekonomi akibat sanksi, embargo, dan isolasi yang dipimpin oleh Amerika Serikat memperdalam kelelahan itu. Dalam logika sederhana, kondisi seperti ini membuka kemungkinan retak: pembangkangan, bahkan potensi runtuhnya sistem, menjadi sesuatu yang dapat dibayangkan.
Namun sejarah tidak bergerak mengikuti logika sederhana. Agresi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel—yang berlangsung dalam intensitas tinggi selama berminggu-minggu, disertai gencatan senjata yang rapuh dan pelanggaran berulang termasuk pembombardiran terhadap wilayah Lebanon—mengubah arah kesadaran tersebut. Tekanan yang dimaksudkan untuk melemahkan justru menghasilkan efek sebaliknya. Arogansi dan kecerobohan kekuatan global dalam melakukan tindakan agresif tidak menghancurkan dari dalam, tetapi membalikkan keadaan.
Sebagian besar dari mereka yang sebelumnya tidak merasakan spirit revolusi, yang tidak hidup dalam atmosfer revolusi, bahkan yang telah menjauh dari religiusitas dan menjadi skeptis, mulai berbalik. Mereka mulai mengenali bahwa justru revolusi itulah yang menjadikan Iran disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan; bahwa kemandirian yang dibangun melalui penderitaan panjang itulah yang membuat negara ini tetap berdiri. Kesadaran ini tidak lahir dari doktrin, melainkan dari pengalaman langsung menghadapi ancaman. Generasi yang tidak pernah mengenal revolusi kini merasakan revolusi itu sendiri.
Inilah yang dapat disebut sebagai revolusi kedua. Revolusi pertama menjatuhkan kekuasaan domestik yang terikat pada kepentingan imperium, yang dipersonifikasikan dalam figur Mohammad Reza Pahlavi. Revolusi kedua tidak menjatuhkan sistem internal, tetapi memperbarui dan menguatkan kesadaran kolektif dalam menghadapi imperium global—terutama Amerika Serikat dan Israel sebagai kekuatan yang berhadapan langsung. Ia bukan perubahan rezim, melainkan transformasi kesadaran yang merata.
Dalam cara pandang Donald Trump, tekanan maksimum—melalui sanksi, embargo, maupun agresi militer—diasumsikan akan memecah dari dalam. Logika ini bertumpu pada keyakinan bahwa manusia akan memilih kenyamanan daripada ketahanan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tekanan tidak melahirkan kepatuhan, melainkan keteguhan. Agresi tidak menghancurkan, melainkan mengonsolidasikan.
Kemenangan yang terjadi tidak hadir dalam bentuk yang kasatmata. Ia tidak lahir dari meja perundingan, tidak membutuhkan konsesi, dan tidak bergantung pada pengakuan pihak mana pun. Ia berlangsung pada tingkat yang lebih dalam: perubahan struktur kesadaran kolektif. Apa yang tampak sebagai potensi keruntuhan berubah menjadi penguatan; apa yang tampak sebagai jarak generasi berubah menjadi pengalaman bersama.
Dalam kondisi apa pun—andaikan perjanjian batal akibat ketidakseriusan Amerika Serikat, akibat kehendak Israel yang cenderung menggagalkannya, atau bahkan karena ambivalensi Pakistan sebagai mediator—posisi Iran dalam situasi ini tidak melemah, tetapi justru menguat. Kekuatan itu tidak ditentukan oleh keberlangsungan perjanjian, tidak bergantung pada stabilitas gencatan senjata, dan tidak ditentukan oleh hasil diplomasi yang setiap saat dapat runtuh.
Sejak awal, Iran tidak pernah memiliki keunggulan persenjataan dibandingkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel. Dalam ukuran konvensional—jumlah senjata, teknologi militer, dan kapasitas tempur—ketimpangan itu nyata. Namun ukuran tersebut tidak pernah menjadi satu-satunya penentu dalam sejarah. Ada bentuk kekuatan lain yang tidak dapat dihitung dengan angka, tidak dapat dilumpuhkan dengan serangan, dan tidak dapat dinegosiasikan.
Kekuatan itu adalah manusia. Mungkin hampir dari 90 juta manusia, dengan seluruh perbedaan latar belakangnya—laki-laki dan perempuan, tua dan muda, mereka yang sejak awal pro terhadap sistem maupun mereka yang sebelumnya berjarak, bahkan mereka yang tidak pernah hidup dalam pengalaman revolusi—berada dalam satu titik kesadaran yang sama. Ancaman eksternal telah menghapus jarak-jarak itu. Perbedaan tidak hilang, tetapi ditangguhkan oleh kesadaran akan keberadaan bersama. Dalam kondisi ini, setiap individu menjadi bagian dari ketahanan kolektif.
Di sinilah letak kekuatan yang tidak dimiliki oleh kekuatan mana pun yang mengandalkan dominasi material. Agresi militer, tekanan ekonomi, dan ancaman geopolitik memang dapat menghancurkan infrastruktur dan menguji ketahanan negara. Namun ketika tekanan itu justru melahirkan kesatuan kehendak pada tingkat masyarakat, maka ia kehilangan daya hancurnya yang paling dalam. Ia tidak lagi memecah; ia justru menyatukan.
Revolusi kedua ini jauh lebih besar daripada yang pertama, karena ia tidak hanya mengubah struktur kekuasaan, tetapi mengubah manusia itu sendiri. Ketika seluruh lapisan masyarakat berada dalam satu garis kesadaran, maka kekuatan tidak lagi bersifat eksternal, melainkan internal. Ia tidak lagi diukur dari jumlah senjata, tetapi dari keteguhan manusia; tidak lagi ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh kesadaran; tidak lagi bergantung pada perjanjian, tetapi pada kesiapan untuk bertahan dalam kondisi apa pun.
Dengan demikian, bahkan jika pengkhianatan terjadi, bahkan jika perjanjian runtuh, bahkan jika konflik kembali terbuka, posisi Iran tidak kembali ke titik awal. Ia telah bergerak ke tingkat yang berbeda—tingkat di mana kekuatan tidak lagi dapat direduksi menjadi persoalan militer semata. Dan ketika kesadaran itu telah terbentuk, kemenangan tidak lagi menjadi kemungkinan.
Ia telah menjadi kenyataan. Kalau boleh membuat sebuah pernyataan satir, maka Iran patut berterima kasih kepada Donald Trump atas kebodohan dan kecerobohannya. (*Cendekiawan Muslim)












