Search

Suriah Tanpa Iran, Jolani Bisa Apa?

Penulis. (Kata Kaltim)

Oleh: Ismail Amin Pasannai*

Begitu berkuasa, Jolani membangun narasi bahwa Suriah telah terbebas dari cengkeraman Iran. Ia menyebarkan pandangan bahwa campur tangan Iran selama ini menjadi penyebab utama kemunduran Suriah serta memicu eskalasi yang tak kunjung reda dengan Israel. Bagi Jolani, Iran adalah pendukung tirani yang tak memiliki peran apa pun dalam menjaga stabilitas Suriah. Para pendukungnya di Indonesia pun ikut bersorak: Iran telah kalah, dan Suriah telah terlepas dari rezim Syiah.

Dalam wawancara resminya, Jolani menegaskan bahwa ia tidak akan menjadi musuh bagi siapa pun, termasuk Israel. Ia berjanji tidak akan ada lagi perang di Suriah—termasuk perang melawan Israel. Iran pun diminta untuk angkat kaki dari Suriah.

Dan Iran benar-benar menarik diri. Ribuan tentaranya—yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan Suriah—perlahan meninggalkan tanah yang telah mereka jaga selama puluhan tahun. Para penasihat militernya dipulangkan. Fasilitas-fasilitas militer yang dibangun dengan investasi miliaran dolar untuk mempertahankan Suriah dan mendukung perjuangan Palestina ditinggalkan. Iran mundur tanpa suara, tanpa berita. Sementara itu, pendukung Jolani di Indonesia bersorak-sorai penuh suka cita. Mereka menyebut penarikan Iran sebagai kemenangan Islam dan menyatakan bahwa pembebasan Palestina semakin dekat.

Tapi, lihatlah apa yang terjadi kemudian. Pasca mundurnya Iran, momen yang telah lama ditunggu-tunggu Israel pun tiba. Israel menjadi leluasa menginvasi wilayah-wilayah Suriah. Mereka memulainya dengan menghancurkan markas-markas militer yang kini tak lagi dikawal. Pabrik-pabrik senjata—yang sebelumnya dibangun dengan dana miliaran dolar dari Iran untuk menjaga pertahanan Suriah dan mendukung misi pembebasan Palestina—hancur hanya dalam hitungan hari. Jolani dan pasukannya hanya bisa terpaku. Semua terjadi begitu cepat. Israel tak memberi satu pun kesempatan bagi Jolani untuk memahami apa yang tengah berlangsung.

Kini, Suriah di bawah kepemimpinan Jolani nyaris menjadi negara dengan pertahanan paling lemah di dunia. Tak ada alutsista, tak ada jet tempur, tak ada kapal perang. Suriah menjelma menjadi negara tanpa perisai.

Lalu, apa yang dilakukan Jolani? Ia berteriak kepada dunia, meminta pertolongan agar Israel menghentikan serangannya. Ia bahkan menyeru kepada Amerika: “Lho, saya sudah mengikuti instruksi Anda untuk memutus semua hubungan dengan Iran. Kok Anda biarkan Israel terus menyerang?”

Namun, adakah yang mendengarkannya? Adakah yang mengulurkan tangan untuk membantu?

Rakyat Suriah pun terperangah. Mereka mulai sadar: selama ini, keamanan dari invasi Israel ada karena kehadiran tentara-tentara Iran yang menjaga wilayah mereka. Ada jenderal-jenderal Iran yang bolak-balik ke Damaskus menjadi penasihat militer bagi angkatan perang Suriah—banyak di antara mereka yang gugur akibat serangan Israel. Ada pula dana Iran yang terus mengalir untuk membiayai logistik, rudal, radar, dan sistem pertahanan udara yang menjaga langit Suriah.

Sejak lama, Ayatullah Khamenei telah mengingatkan bahwa musuh sejati tidak memandang mazhab, melainkan terus mengintai celah di tengah umat yang terpecah.

Kini Jolani merasakan akibat dari keputusannya. Ia mungkin menang dalam propaganda, tapi kenyataannya, ia telah menjatuhkan Suriah ke titik yang paling hina di hadapan Israel, bahkan dunia. Di televisi ia berpidato: “Kami tidak takut perang, tetapi kami mengutamakan kepentingan rakyat Suriah di atas kekacauan dan kehancuran. Pilihan terbaik kami adalah melindungi persatuan tanah air.”

Namun, jika benar ia mengutamakan kepentingan rakyat dan persatuan, mengapa ia justru memimpin milisi pemberontak?

Sebelum konflik pada tahun dua ribu sebelas, Suriah adalah negara yang damai dan makmur. Tanpa utang luar negeri. Pendidikan dan layanan kesehatan sosial terjamin. Ia adalah satu dari sedikit negara Arab yang masih memiliki martabat, dengan menolak tunduk pada intervensi asing.

Bukankah kekacauan dan semua krisis hari ini adalah buah dari pemberontakan itu? Bukankah ini adalah hasil dari keyakinan bahwa Suriah telah terbebas dari cengkeraman Iran—padahal justru kehadiran Iran selama ini menjaga martabat dan harga diri Suriah di hadapan Israel?

Jika Iran memang berniat menjajah Suriah secara ilegal, mereka tentu akan melawan demi mempertahankan apa yang telah mereka bangun di sana. Satu gelombang rudal balistik dari Esfahan bisa saja menghancurkan Jolani. Tapi Iran memilih mundur, tanpa protes. Karena Suriah bukan tanah mereka, dan mereka hadir atas permintaan resmi Assad. Ketika kekuasaan baru memerintahkan mereka pergi, Iran pun patuh.

Sekarang yang bisa dilakukan Jolani hanya memelas kepada dunia agar menghentikan Israel. Ia menyalahkan Israel, yang disebutnya sebagai biang kekacauan. Tapi, kok baru sekarang sadar kalau Israel adalah biang kekacauan?

Satu-satunya langkah yang logis bagi Jolani—jika ia benar-benar telah menutup opsi kembali bekerja sama dengan Iran—adalah merengek kepada Trump agar menghentikan Israel, sambil berkata: “Terserah, kami akan ikut semua instruksi Anda. Yang penting rakyat kami bisa hidup makmur seperti di Saudi, Qatar, Emirat, Bahrain, dan Yordania. Kami siap menjadi tetangga yang baik bagi Israel.” (*Pengamat Timur Tengah)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA