BERITAALTERNATIF.COM – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Sudirman Said membeberkan keterlibatan panjang Riza Chalid dalam praktik mafia migas di Indonesia. Nama Riza disebut sebagai “penerima manfaat akhir” dari berbagai kontrak pengadaan minyak yang selama ini menyedot anggaran negara hingga ratusan miliar rupiah per hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudirman dalam sebuah diskusi bersama Mahfud MD yang membahas keberanian Kejaksaan Agung menetapkan Riza sebagai tersangka korupsi. Baginya, ini adalah langkah yang sudah ditunggu sejak lama.
“Nama itu sudah muncul sejak saya di Pertamina, sekitar tahun 2008, ketika saya diminta bergabung oleh Pak Harisumarno (alm) melalui konsultan McKinsey, Adam Schwartz,” ungkapnya di kanal YouTube Mahfud MD Official sebagaimana dikutip pada Jumat (18/7/2025).
Di awal keterlibatannya, Sudirman bertugas sebagai staf ahli, kemudian menjabat sebagai Kepala Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina. Menurutnya, ISC dibentuk sebagai upaya memutus rantai mafia dalam pengadaan minyak, yang sebelumnya dilakukan terpisah oleh unit-unit yang tidak saling terkoneksi.
“Belanjanya waktu itu sekitar Rp 1,5 triliun per hari. Kami tahu ada masalah besar, makanya Pak Harisumarno membentuk unit ini, dan saya sebagai orang luar Pertamina diminta agar tidak terkontaminasi,” bebernya.
Namun, pengaruh mafia migas sudah sangat dalam. Sudirman menyebut bahwa dalam satu periode, 70 persen kontrak pengadaan minyak dijatuhkan kepada perusahaan-perusahaan yang berada dalam satu grup bisnis yang diduga dikendalikan oleh Riza.
“Itu tidak mungkin terjadi tanpa intervensi. Dan memang kemudian terbukti melalui audit investigatif terhadap Petral,” tambahnya.
Dia mengungkap, setelah pergantian kepemimpinan di Pertamina dari Harisumarno ke Karen Agustiawan, unit ISC dibubarkan. Ia pun memilih mundur dari jabatan tersebut.
“Saya katakan pada Bu Karen, saya ke sini karena diminta Pak Harisumarno. Sekarang beliau sudah tidak ada, dan saya merasa tak lagi diharapkan. Saya mundur,” ungkapnya.
Sebelum pengangkatannya sebagai Kepala ISC, Sudirman mengaku sempat mengalami tekanan luar biasa, termasuk demontrasi harian yang menyudutkannya secara pribadi.
“Poster-poster demo wajah saya digambarkan dengan anjing dan monyet, bertuliskan ‘Sudirman Mafia Migas’. Padahal, saya justru ditugaskan untuk memutus rantai itu,” sebutnya.
Lima tahun berselang, Sudirman ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Menteri ESDM. Saat itu, mafia migas kembali menjadi salah satu isu utama kampanye presiden.
“Saya merasa seperti diberi kesempatan lagi oleh Tuhan untuk menuntaskan yang dulu tertunda,” katanya.
Di awal jabatannya, ia membentuk Tim Reformasi Tata Kelola Migas, dipimpin oleh ekonom Faisal Basri. Dalam waktu enam bulan, tim ini mengeluarkan 12 rekomendasi strategis, termasuk audit investigasi terhadap Petral dan pembubaran resminya.
Namun, Sudirman menyadari bahwa pembubaran Petral tidak benar-benar mengakhiri dominasi Riza karena jaringan dan perusahaan-perusahaan terkait tetap menguasai pasokan.
“Nama saja yang berubah, tapi sistem dan penguasaan tetap mereka. Riza adalah penerima manfaat terakhir. Pemilik semua jaringan perusahaan itu,” jelasnya.
Dia mengungkap bahwa meski sudah ada upaya bersih-bersih di sektor migas, pengaruh Riza tetap kuat, bahkan hingga ke lingkaran kekuasaan.
Ia juga menyebut ada tuduhan terhadap Presiden soal permintaan saham oleh orang-orang di sekitar Riza, yang sempat dibawanya langsung ke Presiden sebagai laporan.
“Saya sampaikan pada Presiden: Pak, ini membahayakan wibawa. Saya tunjukkan transkripnya. Karena saya tidak mau tanda tangan sesuatu tanpa tahu asal muasalnya,” katanya.
Sudirman menyebut, selama ini, dua figur selalu muncul di balik skandal besar nasional: satu terkait kasus E-KTP dan satunya lagi—Riza Chalid—dalam kasus penguasaan sistem distribusi minyak nasional.
“Bangsa ini seolah sedang disorong Tuhan untuk membuka dua figur ini. Satu yang lepas dari banyak kasus besar, satu lagi yang mengokupasi sistem negara, membuatnya tidak efisien,” terangnya.
Kini, setelah sekian lama dianggap kebal hukum, Riza resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung. Sudirman memuji keberanian institusi penegak hukum dalam membuka kembali kasus mafia migas ini.
“Kalau ini bisa berjalan tuntas, berarti kita selangkah lebih maju dalam melawan sistem yang selama ini dikuasai oleh invisible hand yang nyata,” terangnya. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












