Search

Suara Kebenaran di Gaza Tak Bisa Dibungkam oleh Teror

Militer Zionis membunuh para jurnalis yang berusaha mengungkap kejahatan mereka di Gaza. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Sejarah tidak dimulai pada 7 Oktober 2023 atau dengan ditemukannya mesin pencari Google. Banyak orang—termasuk perempuan dan laki-laki yang telah dibunuh oleh rezim Zionis—telah mengorbankan nyawa mereka demi merekam kebenaran untuk generasi mendatang.

Beberapa hari lalu, acara bertajuk Selamanya Iran digelar di Balai Vahdat dengan dihadiri Presiden, Menteri Kebudayaan, dan keluarga para martir dari kalangan budaya dalam perang terbaru. Di antara foto-foto acara tersebut, ada satu yang paling mencuri perhatian: kursi kosong di belakang bingkai foto Fereshteh Bagheri. Semua martir ini adalah anak-anak bangsa Iran yang gugur akibat serangan rezim Zionis. Namun, ini bukan pertama kalinya rezim ini membunuh para pelaku budaya, sastra, dan seni.

Dengan momentum acara tersebut, mari kita lihat kembali sejumlah aksi pembunuhan oleh rezim Zionis yang menargetkan orang-orang yang “senjatanya” adalah pena dan kamera. Berbeda dengan anggapan sebagian orang yang berpikir bahwa konflik antara negara-negara di kawasan dan Israel dimulai sejak 7 Oktober 2023, generasi kini dan generasi masa depan harus tahu bahwa sejarah sudah ada jauh sebelum 7 Oktober, bahkan sebelum Google ditemukan.

Banyak orang—termasuk perempuan dan laki-laki yang dibantai oleh rezim palsu Israel—telah mengorbankan nyawanya demi mencatat fakta sejarah, menyuarakan kehidupan orang-orang tertindas di bawah pendudukan, serta menyampaikan kisah melalui puisi, cerita, dan gambar demi kebebasan dan kemanusiaan.

Teror bukanlah kebijakan baru dalam strategi rezim Zionis. Sejak berdirinya pada 1948, rezim ini telah terlibat dalam banyak operasi pembunuhan. Nama-nama seperti Fathi Shaqaqi, Moussavi, Imad Mughniyeh, Sayyid Hassan Nasrallah, Ismail Haniyeh, Yahya Sinwar, serta para ilmuwan dan akademisi Iran hingga perang terakhir, masih membekas di ingatan publik.

Sejak 1950-an, rezim Zionis telah menetapkan pembunuhan dan pembersihan sebagai doktrin tetap mereka, tanpa memedulikan akibat hukum dan politiknya. Bahkan hanya beberapa bulan setelah pendiriannya, proyek pembunuhan sudah dimulai—salah satunya adalah pembunuhan terhadap diplomat Swedia Folke Bernadotte, utusan PBB untuk perdamaian Arab-Israel. Ia terbunuh karena mengusulkan penghentian imigrasi Yahudi ke Palestina dan agar Yerusalem tetap di bawah pemerintahan Arab.

Rezim Zionis tumbuh dengan kebohongan, manipulasi sejarah Perang Dunia, dan penyalahgunaan simbol-simbol agama. Mereka secara sistematis membungkam kaum intelektual agar narasi alternatif tak berkembang dan bisa memeras dunia dengan mitos-mitos mereka.

Sejak 1948, Israel telah secara sistematis membunuh puluhan jurnalis, sastrawan, penyair, pelukis, kartunis, dan aktivis budaya Palestina dan internasional. Serangan itu tak hanya di wilayah pendudukan, tetapi juga di luar negeri, dan telah melukai identitas budaya bangsa Palestina.

Beberapa tokoh budaya yang dibunuh oleh Israel: Pertama, penulis dan jurnalis, Ghassan Kanafani. Dibunuh pada 1972 dalam ledakan bom oleh Mossad di Beirut.

Lahir pada 1936 di kota Acre, Palestina. Setelah pendudukan 1948, ia mengungsi ke Lebanon dan Suriah. Ia aktif di Front Populer untuk Pembebasan Palestina dan dianggap pelopor sastra perlawanan. Karya terkenalnya termasuk Lelaki di Bawah Matahari dan Kembali ke Haifa. Ia tewas bersama keponakannya saat mobilnya diledakkan Mossad.

Kedua, penyair dan aktivis budaya Aljazair, Mohamed Boudia. Dibunuh Mossad dengan bom pada 1973 di Paris.

Ia adalah anggota organisasi Black September dan mendukung perjuangan Palestina. Mossad meledakkan mobilnya sebagai bagian dari kampanye teror terhadap aktivis budaya Palestina di luar negeri.

Ketiga, kartunis terkenal Palestina, Naji al-Ali. Ditembak oleh Mossad pada 1987 di London.

Pencipta karakter legendaris Handala, simbol perlawanan Palestina. Ia membuat lebih dari 40.000 kartun kritis terhadap Israel dan pemimpin Arab. Ditembak di luar kantor surat kabar Al-Qabas di London dan wafat setelah koma sebulan. Pelaku tak pernah diadili.

Keempat, pembuat film dokumenter asal Inggris, James Henry Miller. Ditembak mati oleh tentara Israel di Rafah pada 2003.

Ia sedang membuat film tentang anak-anak Palestina saat tertembak dari depan, meski tentara Israel mengklaim ia terkena tembakan dari belakang. Otopsi membantah versi Israel. Film Death in Gaza mendokumentasikan peristiwa ini.

Kelima, jurnalis Palestina, Yasser Murtaja. Ditembak mati oleh tentara Israel pada 2018 di Gaza.

Saat meliput aksi Great Return March, ia memakai rompi pers dan helm pelindung. Israel awalnya menuduhnya terlibat Hamas, tapi laporan HRW menyebut pembunuhan ini disengaja. Kasusnya mengundang protes luas, termasuk di Amerika Serikat.

Keenam, jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh. Ditembak mati oleh tentara Israel pada 2022 di Jenin.

Lahir di Yerusalem, ia adalah wajah terdepan peliputan isu Palestina selama lebih dari 25 tahun. Tewas saat meliput serangan militer Israel meski mengenakan rompi pers. Israel awalnya membantah, namun kemudian mengakui pasukannya menembaknya.

Ketujuh, penyair, dosen, dan aktivis, Refaat Alareer. Gugur dalam serangan udara Israel di Gaza, 2023.

Lahir 1979, ia adalah penggagas kampanye We Are Not Numbers dan mengajar sastra Inggris di Universitas Islam Gaza. Ia percaya bahwa bercerita adalah bentuk perlawanan terhadap pendudukan. Ia tewas bersama anggota keluarganya dalam serangan udara.

Kedelapan, penyair dan penulis Palestina, Heba Abu Nada. Gugur dalam serangan udara Israel di Khan Younis, Oktober 2023.

Lahir di Makkah, ia adalah penulis dan pakar gizi. Memenangkan berbagai penghargaan sastra, termasuk Sharjah Creativity Award. Gugur dalam serangan udara saat tinggal di Gaza.

Nama-nama ini hanya sebagian kecil korban dari kalangan budaya yang dibunuh oleh rezim Zionis. Sejak 1948, puluhan jurnalis dan aktivis budaya telah menjadi target serangan. Terutama sejak 2023, serangan terhadap pusat media meningkat drastis, termasuk serangan ke mobil wartawan di dekat RS Al-Awda tahun 2025 yang menewaskan lima jurnalis.

Laporan internasional menegaskan bahwa sebagian besar pembunuhan ini bertujuan membungkam suara rakyat Palestina dan mencegah berita sejati sampai ke dunia. Selain pembunuhan, penghancuran arsip budaya, perpustakaan, dan museum juga berlangsung, menandai upaya sistematis melenyapkan identitas bangsa Palestina.

Sejak berdirinya, Israel secara terorganisir menargetkan para jurnalis, seniman, dan budayawan karena peran mereka dalam mengungkap realitas dan membela rakyat Palestina. Banyak dari kasus ini belum terselesaikan, dan para pelaku masih bebas. Namun, satu hal pasti: cahaya kebenaran tak akan pernah padam. Membawa panji kebenaran di hadapan kejahatan seperti ini membutuhkan keberanian—dan itu bisa ditemukan dalam hati orang-orang merdeka di seluruh dunia. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA