BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa (23/9/2025) berangkat menuju New York untuk menghadiri sidang tahunan Majelis Umum PBB. Dia dijadwalkan menyampaikan pidato pada Rabu (24/9/2025) pagi waktu setempat dari mimbar utama PBB.
Dalam kunjungan ini, Pezeshkian juga akan mengadakan pertemuan dan konsultasi dengan para kepala negara, termasuk Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Selain itu, ia akan mengikuti sejumlah forum, dialog bersama lembaga kajian (think tank), serta bertemu dengan warga diaspora Iran yang tinggal di Amerika Serikat.
Presiden pemerintahan Iran ke-14 ini hadir di markas besar PBB, tempat berlangsungnya pertemuan tahunan para pemimpin dari 193 negara anggota. Perhatian besar diperkirakan akan tertuju padanya dan pidatonya di hadapan Majelis Umum.
Kehadiran Pezeshkian di PBB dimaksudkan untuk memperlihatkan “manuver diplomasi yang cerdas”, memengaruhi dinamika global, sekaligus menegaskan rasionalitas dan kewibawaan Iran di panggung internasional.
Perjalanan ini dianggap sebagai bagian dari diplomasi aktif Iran di arena global dan mengikuti tradisi para presiden sebelumnya yang menghadiri sidang PBB, sejak masa mendiang Presiden Mohammad-Ali Rajai. Sidang Majelis Umum yang digelar tiap tahun pada pekan ketiga September dikenal sebagai ajang politik terbesar dan paling bergengsi di dunia.
Momen ini menjadi kesempatan untuk menampilkan identitas kuno Iran sembari menegaskan rasionalitas bangsa, semangat perdamaian, serta logika terhormat dalam menyikapi isu-isu global.
Tahun ini, Majelis Umum PBB yang merupakan salah satu dari enam organ utama PBB, menggelar sidang ke-80 dengan tema Lebih Baik Bersama: 80 Tahun dan Seterusnya untuk Perdamaian, Pembangunan, dan Hak Asasi Manusia. Sidang ini dihadiri oleh para pemimpin dan delegasi dari 193 negara anggota, berlangsung pada 22–28 September di markas PBB, New York.
Pezeshkian menjalani kunjungan keduanya ke Sidang Umum PBB, menandai kunjungan presiden Iran yang ke-24 sejak Revolusi Islam. Presiden Iran pertama yang hadir di forum ini adalah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang kala itu menjabat presiden, pada tahun 1987. Pidatonya dikenal tegas dan berpengaruh, dengan paparan tajam mengenai tindakan Amerika terhadap Iran hingga membuat perwakilan AS keluar ruangan di tengah pidato.
Dalam pidatonya saat itu, Ayatullah Khamenei berkata, “Saya datang dari Iran, tanah kelahiran salah satu revolusi paling terkenal tetapi paling sedikit dikenal di zaman modern. Sebuah revolusi yang dibangun di atas agama Tuhan, mengikuti jejak para nabi dan reformis besar, sebuah jalan sepanjang sejarah umat manusia. Akar kokoh dan gagasan mendasar revolusi ini adalah pandangan tauhid dalam Islam.”
Beberapa tahun sebelumnya, pada 1980, Perdana Menteri Mohammad-Ali Rajai sempat datang ke Dewan Keamanan PBB di tengah invasi Irak. Ia menyampaikan pidato di masa kepresidenan Abolhassan Banisadr. Namun kunjungan itu bukan bagian dari sidang tahunan Majelis Umum, dan bukan pula dalam kapasitas sebagai presiden.
Sejak kehadiran Ayatullah Khamenei, presiden-presiden Iran berikutnya rutin berbicara di Majelis Umum: Akbar Hashemi Rafsanjani (1991), Mohammad Khatami tiga kali (1998, 2000, 2001), Mahmoud Ahmadinejad setiap tahun selama delapan tahun jabatannya, Hassan Rouhani tujuh kali (kecuali tahun terakhir karena pandemi Covid-19), serta Ebrahim Raeisi dua kali pada 2022 dan 2023.
Pezeshkian sendiri sudah berpidato di PBB tahun lalu, tak lama setelah menjabat, dalam sidang perdananya sebagai presiden. Kunjungan tahun ini berlangsung di tengah kondisi yang sangat sensitif, menyusul perkembangan krusial di kawasan setelah agresi Israel.
Pada 13 Juni, serangan udara Israel ke Iran memicu perang 12 hari yang disambut respons tegas dari Teheran. Selain itu, AS dan Israel—dua negara pemilik senjata nuklir—menyerang fasilitas nuklir damai Iran, yang kian memperburuk ketegangan regional. Rezim Israel bahkan menyerang Qatar, melanggar hukum internasional secara terang-terangan.
Meski demikian, Iran terus menegaskan komitmennya pada Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Mesir. Namun, negara-negara Eropa (Inggris, Prancis, dan Jerman) tetap memaksakan mekanisme snapback, padahal mereka sendiri gagal menjalankan kewajiban dalam kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). Di tengah sanksi paling berat dalam sejarah, Iran tetap menunjukkan kepatuhan pada JCPOA, menunggu imbalan berupa tindakan timbal balik.
Kunjungan Pezeshkian ke PBB bisa disebut sebagai peristiwa politik dan diplomatik paling penting Iran tahun ini, yang diawasi ketat oleh media dan pengamat global.
Namun Teheran juga menyadari, tantangan dengan Barat tidak bisa diselesaikan lewat rekomendasi sederhana, terutama setelah pembicaraan tidak langsung dengan Washington tahun ini gagal akibat serangan militer AS dan Israel. Para pejabat menilai Barat mengincar hegemoni regional dan dominasi sepihak, yang bertentangan dengan prinsip Revolusi Islam.
Di sisi lain, Iran berupaya memanfaatkan setiap peluang diplomatik untuk memperbaiki kondisi politik dan mendorong pencabutan sanksi. Meski skeptis terhadap apa yang disebut sebagai “gestur munafik” pejabat Barat yang berbicara tentang perdamaian dan keadilan, para pembuat kebijakan Iran menekankan pentingnya memperkuat hubungan dengan anggota SCO, BRICS, dan negara-negara Selatan Global.
Mereka juga menyoroti peluang kerja sama dengan negara-negara Islam dan Arab—termasuk Pakistan, Mesir, Turki, Irak, dan lainnya—untuk mendukung rakyat Palestina di Gaza serta menunjukkan solidaritas dengan Qatar usai serangan Israel.
Iran memiliki sejumlah “kartu kuat” dalam dialog dengan Barat: kemandirian dan ketahanan industri nuklirnya, kohesi sosial yang muncul selama konfrontasi 12 hari dengan Israel, kemampuan pertahanan yang maju, hubungan strategis dengan kekuatan Timur, keahlian para ilmuwan Iran, ketahanan ekonomi di bawah sanksi, serta kedalaman budaya dan peradaban kuno Iran. Semua faktor ini berperan penting dalam menggagalkan mekanisme snapback sekaligus memperkuat agenda diplomasi Teheran.
PBB, khususnya Majelis Umum, sudah lama menjadi panggung penting bagi perdebatan, dialog, dan diplomasi antarnegara. Bagi Iran, forum ini bukan sekadar tempat menyampaikan posisi resmi, tetapi juga sarana untuk menampilkan soft power dan kapasitas diplomasi.
Lewat pidato, negosiasi, dan konsultasi multilateral, delegasi Iran berusaha memengaruhi opini publik dunia, menampilkan wajah sejati kebijakan luar negeri negara itu, sekaligus mengirim pesan strategis kepada kekuatan besar dan pusat pengaruh global.
Selain itu, keberadaan Iran di New York memberi peluang untuk menjalin hubungan dengan berbagai negara dan organisasi di sela-sela sidang. Interaksi ini bisa membantu mengurangi tekanan, membuka saluran kerja sama baru, sekaligus menegaskan peran regional dan global Iran.
Dalam arti ini, PBB bukan hanya lembaga internasional, melainkan juga panggung bagi Iran untuk menunjukkan kekuatan diplomasi, kecerdasan strategi, serta kapasitasnya dalam membentuk perhitungan internasional—sambil mengedepankan pesan perdamaian, keadilan, keterbukaan, dan wibawa di kancah global. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












