Search

Sekte Pelayan Penguasa: Hipokrisi Penganut Wahabi Indonesia dalam Isu Palestina

Penulis. (Kata Kaltim)

Oleh: Ismail Amin Pasannai*

Di tengah kobaran penderitaan bangsa Palestina, masih ada suara-suara dari sebagian kelompok Islam di Indonesia yang bukan hanya bungkam terhadap kezaliman penguasa Arab, tetapi bahkan menjustifikasi kemunafikan mereka atas nama agama dan kemaslahatan. Ironisnya, mereka berasal dari kalangan yang mengklaim sebagai penjaga kemurnian tauhid, penganut manhaj salaf, dan pejuang syariat Islam. Tetapi realitas sikap mereka menunjukkan apa yang lebih pantas disebut sebagai “sekte pelayan penguasa”—kelompok yang menjadikan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan dan membungkam suara keadilan.

Membela Raja-Raja Arab, Membenamkan Palestina

Ketika negara-negara Arab satu per satu menormalisasi hubungan dengan Israel, termasuk negara yang mengklaim sebagai penjaga dua tanah haram, para pendukung Wahabisme di Indonesia justru sibuk mencari dalih. Mereka mengatakan itu adalah “ijtihad penguasa”, “strategi diplomasi”, “kemaslahatan umat”, atau bahkan “takdir dan ujian” bagi rakyat Palestina. Retorika keagamaan digunakan untuk meredam kemarahan umat, bukan untuk mengobarkan semangat pembebasan.

Padahal, dalam sejarah Islam, diam terhadap kezaliman adalah bentuk pengkhianatan kepada risalah Islam. Rasulullah Saw tidak pernah menyerahkan diri pada kekuasaan zalim demi kemaslahatan semu. Tapi kelompok ini menjadikan ketundukan terhadap penguasa sebagai rukun iman keenam, selama penguasanya adalah raja-raja Arab.

Lebih dari itu, mereka memuji setinggi langit “kontribusi” raja-raja Arab dalam membantu Palestina —hanya karena bantuan logistik atau donasi uang— sementara pada saat yang sama, jalur diplomatik dan logistik ke Israel justru dibuka lebar-lebar, dan blokade terhadap Gaza dibiarkan berlangsung bertahun-tahun. Ketika pintu Rafah ditutup atau pasokan bahan bakar diblokir oleh negara Arab sendiri, mereka diam. Tak ada satu pun kritik terhadap para penguasa itu. Diam total. Tunduk total.

Nyinyir terhadap Muqawamah, Mengendurkan Semangat Perlawanan

Alih-alih mengobarkan semangat membela Palestina, kelompok ini justru sibuk menyebarkan syak wasangka dan fitnah terhadap poros perlawanan yang nyata-nyata berkonfrontasi langsung dengan Israel: Iran, Hizbullah di Lebanon, dan Ansharullah di Yaman. Mereka menuding semua bentuk dukungan dari pihak-pihak ini sebagai “gimmick”, “politik pencitraan”, atau “Syiah menyusup di isu Palestina”.

Padahal, dunia menyaksikan bagaimana Hizbullah membuat Israel ketakutan di perbatasan utara, Ansharullah menghalangi kapal-kapal Zionis, dan Iran secara terbuka mendukung persenjataan dan strategi kelompok perlawanan Palestina. Tapi kelompok Wahabi ini justru mengalihkan perhatian umat dari fakta-fakta itu, dan menanamkan keraguan terhadap para pejuang yang benar-benar berdarah-darah di medan perlawanan.

Inilah strategi pengenduran perlawanan: membuat umat kehilangan arah, tidak percaya kepada muqawamah, dan akhirnya hanya pasrah, mendoakan sambil memuji raja Arab yang justru berkompromi dengan penjajah.

Demonstrasi Haram, Tapi Selektif

Salah satu bentuk nyata kemunafikan mereka adalah soal demonstrasi. Di saat umat Islam turun ke jalan menyerukan pembelaan terhadap Palestina, kelompok Wahabi mengharamkan demonstrasi. Mereka menyebutnya sebagai “bid’ah”, “meniru cara Barat”, dan “pintu kerusakan”. Tapi anehnya, ketika pemerintah Indonesia membuat kebijakan yang tidak mereka sukai—dari calon kepala daerah non muslim, revisi kurikulum, hingga isu moral—mereka berbondong-bondong berdemo, bahkan menghasut umat. Demonstrasi haram, kecuali kalau itu menyasar lawan politik penguasa yang mereka dukung.

Dua Timbangan Moral

Kelompok ini juga terkenal hipokrit dalam urusan moralitas. Mereka bisa berdemo habis-habisan karena satu konser musik di Jakarta, atau karena selebriti tampil tidak sesuai syariat. Tapi ketika di Saudi—pusat Wahabisme—kini justru menggelar konser musik campur laki-laki perempuan, merayakan Halloween, bahkan membebaskan perempuan dari kewajiban berjilbab, mereka mendadak bisu. Tiba-tiba semuanya bisa diterima karena “itu keputusan waliyyul amr” (penguasa).

Ini adalah wajah kemunafikan yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Ketika penguasa Arab menggandeng Amerika Serikat, menjalin hubungan dengan Zionis Israel, membungkam gerakan perlawanan, dan mengkhianati Palestina, sekte pelayan penguasa ini tampil sebagai pembela, bukan pengkritik. Tapi ketika negara-negara lain, termasuk Indonesia, menjalankan sistem demokrasi, mereka justru memaksa penegakan syariat, bahkan menyerukan khilafah.

Khilafah dan Syariat: Cuma Komoditas?

Kelompok ini tak henti-hentinya menyerukan “khilafah Islamiyah” dan penerapan syariat secara total, seolah itulah solusi semua masalah umat. Tapi mari kita tengok ke negara asal ideologi mereka: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain. Apakah mereka khilafah? Apakah mereka menerapkan syariat secara konsisten? Tidak. Mereka adalah monarki absolut sekuler, yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam.

Di Saudi sendiri, jilbab kini tidak lagi diwajibkan, perempuan bebas tampil tanpa hijab, bioskop dibuka, konser musik digelar tiap minggu, dan acara-acara hiburan gaya Barat disambut meriah. Lalu, bagaimana mungkin mereka masih menjual narasi khilafah, sementara kiblat ideologis mereka justru menjauh dari Islam itu sendiri?

Bangkit dari Ketundukan Semu

Islam adalah agama pembebasan, bukan penundukan. Ia turun untuk membela yang tertindas (mustadh’afin), bukan melayani yang menindas (mustakbirin). Jika ada kelompok yang memakai Islam untuk membenarkan ketundukan terhadap penguasa zalim, diam atas penjajahan, dan membungkam suara kebenaran, maka mereka bukan pembela tauhid, tapi penjaga berhala kekuasaan.

Kini saatnya umat membuka mata. Palestina tidak akan dibebaskan oleh mereka yang mencintai kekuasaan lebih dari kebenaran. Umat harus menyingkap wajah hipokrit sekte pelayan penguasa, dan kembali kepada semangat Islam revolusioner: menegakkan keadilan, membela yang lemah, dan melawan segala bentuk kemunafikan—termasuk yang berbaju agama. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA