BERITAALTERNATIF.COM — Peringatan Yaumul Quds Internasional terus digelar secara konsisten di Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (ABI) Kaltim, Sayyid Thoriq Assegaff, menyebut bahwa gerakan ini bukan sekadar aksi tahunan, melainkan wujud tanggung jawab moral dan spiritual umat Islam terhadap penindasan yang terjadi di Palestina.
Menurut Sayyid Thoriq, secara historis gerakan Yaumul Quds di Kaltim telah berjalan lebih dari dua dekade.
Sejak pertama kali digelar pada 2005, aksi solidaritas tersebut terus dilakukan setiap tahun meski dengan berbagai keterbatasan.
“Secara historis, hingga tahun ini kita sudah 22 kali melaksanakan kegiatan Yaumul Quds di Kalimantan Timur,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif pada Jumat (13/3/2026).
Dia menegaskan bahwa tujuan utama dari peringatan ini bukan semata mengumpulkan massa, tetapi membangun kesadaran umat tentang isu yang lebih besar dari kepentingan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, umat Islam perlu menyadari bahwa ada persoalan besar yang menyangkut martabat dan kehormatan umat.
“Kita ingin mengingatkan bahwa ada hal yang lebih penting dari sekadar mempertahankan ekonomi atau kehidupan keluarga.
Ada izzatul Islam, ada kemuliaan umat Islam yang dirampas, dan ada tempat suci umat Islam yang dinodai,” jelasnya.
Meski telah berlangsung selama 22 tahun, Sayyid Thoriq mengatakan pihaknya tidak berharap gerakan ini secara instan mampu membuat seluruh umat mengikuti langkah yang sama. Baginya, yang terpenting adalah menjalankan tanggung jawab syariah atas seruan solidaritas terhadap Palestina.
Dia menambahkan, setidaknya dengan melakukan aksi solidaritas tersebut, umat tidak termasuk dalam golongan yang tidak peduli terhadap penderitaan rakyat Palestina.
“Setidaknya kita tidak tergolong orang-orang yang tidak memperdulikan Palestina,” ujarnya.
Untuk menggambarkan semangat tersebut, ia menyinggung kisah simbolik dari masa Nabi Ibrahim as.
Dalam cerita itu, seekor burung kecil berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim dengan membawa setetes air menggunakan paruhnya.
Meski usaha itu tampak kecil dan tidak mungkin memadamkan api besar, burung tersebut tetap melakukannya sebagai bentuk keberpihakan terhadap kebenaran.
“Burung itu mengatakan, setidaknya Allah melihat bahwa ia berusaha menyelamatkan Ibrahim dan tidak berada di pihak orang-orang yang menzalimi,” tuturnya.
Ia berpendapat, semangat itulah yang menjadi motivasi gerakan solidaritas Palestina yang selama ini dilakukan umam Islam di Kaltim.
Sayyid Thoriq juga menanggapi anggapan bahwa Yaumul Quds sering dianggap sebagai gerakan yang hanya diikuti kelompok tertentu dalam Islam.
Dia menilai stigma tersebut muncul akibat kuatnya fanatisme di kalangan umat. Padahal di banyak negara Barat, aksi solidaritas terhadap Palestina justru diikuti oleh berbagai kalangan, termasuk non-muslim.
“Kita melihat di Amerika, Inggris dan beberapa negara Eropa, peserta aksi Yaumul Quds bisa setengah Muslim dan setengah non-muslim. Mereka memandangnya sebagai gerakan kemanusiaan,” jelasnya.
Sementara di negara-negara Muslim, menurutnya, sekat-sekat keyakinan dan fanatisme mazhab seringkali membuat pesan kemanusiaan dari gerakan tersebut tidak tersampaikan secara luas.
“Fanatisme di kalangan umat Islam menjadi salah satu penyakit yang cukup serius. Kita harus mampu melihat kebenaran secara objektif, bukan hanya berdasarkan emosi atau subjektivitas,” katanya.
Meski demikian, Sayyid Thoriq tetap optimistis bahwa perjuangan solidaritas terhadap Palestina akan terus berkembang dan mendapatkan dukungan yang lebih luas.
Dia bahkan menyampaikan keyakinannya bahwa perjuangan rakyat Palestina suatu saat akan mencapai kemenangan.
“Tugas kita memang masih panjang dan berat. Tapi insyaallah saya meyakini suatu saat nanti ini bisa menjadi Yaumul Quds terakhir, karena Israel tidak lagi ada di muka bumi,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











