BERITAALTERNATIF.COM – Pembunuhan Sayyid Ali Khamenei oleh Amerika Serikat dan Israel justru mempercepat transisi kepemimpinan di Iran, dengan menempatkan Sayyid Mujtaba Khamenei di pucuk kepemimpinan, sekaligus menjamin perlawanan maksimal dan kesinambungan Revolusi Islam di tengah perang.
Jauh dari upaya “memenggal kepala” sistem politik Iran, pembunuhan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Sayyid Ali Khamenei justru memicu transisi yang mulus menuju generasi berikutnya.
Sebelum 28 Februari, Revolusi Islam Iran sebenarnya sedang mempersiapkan titik balik paling penting sejak wafatnya pendirinya, Ayatullah Ruhollah Khomeini, yang sebelumnya memimpin sebelum Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Pada usia 86 tahun, persiapan untuk berakhirnya masa kepemimpinannya memang sudah mulai dilakukan.
Meskipun selama dua dekade media Barat menyebarkan berbagai informasi tentang “memburuknya kesehatan” beliau, Ayatullah Khamenei tetap tampak sehat hingga akhir hayatnya. Sangat mungkin ia sebenarnya masih dapat hidup hampir satu dekade lagi. Jika ia wafat karena sebab alami, sistem politik Iran akan menghadapi tugas besar untuk menentukan arah baru setelah kepemimpinan yang berlangsung lebih dari empat dekade.
Selama masa kepemimpinannya, lanskap politik Iran mengalami evolusi besar, termasuk muncul, melemah, dan berubahnya berbagai faksi politik.
Kepresidenan Akbar Hashemi Rafsanjani (1989–1997), yang juga merupakan salah satu arsitek Republik Islam, mengawasi liberalisasi ekonomi yang signifikan, dengan pendekatan konservatisme teknokratis yang serupa dengan banyak negara pasca-Perang Dingin.
Pada akhir 1990-an, kelompok “Radikal” era Khomeini yang sebelumnya mendukung nasionalisasi besar-besaran, reformasi tanah, dan perencanaan ekonomi terpusat, muncul kembali sebagai kelompok Reformis.
Tokoh-tokohnya antara lain Presiden Mohammad Khatami (1997–2005), Perdana Menteri masa perang Mir-Hossein Mousavi, serta Ketua Parlemen Mehdi Karroubi. Mereka mendorong liberalisasi budaya dan politik, sekaligus meninggalkan penolakan terhadap reformasi ekonomi kapitalis era Rafsanjani.
Kelompok ini juga sangat mendukung normalisasi hubungan dengan Barat—hingga pemerintahan kedua Presiden George W. Bush memasukkan Iran sebagai bagian dari Axis of Evil dan menjadikannya target utama kampanye perubahan rezim AS di kawasan dari Levant hingga Afghanistan.
Sebagai respons terhadap tekanan tersebut serta perubahan ekonomi pada 1990-an, pemilu 2005 melahirkan konsolidasi kelompok Principlists, yang dalam media Barat sering disebut secara sederhana sebagai “garis keras”.
Generasi lebih muda ini, yang banyak berasal dari latar belakang militer dan keamanan pada masa Perang Iran-Irak, mengusung konservatisme religius dan budaya serta menghidupkan kembali kebijakan ekonomi dan sosial revolusioner awal.
Tokoh utama kelompok ini adalah Presiden Mahmoud Ahmadinejad (2005–2013), yang masa kepemimpinannya menyaksikan meningkatnya ketegangan dengan Barat hingga konflik militer menjadi kemungkinan nyata.
Menjelang akhir masa jabatan keduanya, gaya politik Ahmadinejad yang sangat polarizing memunculkan perbedaan di dalam kubu Principlists, antara tokoh yang bersifat anti-establishment dan mereka yang memiliki kekuatan institusional lebih besar, seperti Ali Larijani dan Mohammad Bagher Ghalibaf.
Kerja sama kelompok “Principlists pragmatis” ini dengan koalisi Reformis dan Pragmatist yang mendukung Hassan Rouhani (2013–2021) memungkinkan tercapainya Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) untuk mengatur program nuklir Iran.
Namun pada masa Rouhani pula, Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian tersebut dan memberlakukan sanksi maximum pressure.
Pembunuhan komandan Pasukan Quds Qassem Soleimani pada tahun 2020 menandai fase baru provokasi militer langsung.
Sejak 2021, kelompok Principlists kembali merebut kursi presiden di bawah mantan Ketua Mahkamah Agung Ebrahim Raisi (2021–2024). Mereka melanjutkan strategi “kesabaran strategis” untuk mengelola eskalasi dari AS dan, sejak Oktober 2023, perang regional yang dipicu Israel terhadap Poros Perlawanan.
Kepresidenan kemudian kembali ke kubu Reformis setelah Raisi meninggal secara tak terduga dalam kecelakaan helikopter pada 2024, dan digantikan oleh Masoud Pezeshkian.
Namun sejak hari pertama masa jabatannya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berhasil memicu krisis menjadi konflik militer langsung. Konflik ini kemudian berpuncak pada syahidnya pemimpin Revolusi dan perang gabungan AS-Israel terhadap Iran.
Mengapa Mojtaba Khamenei Dipilih
Jika Sayyid Ali Khamenei wafat secara alami, kemungkinan besar putranya tidak akan menggantikannya, sejalan dengan prinsip Republik Islam yang menolak kesan kekuasaan turun-temurun.
Namun dalam kondisi perang total, pertimbangan tersebut menjadi tidak relevan.
Pengalaman puluhan tahun Sayyid Mujtaba di kantor ayahnya, pemahamannya tentang sistem pemerintahan, serta kualifikasinya dalam ilmu fikih dan manajemen menjadikannya, di mata Assembly of Experts, sebagai sosok paling mampu untuk memimpin.
Selain itu, pernyataan Presiden Trump yang secara terbuka menyebut Sayyid Mujtaba sebagai kandidat “tidak dapat diterima” justru memperkuat dukungan terhadapnya.
Ditambah dengan legitimasi publik yang muncul setelah kesyahidan ayah, saudara perempuan, istri, dan anaknya, Sayyid Mujtaba muncul sebagai simbol perlawanan maksimal sekaligus kesinambungan maksimal.
Trump secara tidak sengaja memperpanjang kepemimpinan empat dekade Sayyid Ali Khamenei ke masa depan melalui sosok putranya.
Apa yang seharusnya menjadi momen persaingan dan perpecahan faksi justru berubah menjadi kesepakatan yang memperkuat persatuan sistem politik Iran dalam menghadapi agresi asing yang dianggap eksistensial.
Transisi ini juga mempercepat pergantian generasi kepemimpinan—dari para arsitek Revolusi kepada generasi yang bertempur di parit-parit perang pada 1980-an, termasuk Sayyid Mujtaba sendiri.
Karena ia baru berusia 10 tahun ketika Revolusi Iran berhasil pada 1979, jika ia hidup setidaknya selama ayahnya, Sayyid Mujtaba berpotensi memimpin Republik Islam hingga akhir abad ke-21, memastikan kesinambungan kepemimpinan ayahnya jauh melampaui masa hidupnya. Ini jelas bukan hasil yang diharapkan Trump, tetapi itulah kenyataan yang kini harus ia hadapi. (*)
Sumber: Al Mayadeen











