Search

Sayyid Ali Khamenei: Arsitek Poros Perlawanan

Dalam penghormatan ini, penulis ingin memusatkan perhatian pada peran Sayyid yang telah gugur syahid sebagai arsitek Poros Perlawanan sekaligus pemimpin spiritual dan politik, yang visinya membantu membentuk satu generasi penuh perjuangan dan pembaruan. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Sebagaimana seorang arsitek menyelesaikan bagiannya dalam sebuah proyek, kini tibalah waktunya bagi para pembangun—kita semua—untuk mengambil cetak biru itu dan menuntaskan proyek yang telah ia mulai.

Ketika seorang arsitek meninggal dunia, apakah bangunan yang ia rancang ikut runtuh bersamanya? Ataukah bangunan-bangunan itu tetap berdiri, menjadi bukti atas visi yang dimilikinya sekaligus menjadi hujjah (bukti) atas seluruh karya hidupnya?

Demikian pula, ketika seorang pemimpin spiritual dan politik gugur syahid di jalan yang sepanjang hidupnya ia tempuh tanpa rasa takut, apakah ruh suatu bangsa turut lenyap bersamanya? Apakah tubuh politik suatu bangsa ikut mati karena kepergiannya? Ataukah justru bangsa itu menjadi semakin kuat, diperkaya, dan diperbarui oleh teladan pengorbanannya? Saya berpendapat bahwa kemungkinan yang terakhir itulah yang benar.

Tugas yang diberikan kepada saya—menyampaikan penghormatan bagi seorang pemimpin seperti Rahbar Ali Khamenei—bukanlah perkara mudah. Meskipun saya memperoleh pendidikan dan memiliki dahaga akan ilmu pengetahuan, saya tidak pernah tumbuh dalam sebuah peradaban yang masih berpegang teguh pada “tali Allah yang kokoh” berupa iman, tradisi, dan peradaban (Al-Qur’an 3:103). Di tempat saya hidup, hampir tidak ada elite moral dan sangat sedikit kepemimpinan yang layak disebut demikian. Namun dari kejauhan, saya mulai memahami arti penting warisan Ayatullah Ali Khamenei. Warisan itu akan tetap hidup melampaui usia beliau, menerangi jalan menuju dekolonisasi dan kedaulatan bagi generasi-generasi yang akan datang.

Pengaruh beliau tidak dapat diukur semata-mata dari jabatan yang pernah diembannya ataupun kebijakan yang dipromosikannya, melainkan dari institusi yang turut ia bangun, gagasan yang ia kembangkan, dan manusia-manusia yang ia ilhami.

Dalam penghormatan ini, saya ingin menyoroti peran Sayyid yang telah gugur syahid sebagai arsitek Poros Perlawanan sekaligus pemimpin spiritual dan politik, yang visinya telah membantu membentuk satu generasi penuh perjuangan dan pembaruan.

Dalam salah satu ceramahnya, Syahid Sayyid Khamenei berbicara mengenai kesabaran Imam Husain yang telah mengetahui takdirnya ketika menempuh perjalanan menuju Karbala. Kesabaran itu kemudian diterjemahkan menjadi kebijakan negara oleh Sayyid Khamenei. Kenyataan yang dihadapi Iran berupa sanksi, pencekikan ekonomi, dan isolasi politik menjadi medan tempat kesabaran strategis tersebut diuji dan dibuktikan. Setelah mewarisi angkatan bersenjata yang lemah dan korup dari rezim Syah, pemerintahan Revolusi Islam dipaksa menghadapi perang berkepanjangan melawan Irak yang didukung Barat. Dari tempaan itulah Pasdaran (IRGC) dibentuk dan berkembang menjadi kekuatan tempur yang sesungguhnya. Mengingat Revolusi Islam membutuhkan pembangunan hubungan serta penguatan ideologi kemandirian, maka sangat masuk akal apabila IRGC juga diberi tugas membantu kekuatan-kekuatan anti-kolonial dan revolusioner di kawasan. Hubungan-hubungan tersebut terjalin berkat bimbingan Sayyid Khamenei.

Sayyid Khamenei merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi kedalaman strategis kawasan dan konfrontasi terhadap koloni Zionis. Meskipun negara Iran telah melalui berbagai fase konfrontasi maupun rekonsiliasi dengan Barat, kepemimpinan Sayyid Khamenei tetap menjadi kekuatan yang stabil yang menjaga negara tetap berpegang pada tanggung jawab konstitusionalnya, yaitu membantu pembebasan Palestina dan kawasan dari Zionisme, kolonialisme, dan imperialisme. Dalam buku singkat yang beliau tulis mengenai Palestina, Sayyid Khamenei menyatakan dengan sangat jelas:

“Sikap kami terhadap persoalan Palestina adalah sikap yang jelas. Kami mendukung bangsa Palestina. Kami mendukung pembebasan Palestina. Kami mendukung gagasan untuk mengakhiri pelanggaran yang dilakukan para agresor terhadap tanah Palestina. Kami mengatakan bahwa rakyat Palestina tidak memiliki keamanan di rumah mereka sendiri. Islam menentang kondisi seperti itu, dan kami pun demikian, meskipun negara-negara lain duduk di meja perundingan dan menjual Palestina kepada musuh-musuhnya. Namun mereka harus mengetahui bahwa umat Islam dan bangsa Palestina tidak akan pernah menjual Palestina kepada musuh.”

Sesungguhnya, kepemimpinan Sayyid Khamenei menempatkan Iran dengan kokoh di dalam kubu anti-imperialis di tingkat global. Saya masih ingat pernah melihat sebuah foto Sayyid yang telah gugur syahid berdampingan dengan revolusioner sekaligus syahid asal Burkina Faso, Thomas Sankara, lalu saya berpikir dalam hati, “Andai saja saya dapat menjadi lalat yang menyaksikan pertemuan dua pemikir besar itu.” Kepemimpinan seperti itu merupakan permata langka yang patut dihargai.

Para pemimpin Revolusi Islam seperti Sayyid Khamenei, Beheshti, Bani Sadr, dan Taleqani bukan hanya elite moral, tetapi juga pelopor intelektual bagi suatu pemahaman Islam yang menolak sikap pasif, kepatuhan membabi buta, dan menjauh dari tindakan nyata demi melayani kepentingan para penghuni istana.

Mereka adalah arsitek Islam yang penuh vitalitas dan berorientasi pada praksis—Islam yang menghadapi penindasan, mengangkat martabat kemanusiaan, melawan Taghut yang diwujudkan dalam imperialisme Amerika Serikat dan Zionis, serta berusaha mewujudkan risalah Nabi Muhammad Saw dalam kehidupan nyata. Para pemimpin ini adalah penulis buku-buku yang membahas Islam, sosialisme, anti-imperialisme, fatwa keagamaan, dan sejarah umat manusia. Mereka sesungguhnya merupakan fondasi dari teori sosial yang baru.

Selama bertahun-tahun, Islam telah disalahpahami dan dicitrakan secara buruk di dunia Barat, padahal banyak fondasi peradaban modern—mulai dari angka yang kita gunakan, ilmu kedokteran yang kita praktikkan, pelestarian filsafat kuno, hingga perkembangan historiografi—sangat berutang kepada kontribusi para cendekiawan Muslim.

Suatu hari nanti, ketika penyensoran telah berakhir dan masyarakat memiliki kesempatan melihat Iran dan umat Islam berdasarkan kenyataan mereka sendiri, mereka akan memandang karya-karya Sayyid Khamenei dan tokoh-tokoh lainnya sebagai teori sosial fundamental yang lahir pada masa peralihan antara dunia lama dan dunia baru.

Banyak orang di Barat memiliki gambaran yang menyimpang tentang apa itu seorang “Ayatullah”, karena keseluruhan peradaban Barat sejak apa yang disebut sebagai Renaisans dibangun di atas penolakan terhadap prinsip-prinsip agama tradisional. Upacara pemakaman yang diselenggarakan bagi Sayyid yang gugur syahid memperlihatkan jurang yang sangat dalam yang memisahkan kedua peradaban tersebut. Di lingkungan Arab-Iran, kepemimpinan mencerminkan perpaduan antara “seleksi dan pemilihan”, di mana tokoh-tokoh seperti Sayyid Khamenei tidak hanya bertindak sebagai kepala negara, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual dan marja’ teladan bagi jutaan orang beriman.

Sebaliknya, dalam peradaban Barat, kepemimpinan mengikuti logika kriminal dan mafia, di mana kepemimpinan dikaitkan dengan nilai-nilai materialistis serta kemampuan mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan sadisme. Hal itu terlihat dari kekerasan yang bersifat genosida terhadap rakyat Gaza, Lebanon, Yaman, Irak, dan Iran. Jutaan orang yang memenuhi jalan-jalan dalam prosesi pemakaman Sayyid Khamenei tampak menangis dan berdoa, sebuah pemandangan yang menjadi bukti bahwa kesyahidan Sayyid telah meneguhkan kembali serta memperkuat pelajaran-pelajaran yang beliau ajarkan sepanjang hidupnya.

Dengan kembali menempatkan Palestina sebagai poros utama kawasan dan agama, Sayyid Khamenei dikenang oleh banyak orang sebagai simbol Poros Perlawanan. Jejak tangannya tampak pada setiap kemenangan di sepanjang jalan menuju Al-Quds. Hikmah yang beliau tinggalkan menjadi pengingat akan pentingnya kejernihan pandangan di jalan pembebasan kawasan. Kini Sayyid Khamenei bergabung dalam barisan para syuhada, saudara-saudara seperjuangannya dan sesama pemimpin: Sayyid Hassan Nasrallah, Yahya Sinwar, Ismail Haniyeh, Ali Larjani, dan Qassem Soleimani, untuk menyebut beberapa di antaranya.

Dunia menjadi lebih miskin dengan kehilangan Sayyid Khamenei. Namun sebagaimana seorang arsitek menyelesaikan bagiannya dalam sebuah proyek, kini tibalah saatnya bagi para pembangun—kita semua—untuk mengambil cetak biru tersebut dan menuntaskan proyek yang telah beliau mulai. (*)

Penulis: Hanna Eid
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA