Search

Sayyid Ali Khamenei: Sejenak Keheningan yang Mengubah Dunia

Melalui kesyahidannya, Sayyid Ali Khamenei mengubah citra Iran di mata dunia, dari negara yang selama ini dicap sebagai negara pembangkang (rogue state) menjadi sebuah kekuatan yang berani, teguh, dan tengah bangkit. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Hasil-hasil berpengaruh dari pencapaian strategis Sayyid Ali Khamenei, yang mampu membalikkan keadaan demi keuntungan Iran, tidak tampak semasa hidupnya. Seolah-olah kesabaran strategis itu baru berakhir dengan kesyahidannya, dan seakan-akan beliau sendiri telah memilihnya sebagai sebuah rencana agar tahap baru Revolusi Islam dimulai setelah beliau mengembuskan napas terakhir.

Tak seorang pun mengetahui kedalaman pencapaian-pencapaian tersebut selama beliau masih hidup. Orang-orang baru benar-benar memahaminya setelah kesyahidannya. Untuk memahami hal itu, kita perlu kembali ke awal masa kepemimpinannya sebagai Wali al-Faqih, selain juga menelusuri sejarah perjuangannya dalam revolusi sebelum tumbangnya Syah, perannya selama revolusi berlangsung, serta kepemimpinannya setelah kemenangan revolusi. Seluruh perjalanan itu menjadikannya kandidat alami yang paling kuat dan paling menonjol untuk mengemban kepemimpinan tertinggi.

Saat itu revolusi berada dalam kondisi kelelahan, sementara negara mengalami pengurasan kekuatan dan masih berupaya bangkit kembali setelah dikepung berbagai konspirasi dari segala penjuru. Mulai dari aksi teror kelompok MEK dan gerakan-gerakan separatis yang membunuh para pemimpin penting pada masa-masa awal revolusi, hingga perang delapan tahun yang dipaksakan kepada Iran serta berbagai pengkhianatan dari dalam negeri yang bertujuan menggulingkan Revolusi Islam.

Sayyid Khamenei mengambil alih kepemimpinan negara ketika revolusi sedang mengalami luka yang sangat dalam dan negara hampir hancur. Beliau menetapkan satu tujuan utama di hadapannya, yaitu melembagakan negara tersebut setelah Allah meniupkan ke dalamnya ruh yang agung melalui Ruhollah Sayyid Al-Khomeini.

Pemimpin baru itu menjadikan pembangunan institusi sebagai perhatian utamanya, sehingga meskipun masing-masing institusi berdiri sendiri, semuanya dibangun dengan kokoh, saling terhubung, dan saling melengkapi. Beliau menciptakan mekanisme jenjang kewenangan antarlembaga sesuai tingkat pengambilan keputusan, dengan setiap lembaga memiliki bidang tugasnya masing-masing. Tujuannya adalah agar seluruh urusan berjalan tertib dan berbagai persoalan dapat diselesaikan tanpa terjebak dalam birokrasi yang menghambat pergerakan. Sistem ini dirancang sedemikian rupa sehingga apabila satu lembaga mengalami kegagalan atau kehilangan kemampuannya, hal itu tidak akan mengganggu jalannya lembaga-lembaga lainnya, karena dapat digantikan oleh mekanisme lain.

Institusi-institusi tersebut juga melibatkan partisipasi rakyat melalui proses pemilihan langsung maupun tidak langsung, dari tingkat tertinggi hingga tingkat terbawah. Tidak ada satu pun lembaga yang berada di atas hukum. Bahkan Wilayat al-Faqih sendiri memiliki mekanisme pertanggungjawaban. Seorang Wali al-Faqih diangkat sekaligus diawasi oleh Majelis Khubregan (Majelis Ahli), sementara anggota majelis tersebut dipilih langsung oleh rakyat. Pengawasan itu bahkan dapat mencakup penelaahan terhadap tindakan-tindakan terkecil sang pemimpin, mengawasi pelaksanaan tugasnya, serta mengevaluasi cara beliau menangani berbagai persoalan yang dihadapi negara.

Karena itu, sistem tersebut mencakup kekuasaan legislatif, eksekutif, yudikatif, hingga media, disertai dengan pembaruan secara terus-menerus terhadap setiap hal yang dinilai tidak lagi efektif. Efektivitas itu lahir dari kemampuan menghimpun seluruh energi bangsa beserta kompetensi yang dimilikinya, sehingga semuanya dapat diaktifkan sesuai bidang masing-masing.

Penghimpunan energi bangsa tidak didasarkan pada diskriminasi agama, mazhab, ataupun filsafat tertentu, melainkan berdasarkan prinsip kewarganegaraan dan kebutuhan negara. Hal itu diwujudkan melalui aktivitas di berbagai bidang yang ditata sedemikian rupa hingga Iran berkembang menjadi bangsa yang dinamis, produktif, dan efektif.

Hal tersebut dapat dilihat dari peran masjid, di mana pesan-pesan masjid hadir di jalan-jalan, pasar-pasar, lembaga pendidikan, universitas, hingga menjangkau sektor industri, pertanian, perdagangan, legislasi, dan hukum. Masjid-masjid di Iran menjadi institusi besar yang menghubungkan masyarakat dengan misi besar perjuangan mereka, yaitu tanggung jawab moral dan keagamaan. Dengan demikian, hubungan dengan Allah berubah menjadi ibadah yang aktif dalam setiap aspek kehidupan.

Perhatian terbesar beliau adalah membimbing masyarakat melalui hubungan spiritual tersebut dan mengaktifkannya di setiap bidang kehidupan. Tujuannya ialah membangun sebuah negara yang kuat, kokoh, produktif, mandiri, memiliki kemauan dan kekuatan, serta berlandaskan iman, tekad, dan berbagai sarana yang melahirkan kemampuan. Gagasan itu bukan sekadar deklarasi, melainkan juga program kerja yang setiap tahun beliau bacakan secara terbuka di hadapan bangsa Iran dan didengar oleh seluruh dunia pada Hari Arafah (9 Dzulhijjah). Dalam pidato tersebut beliau menyampaikan rencana kerja serta menetapkan sasaran-sasaran mendesak yang harus dicapai negara beserta seluruh institusinya pada tahun itu.

Bagi seluruh pengikutnya di berbagai belahan dunia, beliau juga menjelaskan hal-hal yang harus menjadi perhatian mereka agar mampu mengangkat dunia tempat mereka hidup menuju kondisi yang lebih baik. Di situlah terjalin hubungan dan hadirnya ruh yang menghidupkan visi yang praktis, realistis, penuh cita-cita, namun tetap dapat diwujudkan, baik bagi Iran maupun bagi seluruh umat.

Itulah pedoman dan pesan tahunan yang menentukan arah negara pada tahun berikutnya serta memusatkan perhatian pada kebijakan-kebijakan yang diperlukan sesuai kemampuan yang tersedia dan cita-cita pembangunan. Hal itu mencakup bidang ekonomi, politik, militer, dan keamanan, sekaligus menjadi panduan bagi pemerintah dalam melayani aspirasi warga negara dan menyelesaikan persoalan nyata yang mereka hadapi.

Keberhasilan diukur dari hasil akhirnya. Ketika sebuah negara dikenai sanksi besar di hampir seluruh bidang namun tetap mampu bertahan, hal itu menunjukkan bahwa kebijakan pemimpinnya adalah mengubah krisis menjadi peluang. Artinya, pertama-tama mengubah tekanan menjadi gerakan produktif, kemudian menciptakan jalur-jalur alternatif untuk menembus blokade tersebut, sehingga memberikan kepada Iran kekuatan, daya, jaringan hubungan, dan struktur yang kokoh. Hasilnya adalah terbentuknya sistem pengelolaan negara yang sangat sulit menjadi sasaran, karena sistem itu sendiri lahir di bawah kondisi terus-menerus menjadi target serangan.

Jalur-jalur dan jaringan paralel tersebut kemudian berkembang menjadi jaringan yang sangat luas dan mendalam, hingga mencapai tingkat yang sangat sulit untuk dibongkar. Musuh tidak dapat menghancurkan sesuatu yang tidak mereka pahami keberadaannya, kecuali dengan menghancurkan keseluruhan sistem itu.

Barangkali inilah yang mendorong musuh terbesar yang arogan untuk berupaya menggulingkan pemerintahan Islam setelah mereka mencapai titik keputusasaan. Mereka memandang bahwa tidak ada lagi jalan keluar selain menghancurkan sistem itu secara total dan mengakhiri pikiran yang mengarahkannya, yakni Sayyid Khamenei.

Namun yang gagal mereka pahami adalah bahwa pikiran tersebut merupakan pikiran yang senantiasa “berpegang teguh pada tali yang paling kokoh yang tidak akan pernah putus,” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 256. Sayyid Khamenei telah menolak taghut dan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan memahami hakikat itu sejak dini, Iran mampu mengembangkan industrinya hingga mencapai tingkat hampir mandiri dalam industri militer dan pertahanan.

Di bidang tersebut, Pemimpin Revolusi berupaya mewujudkan apa yang mungkin dicapai dan apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kondisi ketimpangan kekuatan. Beliau mengejar kemampuan yang mampu memberikan efek penangkal (deterrence) terhadap musuh, bukan sekadar menyamai kekuatan mereka, dengan mengunggulkan sarana-sarana pertahanan. Iran mengandalkan akumulasi pengalaman yang dimilikinya sendiri, bukan bergantung kepada negara-negara lain yang memberi atau menahan bantuan sesuai kepentingan mereka. Inilah salah satu pencapaian strategis lain yang diilhami oleh pemimpin yang gugur syahid tersebut, yakni dalam bidang produksi dalam negeri dan kemampuan beradaptasi sesuai tuntutan kebutuhan.

Beliau tidak hanya menyerukan tindakan dan menyusun metodologi, tetapi juga memahami banyak rincian di lapangan, bahkan ketika sedang membangun hubungan-hubungan strategis. Memang benar beliau melanjutkan fondasi yang telah ada sebelumnya, namun beliau menaruh perhatian besar untuk menanam benih-benih kebaikan agar tumbuh di bawah asuhan kaum tertindas yang merindukan bangkitnya pemikiran yang merdeka. Beliau mencintai mereka dan mereka pun membalas cintanya. Beliau lebih sering bertemu dengan kaum tertindas daripada bertemu dengan para pemimpin dan pejabat. Di setiap bidang beliau meninggalkan jejak pengaruh, dan ketika saat keheningan itu tiba, justru saat itulah pengaruhnya menjadi yang paling besar.

Beliau berhasil mempersatukan bangsa Iran. Beliau juga menyatukan berbagai medan perjuangan melawan kaum penindas. Bersamaan dengan itu, seluruh debu yang selama bertahun-tahun diterbangkan oleh berbagai kampanye propaganda untuk mencemarkan citra Iran pun mulai mengendap. Melalui kesyahidannya, beliau mengubah Iran, di mata dunia, dari sebuah negara yang dicap sebagai negara pembangkang (rogue state) menjadi sebuah kekuatan yang berani, penuh keberanian, dan sedang bangkit. (*)

Penulis: Batool Subeiti
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA