Search

Pemakaman Abad Ini di Iran: Jutaan Orang, Satu Suara, Satu Pesan

Kehadiran massa dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada prosesi pemakaman di Iran menjadi pusat perhatian sebagai sebuah pesan politik yang mencerminkan kohesi nasional sekaligus memiliki implikasi geopolitik yang lebih luas. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Empat bulan setelah gugurnya Pemimpin Iran, Sayyid Ali Khamenei, bersama sejumlah anggota keluarganya, termasuk cucunya yang baru berusia 14 bulan, pada awal agresi Israel-Amerika Serikat terhadap Iran, tokoh revolusioner, anti-imperialis, pemimpin spiritual, dan sosok ayah yang dihormati oleh jutaan orang di Iran maupun di luar negeri itu kini diperingati melalui rangkaian pemakaman selama sepekan yang berlangsung di berbagai kota di Iran dan Irak.

Rangkaian upacara tersebut telah menarik jutaan orang, menjadikan prosesi penghormatan terakhir ini sebagai salah satu peristiwa peringatan terbesar dan paling penting dalam sejarah modern kawasan.

Meskipun berlangsung di tengah teriknya musim panas, besarnya partisipasi masyarakat mencerminkan sebuah masyarakat yang sangat terikat dalam narasi politik dan keagamaan yang sama. Bagi para pendukungnya, perkumpulan besar tersebut bukan sekadar ungkapan duka, tetapi juga penegasan nyata atas persatuan nasional dan kesinambungan ideologis di tengah sikap arogan serta tekanan eksternal yang terus berlangsung.

Politik di Balik Lautan Pelayat

Upaya logistik yang dilakukan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai lembaga pemerintah, universitas, organisasi buruh, layanan darurat, dan kelompok sukarelawan dikerahkan untuk mengatur transportasi, keamanan, layanan medis, serta akomodasi bagi arus besar pelayat yang bepergian di antara kota-kota utama dan lokasi-lokasi suci di Iran.

Televisi pemerintah Iran menayangkan rekaman udara Kota Qom pada hari kelima rangkaian prosesi pemakaman Syahid Khamenei bersama beberapa anggota keluarganya.

Rekaman tersebut memperlihatkan lautan pelayat memenuhi jalan-jalan Kota Qom.

Sederhananya, besarnya partisipasi masyarakat menjadi demonstrasi persatuan dan ketahanan nasional.

Namun, prosesi pemakaman yang belum pernah terjadi sebelumnya ini telah menjadi jauh lebih dari sekadar ungkapan duka nasional. Ia berubah menjadi sebuah pertunjukan politik yang dampaknya bergema jauh melampaui perbatasan Iran, berbicara sekaligus kepada masyarakat dalam negeri, sekutu dan lawan di kawasan, serta komunitas internasional.

Dalam skala kehadiran yang luar biasa itu, banyak pihak melihat bukan hanya kesedihan, tetapi juga serangkaian pesan politik mengenai kekuatan, legitimasi, kesinambungan, dan perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan.

Suara dari Tengah Kerumunan: Persatuan dan Keteguhan dalam Duka Iran

Di tengah lautan manusia yang sangat besar, di bawah terik matahari dan beratnya kesedihan bersama, perasaan yang sama terus muncul berulang kali layaknya satu suara yang menyatu dari jutaan orang. Lautan pelayat itu mengubah duka pribadi menjadi simbol kuat identitas politik dan kesinambungan.

Di mata para pendukungnya, kesedihan atas kehilangan pemimpin mereka bukanlah sesuatu yang pasif. Kesedihan itu berubah menjadi energi yang diwujudkan dalam komitmen terhadap cita-cita Revolusi Islam yang diwariskan oleh beliau.

Dari Lapangan Revolusi di Teheran, para pelayat berkumpul untuk mengikuti prosesi pemakaman Pemimpin Sayyid Khamenei, salah satu titik utama berkumpulnya masyarakat dalam upacara bersejarah tersebut.

Mereka menggambarkan momen itu sebagai saat ketika kesedihan pribadi melebur menjadi kisah bersama tentang keteguhan, yang melampaui Iran sendiri hingga menjangkau mereka yang memandang perjuangan tersebut sebagai bagian dari proyek yang lebih luas, yakni perlawanan dan martabat di seluruh dunia.

Peristiwa ini dipandang sebagai momen bersejarah yang menentukan dalam memperkokoh ketahanan ideologis dan politik Republik Islam Iran. Rakyat Iran berbicara tentang persatuan bukan sekadar sebagai slogan, melainkan sebagai sesuatu yang mereka alami secara nyata melalui kesedihan bersama dan kehadiran kolektif.

Seruan untuk Pembalasan

Di balik suasana duka juga mengalir kemarahan yang mendalam, yang diwujudkan dalam tuntutan pertanggungjawaban atas darah pemimpin syahid sekaligus pembimbing spiritual mereka. Bersamaan dengan itu muncul keyakinan kuat bahwa kehilangan sebesar itu tidak dapat begitu saja menjadi bagian dari sejarah tanpa adanya keadilan.

Massa yang hadir dilaporkan meneriakkan berbagai slogan politik yang ditujukan kepada AS dan “Israel”, termasuk slogan-slogan yang telah dikenal sejak masa Revolusi seperti “Mati untuk Amerika” (Marg bar Amrika) dan “Mati untuk Israel” (Marg bar Esrail).

Slogan lainnya menekankan tuntutan pembalasan dan keadilan, dengan seruan berulang seperti “Pembalasan” (Enteqam) serta “Wahai para penuntut darah Khamenei” (Ya Litharat Khamenei) yang bergema di tengah lautan manusia.

Kepemimpinan Militer Iran Menunjukkan Sikap Teguh dan Kesinambungan

Kehadiran para tokoh senior Iran, baik dari kalangan politik maupun militer, juga membawa pesan politik yang kuat. Kehadiran mereka menandai ikrar kesetiaan bersama kepada Pemimpin yang telah wafat, Sayyid Khamenei, sekaligus menegaskan kembali komitmen terhadap visi ideologis dan strategis beliau, serta memperbarui tekad untuk melakukan pembalasan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas pembunuhannya.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, tampak menangis di hadapan peti jenazah Syahid Sayyid Khamenei pada Jumat ketika memberikan penghormatan terakhir dan memanjatkan doa.

Jutaan warga Iran mulai memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Syahid Revolusi Islam dan Republik Islam Iran tersebut.

Kehadiran mereka, meskipun di tengah ancaman berulang dari AS dan Israel, memiliki makna politik dan simbolis yang sangat besar. Kehadiran itu menjadi demonstrasi terbuka mengenai persatuan negara, ketangguhan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi tekanan eksternal, sekaligus menunjukkan bahwa ancaman eskalasi tidak berhasil mengganggu struktur kepemimpinan maupun kesinambungan institusi negara Iran.

Para pemimpin negara Iran serta Ketua Dewan Kemaslahatan (Expediency Discernment Council) tiba di Grand Musalla, Teheran, untuk memberikan penghormatan kepada Sayyid Khamenei.

Kehadiran mereka juga menyampaikan pesan perlawanan kepada para lawan Iran, sekaligus memperkuat persatuan di dalam negeri dan memproyeksikan citra stabilitas pada masa transisi yang sangat sensitif.

Di luar makna seremoni itu sendiri, kehadiran para pejabat tinggi menunjukkan betapa pentingnya kesinambungan pemerintahan serta pelestarian prinsip-prinsip dan arah strategis yang selama ini dikaitkan dengan kepemimpinan Iran.

Para komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Angkatan Darat Iran juga hadir di Grand Musalla, Teheran, untuk memberikan penghormatan kepada Panglima Tertinggi mereka yang gugur syahid sekaligus Pemimpin Iran, Sayyid Khamenei.

Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Abdollahi, menyatakan bahwa Iran akan tetap teguh menghadapi berbagai tantangan.

Semua itu juga mencerminkan tumbuhnya keyakinan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada pada titik balik sejarah, ketika tatanan lama mulai runtuh dan tatanan regional baru sedang terbentuk secara nyata.

Kepercayaan terhadap Kepemimpinan saat Ini

Di samping duka dan semangat perlawanan, pesan lain yang muncul adalah kesinambungan serta kepercayaan terhadap proses transisi kepemimpinan. Hal ini tercermin dari berbagai penyebutan terhadap Pemimpin Iran, Sayyid Mojtaba Khamenei, sebagai sosok yang akan melanjutkan warisan serta prinsip-prinsip Revolusi Islam Iran.

Di balik seluruh suasana itu terdapat kesiapan yang lebih luas—sebuah keyakinan yang berulang kali diungkapkan dengan berbagai cara—bahwa setelah masa berkabung ini berakhir, negara akan menghadapi apa pun yang datang berikutnya dengan keteguhan dan kesiapan, bukan dengan menyerah.

Besarnya partisipasi masyarakat ditafsirkan sebagai penanda realitas politik yang lebih mendalam, yakni bahwa negara Iran bukan sekadar kerangka kelembagaan yang dipertahankan dari atas, melainkan berdiri di atas konsensus sosial yang kokoh yang menyatukan negara dan masyarakat.

Dari sudut pandang tersebut, keselarasan yang tampak antara institusi negara dan partisipasi publik dalam jumlah besar pada prosesi pemakaman, yang disertai gema seruan “Labbaik ya Sayyid Mojtaba” (“Kami memenuhi panggilanmu, wahai Sayyid Mojtaba”), dipandang sebagai bukti kohesi politik, bukan hasil paksaan ataupun tanda adanya perpecahan internal.

Isyarat Kekuatan di Tingkat Regional dan Internasional

Di tingkat regional, perluasan rangkaian peringatan hingga ke Irak menegaskan dimensi lintas negara dari identitas politik dan keagamaan, dengan menghubungkan kota-kota suci seperti Najaf dan Karbala ke dalam ruang geografis yang lebih luas sebagai simbol memori kolektif dan makna politik.

Mobilisasi masyarakat, simbolisme keagamaan, dan pesan geopolitik berpadu dalam satu peristiwa yang sangat mencolok.

Di tingkat kawasan, peringatan ini dipandang oleh para sekutu sebagai bukti bahwa Iran tetap menjadi poros utama dalam geopolitik Asia Barat. Iran dinilai tetap menjadi kekuatan yang stabil dan mampu membentuk keseimbangan kawasan, bukan sekadar bereaksi terhadap perkembangan yang terjadi, terutama setelah agresi AS dan Israel.

Kehadiran maupun pengakuan dari berbagai delegasi regional, terutama dari Arab Saudi, Qatar, dan Turki, dipandang sebagai pengakuan lebih lanjut bahwa Iran tidak dapat diisolasi secara diplomatik, meskipun menghadapi konfrontasi geopolitik yang berkepanjangan.

Partisipasi mereka memiliki bobot diplomatik dan politik yang signifikan. Kehadiran tersebut mencerminkan pengakuan terhadap pengaruh regional Iran sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga jalur komunikasi dengan Teheran di tengah meningkatnya ketegangan dan proses transisi kepemimpinan.

Di luar dimensi seremonial, kehadiran para pejabat tinggi juga mengirimkan pesan pragmatisme regional. Pesan itu menunjukkan bahwa, meskipun terdapat persaingan geopolitik dan perbedaan aliansi, Iran tetap menjadi aktor utama dalam membentuk lanskap keamanan dan politik kawasan. Hal ini juga mencerminkan upaya yang lebih luas dari berbagai kekuatan regional untuk menjaga stabilitas, mengelola dinamika yang terus berubah, serta menyesuaikan diri dengan tatanan kawasan yang baru.

Dari Bolivia hingga Brasil

Dari jalan-jalan Teheran hingga kedatangan para pelayat dari berbagai benua, rangkaian upacara pemakaman berubah menjadi gambaran kuat solidaritas global, ketika orang-orang dari berbagai budaya, agama, dan tradisi berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada Sayyid Khamenei.

Dengan mengenakan pakaian tradisional masing-masing dan membawa simbol-simbol komunitas mereka, para peserta beragama Hindu berdiri berdampingan dengan ulama Syiah dari Jerman dan Thailand, menghadirkan gambaran sebuah pertemuan internasional yang beragam namun dipersatukan oleh pesan penghormatan dan dukungan.

Para aktivis dan intelektual dari Spanyol, Ekuador, dan Bolivia datang untuk memberikan penghormatan kepada Pemimpin Syahid Iran, Sayyid Ali Khamenei, karena mereka memandang beliau bukan hanya sebagai pemimpin Iran, tetapi juga sebagai tokoh internasionalis yang pesan serta warisan politiknya bergema melampaui batas-batas negara.

Di antara mereka yang datang ke Teheran adalah Ariadne Telles, seorang aktivis dari Amazonia, Brasil, yang bergabung bersama para pelayat untuk menyatakan solidaritas kepada Iran dan Palestina. Ia menggambarkan Iran sebagai “garis depan dalam perjuangan melawan imperialisme.”

Telles, yang pernah menjadi peserta armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza, mengenang saat dirinya ditahan oleh pasukan pendudukan Israel di perairan internasional ketika berusaha mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ia mengatakan bahwa dirinya dipukuli, disiksa, dan mengalami patah tulang lengan.

Namun, menurutnya, pengalaman tersebut justru semakin menguatkan tekadnya. Ia menyatakan, “Anda tidak bisa membunuh sebuah gagasan,” sembari mengaitkan perjuangannya sendiri dengan perlawanan Iran dan dukungannya terhadap perjuangan Palestina.

Pesan Persatuan Poros Perlawanan

Dalam narasi para sekutu di kawasan, peringatan ini dipandang semakin memperkuat kohesi Poros Perlawanan.

Demonstrasi persatuan di Iran bergema melampaui perbatasannya, memengaruhi gerakan-gerakan Perlawanan di Palestina, Irak, Lebanon, Yaman, dan berbagai wilayah lainnya melalui penegasan kembali kesinambungan ideologis serta identitas politik bersama.

Selama prosesi pemakaman, bendera Iran berdampingan dengan bendera Lebanon, Yaman, Irak, dan Palestina, mengubah prosesi tersebut menjadi lautan identitas dan solidaritas bersama.

Upacara pemakaman juga menegaskan karakter lintas negara dari jaringan sekutu regional Iran, dengan hadirnya para perwakilan senior dari berbagai gerakan dan pemerintahan yang bersekutu dengan Teheran sebagai bentuk solidaritas politik dan ideologis.

Para pejabat senior Hizbullah dan Hamas bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selama rangkaian upacara di Teheran. Dalam pertemuan itu, mereka memberikan penghormatan kepada Sayyid Khamenei, menegaskan kembali komitmen terhadap gerakan Perlawanan, serta membahas kelanjutan koordinasi di tengah agresi AS dan Israel.

Para pemimpin politik Irak serta faksi-faksi Perlawanan Irak juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi sekaligus mengikuti prosesi pemakaman di Najaf dan Karbala, yang semakin menegaskan eratnya hubungan antara Baghdad dan Teheran.

Delegasi dari Yaman dan berbagai gerakan Perlawanan lainnya di kawasan juga turut menghadiri upacara tersebut bersama jutaan pelayat dari seluruh Asia Barat.

Di luar simbolisme duka cita, rangkaian pemakaman ini menyampaikan pesan politik yang kuat kepada kawasan Asia Barat: bahwa meskipun telah bertahun-tahun menghadapi agresi, pembunuhan, sanksi, dan tekanan terus-menerus dari “Israel” dan AS, jaringan kekuatan yang secara kolektif dikenal sebagai Poros Perlawanan tetap menunjukkan persatuan, bukan perpecahan.

Partisipasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari berbagai gerakan sekutu dan delegasi regional dipandang sebagai upaya menunjukkan bahwa gugurnya para tokoh utama tidak akan melemahkan arah strategis aliansi tersebut.

Sebaliknya, kehadiran bersama Hizbullah, Hamas, Jihad Islam Palestina (PIJ), faksi-faksi Perlawanan Irak, dan para perwakilan Yaman dimaksudkan untuk memperkuat narasi bahwa berbagai upaya memecah-belah atau menghancurkan aliansi tersebut gagal mencapai tujuan politiknya.

Dengan demonstrasi yang diharapkan akan berujung pada kohesi strategis jangka panjang, rangkaian upacara ini secara jelas dirancang untuk menyampaikan pesan tentang kesinambungan, tekad kolektif, dan komitmen yang berkelanjutan terhadap agenda regional bersama dalam menghadapi agresi Israel dan AS.

Pernyataan Politik Global di Tengah Tekanan AS

Di tingkat internasional, kehadiran resmi berbagai delegasi dan pejabat dari lebih dari 70 negara menjadi salah satu sorotan utama dalam prosesi pemakaman tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi asing yang berpartisipasi dalam upacara pemakaman. Kementerian tersebut mencatat bahwa banyak delegasi tetap hadir meskipun menghadapi tekanan dan ancaman yang dimaksudkan untuk mencegah mereka ikut serta.

Meskipun AS melancarkan kampanye tekanan diplomatik, lebih dari 70 negara tetap mengirimkan delegasi resmi ke prosesi pemakaman.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dilaporkan memerintahkan seluruh kedutaan besar dan misi diplomatik AS untuk menggunakan segala cara yang tersedia guna mencegah para pejabat menghadiri upacara tersebut, termasuk dengan memperingatkan sejumlah pemimpin Afrika bahwa bantuan AS dapat dikurangi apabila mereka tetap hadir. Rubio juga dilaporkan melakukan pembicaraan dengan sedikitnya lima pemimpin negara Arab mengenai isu tersebut.

Menurut Kantor Berita Tasnim, sebanyak 13 negara—termasuk tiga negara Eropa Timur, lima negara Afrika, dua negara Teluk, dan dua negara Asia Timur—membatalkan partisipasi mereka akibat tekanan dari AS. Afrika Selatan dan Aljazair termasuk di antara negara yang tidak menghadiri prosesi tersebut.

Terlepas dari berbagai upaya yang dilaporkan itu, delegasi tingkat tinggi dari Kuba, Korea Utara, Rusia, Yaman, Turki, Mesir, China, Irak, bahkan Arab Saudi tetap menghadiri rangkaian upacara pemakaman.

Singkatnya, AS berupaya menjauhkan delegasi asing dari prosesi pemakaman dan dilaporkan mengerahkan upaya besar untuk mewujudkannya, sembari memantau secara ketat jalannya upacara dan besarnya jumlah peserta.

Dengan demikian, prosesi pemakaman tersebut bukan hanya menjadi momen berkabung, tetapi juga dipandang sebagai sebuah pawai kemenangan bagi rakyat Iran yang mencerminkan keteguhan dan daya tahan mereka. Prosesi itu menyampaikan pesan bahwa Iran muncul semakin kuat dan kian menegaskan dirinya sebagai salah satu poros yang menarik semakin banyak negara serta orang-orang merdeka dari berbagai penjuru dunia.

Jutaan Orang Menantang Narasi Dominan

Prosesi pemakaman ini juga dipandang sebagai bagian dari pertarungan informasi yang lebih luas.

Selama bertahun-tahun, kerangka pemberitaan media Barat telah menghabiskan triliunan dolar untuk menggambarkan Iran sebagai negara yang tidak stabil atau terpecah-belah, serta menggambarkan Sayyid Khamenei sebagai sosok “radikal” yang memerintah berdasarkan otoritas keagamaan. Namun, besarnya persatuan masyarakat yang terlihat secara nyata dipandang sebagai gambaran tandingan yang menantang narasi tersebut.

Media digital, para pengamat internasional, dan suara diaspora semakin membantah narasi Barat, karena bukti visual langsung dari prosesi pemakaman terus melemahkan narasi-narasi yang selama ini dibangun dari luar.

Salah satu tujuan yang berulang kali dinyatakan oleh Presiden Donald Trump adalah “perubahan rezim” di Iran. Namun, bagaimana mungkin keyakinan jutaan rakyat Iran dapat diubah, belum lagi jutaan pendukung di luar Iran yang memandang kepemimpinan negara itu sebagai simbol perlawanan?

Selama bertahun-tahun, sebagian besar media Barat memperkuat narasi yang menggambarkan Iran sebagai negara yang terisolasi secara politik dan tidak memiliki dukungan rakyat.

Baik kehadiran berbagai delegasi maupun jutaan rakyat Iran terlihat jelas dalam gambar dan video yang beredar luas di internet. Namun, ketika media Barat memberitakan prosesi pemakaman tersebut, mereka tampak sengaja menghindari penggunaan kata “jutaan” dan memilih menggunakan istilah “kerumunan”.

Jutaan orang yang berkumpul untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Sayyid Khamenei memberikan pukulan besar terhadap narasi tersebut.

Mengukir Sejarah Modern

Dari balita yang digendong orang tua mereka hingga para lansia yang tetap datang meski usia dan kelelahan membatasi mereka, kerumunan itu mencerminkan seluruh generasi masyarakat Iran.

Perempuan yang mengenakan cadar hitam berdiri berdampingan dengan perempuan yang tidak mengenakan busana keagamaan tradisional. Para ulama hadir bersama mahasiswa, para pekerja berdampingan dengan kalangan profesional, membentuk gambaran yang melampaui batas-batas sosial, politik, maupun ekonomi.

Rekaman yang disiarkan televisi pemerintah Iran memperlihatkan seorang perempuan penyandang disabilitas berada di antara jutaan pelayat di Teheran yang mengikuti rangkaian prosesi pemakaman Sayyid Khamenei.

Rekaman lainnya memperlihatkan seorang anak perempuan berkebutuhan khusus yang menyampaikan bahwa dirinya ingin turut memberikan penghormatan kepada pemimpin yang syahid.

Sebagian pelayat membawa peti jenazah simbolis dan foto Sayyid Khamenei sebagai ungkapan tuntutan pembalasan sekaligus kesiapan mereka mengorbankan nyawa di jalan keadilan, sebagaimana pemimpin mereka yang telah gugur syahid.

Prosesi tersebut juga melampaui perbatasan Iran dengan hadirnya para pengunjung dari negara-negara tetangga, serta para pendukung dari berbagai wilayah Asia, bahkan hingga Filipina, yang menempuh perjalanan jauh demi mengikuti penghormatan terakhir kepada seorang pemimpin yang pengaruhnya jauh melampaui Iran dan Asia Barat.

Iran yang Tak Terpatahkan

Pembunuhan brutal terhadap pemimpin Iran justru menghasilkan dampak yang berlawanan dengan apa yang diinginkan “Israel” dan AS.

Alih-alih melemahkan Republik Islam, darah pemimpin yang syahid justru memperkuat solidaritas masyarakat dan memperkokoh komitmen banyak warga Iran untuk mempertahankan kedaulatan negara serta cita-cita Revolusi Islam 1979.

Dalam narasi ini, tekanan militer dari luar dan puluhan tahun sanksi tidak menghancurkan sistem politik Iran, melainkan justru memperdalam tekad mereka yang mengidentifikasi diri dengan sistem tersebut.

Pengaruh Sayyid Khamenei melampaui batas-batas Iran sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat, Zionisme, dan campur tangan asing.

Warisan beliau akan terus hidup melalui mereka yang tetap menjadikan pidato-pidato dan pemikiran politiknya sebagai inspirasi, termasuk jutaan orang di seluruh dunia yang tidak dapat menghadiri pemakaman tetapi memandang diri mereka berada di pihak yang menentang ketidakadilan dan mendukung tatanan internasional yang lebih multipolar.

Ketika “Penyelamatan” Berarti Perang

Mantan pejabat Pentagon, Michael Maloof, mengatakan bahwa besarnya jumlah peserta dalam prosesi pemakaman membantah klaim Trump yang menyatakan banyak rakyat Iran menentang pemimpinnya.

Menurut Maloof, skala partisipasi masyarakat justru mencerminkan kohesi nasional, bukan keruntuhan politik.

Pernyataan Maloof muncul di tengah kembali menghangatnya perdebatan mengenai klaim Washington tentang Iran, terutama setelah pernyataan Trump pada Januari 2026 di Truth Social ketika terjadi aksi protes akibat tekanan ekonomi yang dikaitkan dengan sanksi AS.

Saat itu Trump menyatakan dirinya telah “locked and loaded” dan mengatakan Washington akan “datang menyelamatkan mereka”, merujuk kepada para perusuh.

Makna dari janji tersebut kemudian diperdebatkan secara tajam setelah pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026, ketika agresi gabungan dilancarkan terhadap Iran.

Agresi tersebut mencakup serangan terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab yang menewaskan lebih dari 186 anak serta puluhan guru, sehingga memunculkan tuduhan bahwa versi “penyelamatan” menurut Washington justru berarti pembunuhan terhadap warga sipil.

Kejahatan perang tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa kebijakan AS lebih didorong oleh kepentingan strategis, termasuk mempertahankan keunggulan militer Israel di kawasan serta kepentingan geopolitik yang lebih luas, daripada kepedulian terhadap rakyat Iran.

Slogan yang muncul setelah pernyataan Trump mengenai “penyelamatan” kemudian berubah menjadi pesan politik yang mencerminkan realitas janji-janji “pembebasan” AS.

Bagi rakyat Iran, gagasan tentang “penyelamatan” justru dipandang sebagai upaya untuk memajukan kepentingan strategis AS di Asia Barat, termasuk pengaruh terhadap sumber daya kawasan, keamanan energi, dan dukungan tanpa syarat kepada “Israel”.

Siapa Sebenarnya yang Dibenci Dunia?

Dalam sebuah acara di South Dakota untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan AS, Trump mengaku terkejut melihat tayangan warga Iran yang menangis.

“Saya terkejut melihat rakyat Iran menangis,” kata Trump. “Karena saya pikir orang-orang membenci Khamenei.”

Trump juga mengatakan, “Kami memberi mereka waktu istirahat selama seminggu untuk pemakaman itu, karena kami adalah orang-orang yang baik.”

Menanggapi pernyataan tersebut, Michael Maloof mengatakan bahwa pandangan Presiden AS itu dibentuk oleh informasi yang terbatas.

“Lihat, Donald Trump memang mungkin terkejut karena dia hanya menerima satu sisi informasi,” ujar Maloof. “Dia terus-menerus mendengar dari Netanyahu bahwa jika Iran diserang, kepemimpinannya akan runtuh, pemerintahan baru akan terbentuk, dan rakyat akan bangkit.”

Dalam wawancaranya dengan Al Mayadeen pada Sabtu, Maloof mengatakan bahwa rekaman prosesi pemakaman membantah ekspektasi tersebut.

“Jelas sekali, video-video itu berbicara dengan sendirinya,” katanya. “Dia bisa melihatnya sendiri di televisi jika memang diperlihatkan.”

Ia menambahkan, “Semua ini tidak ditayangkan di televisi Barat. Sekali lagi, dia hanya menerima informasi yang diberikan komunitas intelijen karena dia tidak membaca dan tidak memperoleh rekaman seperti ini.”

Maloof juga menyoroti partisipasi internasional dalam prosesi pemakaman.

“Yang luar biasa adalah, jika dia mau mendengarkan orang lain, lebih dari 100 negara terwakili dalam pemakaman tersebut,” katanya. “Jumlah orang yang hadir lebih banyak dibandingkan pemakaman mana pun di Barat, khususnya di Amerika Serikat. Ini benar-benar luar biasa.”

Menurut Maloof, prosesi pemakaman itu menunjukkan bahwa “Iran tidak terisolasi”, memiliki “persahabatan yang sangat kuat dengan banyak negara”, kini menjadi “kekuatan yang dihormati di Timur Tengah”, dan “pada kenyataannya telah mengalahkan AS dalam konfrontasi ini.”

Sebuah Kemenangan Total di Tengah Duka yang Mendalam

Singkatnya, prosesi pemakaman jutaan orang bagi Pemimpin Syahid, Sayyid Khamenei, telah membuka ruang baru untuk meninjau kembali lanskap politik Iran ketika rakyat Iran mengejutkan dunia melalui prosesi pemakaman berjuta-juta orang yang tidak berlebihan jika disebut sebagai “pemakaman abad ini.”

“Rakyat Iran telah mengejutkan dunia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ini adalah pemakaman abad ini,” kata seorang analis kepada Al Mayadeen.

Para analis menilai besarnya skala peristiwa tersebut memaksa dunia membaca ulang kondisi politik internal Iran, dengan berbagai indikator yang menunjukkan bahwa negara itu keluar dari perang-perang yang baru saja dilaluinya dalam posisi menang secara diplomatik maupun simbolis.

Dalam penafsiran tersebut, mobilisasi massa dipandang bukan sekadar peristiwa berkabung atau mengenang, melainkan sebagai pernyataan politik mengenai kesinambungan, ketangguhan, dan kemenangan total.

Apakah Skema terhadap Iran Berbalik Arah?

Mereka yang menargetkan pemimpin Iran dengan keyakinan bahwa pembunuhannya akan meruntuhkan negara Iran dan menghancurkan Revolusi, justru menyaksikan Iran menampilkan citra persatuan, sementara negara-negara mereka sendiri dilanda perpecahan politik, krisis internal, dan ketidakpastian yang semakin besar.

Sementara itu, ketika bendera Iran dikibarkan di berbagai kawasan dari Timur hingga Barat, bendera AS dan Israel justru dibakar dalam berbagai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS di sejumlah tempat di dunia, bahkan dalam beberapa kasus terjadi di wilayah AS sendiri.

Apakah ini merupakan satu lagi paku terakhir bagi agenda Trump di Asia Barat serta politik dominasi, imperialisme AS, dan Zionisme? (*)

Penulis: Rasha Reslan
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA