BERITAALTERNATIF.COM – Lautan manusia, yang diperkirakan berjumlah lebih dari 2,3 juta orang, membanjiri Kota Suci Najaf pada Rabu (8/7/2026) ketika Irak menggelar prosesi pemakaman monumental bagi Pemimpin Syahid Iran, Sayyid Ali Khamenei, setelah beliau gugur akibat agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Prosesi tersebut, yang oleh para pejabat disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern kawasan, mengubah jalan-jalan di kota suci itu menjadi lautan duka, perlawanan, dan solidaritas politik.
Kendaraan yang membawa peti jenazah Sayyid Khamenei bergerak perlahan menembus lautan pelayat menuju Makam Imam Ali as di Najaf, Irak.
Setelah prosesi di kota-kota Najaf dan Karbala, jenazah Pemimpin Syahid akan kembali ke Iran untuk dimakamkan.
Jenazah almarhum tiba di Najaf pada Selasa malam melalui penerbangan yang turut didampingi Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Setibanya di bandara, peti jenazah disambut Perdana Menteri Irak Ali al-Zaydi bersama sejumlah tokoh politik, diplomat, dan pejabat Irak maupun tamu asing.
Dalam pemindahan yang berlangsung khidmat sepanjang malam, peti jenazah kemudian dibawa ke Makam Imam Ali as, situs paling suci di Najaf, tempat rangkaian upacara resmi maupun penghormatan masyarakat dimulai sejak fajar.
Hingga Rabu siang, Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak (PMF) mengonfirmasi bahwa jumlah peserta telah melampaui 2,3 juta orang, sementara arus pelayat dari berbagai wilayah Irak terus berdatangan.
Para saksi mata menggambarkan suasana yang sangat padat namun tetap tertib. Para pelayat yang mengenakan pakaian hitam memukul dada sebagai simbol duka dan melantunkan ratapan, sementara kendaraan khusus yang membawa peti jenazah bergerak perlahan melewati koridor manusia yang sangat padat menuju jalur utama prosesi pemakaman.
Bagi banyak orang, perjalanan menuju Najaf merupakan bentuk keyakinan dan pengabdian yang mendalam.
Mohammed al-Bayati, yang datang dari Provinsi Diyala di Irak timur, mengatakan kepada AFP: “Ini adalah kesempatan yang tak tergantikan untuk mengucapkan salam perpisahan kepada seorang tokoh luar biasa yang berhasil mematahkan kekuatan Amerika dan entitas pendudukan Israel.”
Ia menambahkan: “Kehadiran jutaan orang hari ini mengirimkan pesan perlawanan yang jelas kepada Washington dan Tel Aviv. Mereka mengira pembunuhan terhadap beliau akan mengakhiri Iran, tetapi kenyataannya hari ini membuktikan bahwa Iran lebih kuat dan lebih tangguh dari sebelumnya.”
Sejak dini hari, warga Irak dan para peziarah telah memenuhi jalan-jalan di Najaf untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Syahid Sayyid Khamenei.
Haider Jaafar, yang menempuh perjalanan panjang dari Provinsi Basra, menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, bahkan warga Irak yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Iran tetap hadir dalam jumlah besar.
“Kesyahidan Sayyid Khamenei akibat pengkhianatan bersama Amerika dan Israel telah mempersatukan semua orang,” katanya.
“Kini kami memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa Iran merupakan kedalaman strategis kami. Jika kedalaman strategis itu hilang, maka itu berarti kemenangan bagi pendudukan Israel atas seluruh kawasan,” sambungnya.
Menurut Kantor Berita Resmi Irak (INA), aparat keamanan dan panitia penyelenggara bekerja secara cermat mengatur jutaan peserta agar prosesi bersejarah tersebut berlangsung dengan tertib dan penuh penghormatan, meskipun kepadatan massa mencapai tingkat yang luar biasa.
Sejumlah analis politik yang berbicara kepada Al Mayadeen menilai besarnya jumlah pelayat merupakan bukti nyata hubungan historis yang mendalam antara Republik Islam Iran dan Irak.
“Hari ini rakyat Irak sedang menunaikan kewajiban agama dan moral mereka dengan menghormati janji setia kepada pemimpin syahid tersebut,” ujar salah seorang analis, seraya menyinggung berbagai sikap bersejarah Sayyid Khamenei serta perannya bagi dunia Islam.
Upacara di Najaf menjadi pemberhentian pertama dari rangkaian penghormatan di Irak. Prosesi selanjutnya dijadwalkan berlangsung pada Rabu di Makam Imam Husain as di Kota Suci Karbala.
Pemakaman terakhir dijadwalkan berlangsung pada Kamis di kota kelahiran beliau, Mashhad, di Iran timur laut. Sayyid Khamenei akan dimakamkan di samping Makam Imam Ali al-Ridha as.
Anggota keluarga Sayyid Khamenei, yang turut gugur syahid, juga mendapat penghormatan di Makam Imam Husain as di Karbala pada hari keenam rangkaian prosesi pemakaman akbar tersebut.
Peti jenazah yang membawa jasad Pemimpin Syahid dijadwalkan bergerak menuju Karbala sebelum akhirnya dibawa kembali ke Iran untuk dimakamkan.
Rangkaian penghormatan di Irak ini menyusul dua hari prosesi pemakaman bersejarah di Teheran dan Qom, yang oleh Financial Times disebut sebagai salah satu pertemuan massa terbesar dalam sejarah modern dunia.
Menurut para pengamat, besarnya gelombang pelayat tersebut mencerminkan dampak politik dan emosional yang sangat besar setelah terbunuhnya Sayyid Khamenei, sebuah peristiwa yang dinilai telah mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah. (*)
Sumber: Al Mayadeen












