BERITAALTERNATIF.COM – Ketika Sayyid Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi pada tahun 1989, penunjukan tersebut—betapapun tepat dan layaknya—tidak beliau sambut dengan kegembiraan, kepuasan, ataupun kebanggaan, melainkan dengan air mata dan penolakannya sendiri. Secara mengejutkan, beliau meminta agar penunjukannya dibatalkan, seraya bersikeras bahwa dirinya “tidak memenuhi syarat” untuk memimpin Republik Islam beserta revolusi yang masih hidup itu.
Namun, pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang lebih layak mengemban posisi tersebut selain Sayyid Khamenei. Reaksinya itu justru mencerminkan ketimpangan antara kerendahan hatinya dan bobot kepemimpinan politik yang dimilikinya.
Beliau merupakan perwujudan hidup dari “Syiah Merah” (Red Shiism) sebagaimana dikemukakan oleh Ali Shariati bertahun-tahun sebelumnya, yakni seorang pemimpin yang menolak menjadikan agama sekadar kumpulan ritual kosong, melainkan memandangnya sebagai kekuatan penggerak untuk menegakkan keadilan di dunia ini.
Barangkali Pemimpin Iran itu memiliki kerendahan hati yang berlebihan karena merasa dirinya belum cukup memenuhi syarat. Saat itu beliau bergelar Hujjatul Islam dan belum mencapai kedudukan resmi sebagai Marja’ Taqlid. Namun, berbagai karya yang beliau hasilkan melalui tindakan nyata, melalui kisah perjuangan revolusioner yang terorganisasi dan penuh komitmen, jauh melampaui sekadar pengetahuan keagamaan. Bukti terbesar efektivitas kepemimpinannya terlihat dari keberhasilannya menjaga Revolusi Islam dan Republik Islam tetap bertahan, mengawasi konsolidasi dan pembangunan Poros Perlawanan, mengangkat Iran bukan hanya menjadi kekuatan regional tetapi juga kekuatan dunia melalui keteguhannya pada prinsip-prinsip anti-imperialisme, serta mendorong kemajuan luar biasa di sektor ilmu pengetahuan dan industri nasional Iran.
Di bawah kepemimpinan Sayyid Khamenei, doktrin perlawanan dan pertahanan Islam memperoleh makna baru, sementara Iran membangun sistem rudal berlapis yang unik, termasuk rudal-rudal balistik yang diproduksi sendiri di dalam negeri.
Upaya Sayyid Khamenei dalam melembagakan Republik Islam, memperkuat dan memperluas IRGC serta Basij, di samping membangun berbagai lembaga sosial dan amal di tingkat nasional maupun regional, membantu mendelegasikan serta mendistribusikan tanggung jawab dan proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, Republik Islam tidak bergantung pada satu pemimpin semata, melainkan semakin mencerminkan hasil kerja kolektif masyarakatnya.
Perhatian Sayyid Khamenei terhadap penetapan peran masing-masing lembaga dan pengembangan institusi Republik Islam sebenarnya telah tampak sejak masa awal kebangkitan Imam Khomeini. Dalam memoarnya, Sayyid Khamenei menulis bahwa para aktivis Islam, termasuk Imam Khomeini sendiri, yang saat itu sibuk mengeluarkan pernyataan-pernyataan dan memimpin revolusi, belum membangun organisasi maupun institusi Islam secara sistematis.
Sejalan sepenuhnya dengan pendahulunya, Ayatullah Khomeini, Sayyid Khamenei menjadikan Islam sebagai kekuatan revolusioner berskala global, sekaligus mematahkan dikotomi palsu yang menempatkan agama sebagai sesuatu yang bertentangan dengan modernitas. Dengan menghancurkan dikotomi tersebut, mereka mendorong Islam—dan dengan sendirinya Republik Islam—maju dalam bidang pertahanan, agama, ilmu pengetahuan, dan kehidupan masyarakat.
Biografi
Sayyid Khamenei lahir pada 16 Juli 1939 (28 Safar 1358 H) di kota suci Mashhad, Iran.
Nama kota tempat kelahirannya memiliki makna yang berkaitan dengan kesyahidan, karena di kota itulah Imam kedelapan, Ali bin Musa al-Ridha, gugur syahid akibat diracun.
Beliau lahir—sebagaimana beliau juga gugur syahid kelak—dalam keluarga sederhana yang tinggal di rumah kecil namun penuh kehangatan. Ayahnya adalah Sayyid Javad Khamenei, yang berasal dari keluarga ulama di Tabriz, sedangkan ibunya adalah Khadijeh Mirdamadi. Sang ibu dikenang oleh pemimpin yang gugur syahid itu sebagai sosok yang memikat anak-anaknya melalui lantunan Al-Qur’an dengan “alunan ayat-ayat yang indah”, serta menanamkan kecintaan dan pengetahuan mendalam tentang para nabi, khususnya Nabi Musa dan Nabi Ibrahim.
Beliau dikenal hidup zuhud. Rumahnya kecil dan sederhana, hanya berisi perabotan yang benar-benar diperlukan. Bahkan beberapa laporan menyebutkan beliau tidak memiliki lemari es dan berjalan menggunakan sepatu yang telah robek.
Ibunya juga berasal dari keluarga ulama sebagai putri Ayatullah Najafabandi Mirdamadi. Dari sang ibu, anak-anaknya mewarisi kecintaan yang mendalam kepada Al-Qur’an beserta bahasa Arabnya, juga terhadap syair-syair Hafez.
Mewarisi kecintaan kedua orang tuanya terhadap ilmu dan agama—bahkan telah menghafal Al-Qur’an sejak usia empat tahun—mendorong beliau mengabdikan penguasaan ilmu-ilmu Islam untuk diterapkan dalam kehidupan nyata.
Kesadaran sosial dan kesadaran kelas yang dimiliki Khamenei muda, yang dipahami melalui perspektif ilmu agamanya, semakin menguat berkat pengalaman hidup dalam kemiskinan serta ketidakadilan yang dialami rakyat Iran di bawah tekanan SAVAK, aparat keamanan rezim Syah yang dilatih oleh Israel.
Agama sebagai Wadah Revolusioner untuk Menegakkan Keadilan
Ayatullah Khomeini merupakan sahabat ayah Sayyid Khamenei. Ketika masih muda, Khamenei menghadiri ceramah-ceramah beliau di Qom, tempat ia melanjutkan pendidikan agamanya setelah beberapa tahun belajar di Najaf.
Kesadaran dan orientasi Khamenei muda terhadap Islam revolusioner tumbuh seiring dengan kemunculan gerakan revolusioner Imam Khomeini setelah peluncuran reformasi “Revolusi Putih” oleh Syah pada tahun 1963.
Penentangan Imam Khomeini terhadap kebijakan tersebut mencerminkan penolakannya terhadap upaya menempatkan sistem kelembagaan Iran di bawah kendali operasional Amerika Serikat. Dengan kata lain, reformasi itu bertujuan merombak sistem intelijen, militer, sosial, dan ekonomi Iran agar berada di bawah pengaruh Washington.
Di tengah meningkatnya ketidakpuasan sosial di Iran—yang semakin memburuk lima tahun setelah kudeta yang didukung CIA menggulingkan mantan Presiden Mohammad Mossadegh karena berupaya menasionalisasi minyak Iran—AS memandang reformasi Revolusi Putih tahun 1963 sebagai sarana untuk mengubah Iran dari masyarakat feodal yang sebelumnya berada di bawah dominasi Inggris menjadi sebuah proyek kapitalisme yang dikelola AS.
Dalam tatanan seperti itu, peran Islam sebagai kekuatan yang membimbing masyarakat Iran terancam. Alih-alih dipimpin oleh Wilayat al-Faqih sebagaimana dibayangkan Ayatullah Khomeini, Iran akan menjadi salah satu dari banyak negara yang menjadikan AS imperialis sebagai wali yang mengendalikan arah kehidupannya.
Sementara Syah berupaya memperkuat monopoli kekerasan dan kekuasaannya atas rakyat dengan “nafsu yang tak pernah terpuaskan untuk memperoleh lebih banyak dan lebih banyak lagi perlengkapan militer yang lebih baru”, AS justru ingin membangun jalur “pembangunan ekonomi dan reformasi sebagai benteng untuk mencegah gejolak internal atau revolusi”, sebagaimana tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah Departemen Luar Negeri AS.
Menolak penghinaan terhadap bangsanya—yang terus berayun antara menindas rakyat dengan kekerasan brutal atau menggiring mereka ke dalam kendali imperialisme melalui taktik perang lunak (soft war)—momen inilah yang semakin meneguhkan tekad Sayyid Khamenei untuk bergabung dalam perjuangan Revolusi Islam yang dipimpin Ayatullah Khomeini.
Jelas bahwa kesadaran tersebut membuat Sayyid Khamenei sepanjang hidupnya memiliki sikap waspada dan tidak mempercayai infiltrasi kelembagaan AS dan Barat ke Iran melalui pertukaran yang tidak seimbang, kesepakatan sepihak, ataupun kebijakan perdagangan yang menyerupai “Kuda Troya”, yang pada akhirnya hanya akan menjerumuskan Iran ke dalam ketergantungan yang rapuh, atau bahkan membawa ancaman biologis yang berbahaya. Pelajaran ini dipetik dari pengalaman ekspor produk darah yang terkontaminasi HIV dari Prancis ke Iran, serta ke sejumlah negara Selatan Global lainnya seperti Irak, Libya, dan Argentina pada 1984–1985.
Atas dasar itulah Pemimpin Tertinggi melarang penggunaan vaksin Covid-19 yang berasal dari AS, Inggris, dan Prancis pada periode 2020–2021.
“Saya benar-benar tidak mempercayai mereka [AS dan Inggris]. Bisa saja mereka ingin menguji [vaksin] itu pada bangsa-bangsa lain untuk melihat apakah vaksin tersebut berhasil atau tidak… Saya juga tidak mempercayai Prancis. Alasannya adalah karena mereka memiliki sejarah memberikan produk darah yang terkontaminasi kepada kami. Tentu saja, apabila para pejabat ingin memperoleh vaksin dari tempat lain—dari tempat yang aman—maka hal itu tidak menjadi masalah,” ujar Sayyid Khamenei saat itu.
Peradaban Islam Baru
Sejalan dengan visi Ayatullah Khomeini mengenai terbentuknya sebuah “kutub” Islam internasional—yakni konsolidasi pengambilan keputusan dan kekuatan yang merdeka serta berdaulat dalam menghadapi Zionisme dan imperialisme Barat—Ayatullah Khamenei terus mengejar tujuan tersebut melalui jalur diplomasi maupun ideologi.
Pemikiran keagamaan Sayyid Khamenei memanfaatkan konsep-konsep Islam dan berbagai ketentuan syariat untuk diarahkan kepada perjuangan melawan imperialisme dan kesombongan global. Sebagai contoh, konsep al-infaq berarti “membelanjakan harta di jalan kebaikan”. Dalam mazhab pemikiran Imam Khamenei, konsep tersebut diperdalam sehingga nilai sebuah infak diukur dari sejauh mana harta yang disumbangkan benar-benar mampu memberdayakan masyarakat dan mendorong mereka terbebas dari ketergantungan terhadap struktur ekonomi imperialis.
Sayyid Khamenei juga menetapkan bahwa bantuan dana yang dikirimkan ke Gaza dapat dihitung sebagai pembayaran khumus. Beliau melanjutkan langkah bersejarah Imam Khomeini pada tahun 1967 dalam melembagakan boikot anti-Zionis melalui institusi keagamaan, dengan menetapkan dan mendorong boikot terhadap produk-produk yang berasal dari atau menuju entitas Zionis.
Menurut visi Sayyid Khamenei mengenai kebangkitan masyarakat yang bersifat kenabian, Islam adalah agama yang terlebih dahulu mereformasi individu, sementara revolusi (inqalab) dalam diri seseorang harus diabdikan bagi transformasi sosial dan perubahan masyarakat secara keseluruhan.
Gelombang penindasan rezim Syah pada tahun 1963 dan represi SAVAK mendorong Sayyid Khamenei—yang merupakan bagian dari kelompok inti para revolusioner—untuk sementara meredam aktivitasnya setelah penangkapan pertamanya pada tahun 1963. Namun, beliau kembali lebih aktif setelah merasa kecewa melihat semakin banyak ulama yang memilih mengabaikan persoalan-persoalan sosial.
Setelah kembali ke Mashhad pada akhir dekade 1960-an, Sayyid Khamenei mulai menyampaikan lebih banyak ceramah yang berfokus pada penafsiran kembali persoalan-persoalan sosial modern serta menyerukan perjuangan melawan penindasan melalui perspektif Islam.
Sebagaimana terlihat dalam ceramah-ceramahnya pada dekade 1970-an, beliau berupaya menghancurkan struktur kesombongan yang melahirkan perpecahan kelas, penindasan, dan eksploitasi. Dengan demikian, beliau mendefinisikan ulang sekaligus merevolusi konsep perjuangan modern melawan penindasan dan penindasan kelas sebagai perjuangan yang pada dasarnya berlandaskan etika dan spiritualitas, bukan semata-mata persoalan material.
Dalam beberapa tahun terakhir, beliau membangun sebuah visi yang menyeluruh yang dikenal sebagai “Peradaban Islam Baru”, yang ditandai dengan kemandirian politik dari kekuatan-kekuatan Barat, menggantikannya dengan saling ketergantungan regional serta perlawanan terhadap dominasi militer AS di negeri-negeri Muslim dan Arab.
Sambil menanamkan visi tersebut melalui Poros Perlawanan, ketahanan Iran, nasionalisasinya atas Selat Hormuz, serta kemenangan yang diraihnya meskipun menghadapi ketimpangan kekuatan material melawan AS dan Israel dalam perang yang dipaksakan pada tahun 2025 dan 2026, membuktikan bahwa visi tersebut dapat diwujudkan di seluruh dunia Islam dan Arab.
Pada akhirnya, dalam upayanya mempersatukan dunia Islam, Sayyid Khamenei berusaha menghapus sektarianisme, terutama ketika perpecahan mazhab secara nyata memecah belah umat Islam, melemahkan kesadaran Islam, dan mengubah sebagian besar umat Islam serta mayoritas negara-negara Muslim menjadi alat bagi kepentingan kaum imperialis.
Melanjutkan pernyataan terkenal Imam Khomeini bahwa ketika umat Islam sibuk memperdebatkan apakah tangan harus dilipat atau dibiarkan di samping tubuh saat salat, “musuh sedang bersiap memotong tangan mereka”, Sayyid Khamenei, dalam semangat yang sama, mengeluarkan fatwa pada tahun 2010 yang melarang penghinaan terhadap tokoh-tokoh yang dihormati kalangan Sunni, para sahabat Nabi, maupun Aisyah, istri Rasulullah Saw.
Menghadapi Tantangan Kebijakan Luar Negeri dan Dalam Negeri
Menghadapi sanksi-sanksi yang menghukum Iran, Sayyid Khamenei semakin memusatkan perhatian pada perluasan, penguatan, pendelegasian, dan spesialisasi berbagai institusi di bawah payung Revolusi Islam Iran untuk memperkuat ekonomi perlawanan. Langkah tersebut membantu Iran melepaskan diri dari ketergantungan, menjadikannya pusat produksi dan ekspor yang berpengaruh di berbagai kawasan, sekaligus menyediakan penopang yang dibangun dari kemampuan dalam negeri untuk menghadapi sanksi.
Beliau juga menghadapi berbagai tantangan regional yang muncul sebagai dampak dari keberhasilan perjuangan pembebasan di Lebanon dan Palestina. Seluruh tantangan tersebut berhasil dihadapi, bahkan semakin memperkuat gerakan perlawanan. Bersama para syuhada seperti Sayyid Hassan Nasrallah, yang menjadi Sekretaris Jenderal Hizbullah pada 1992, serta almarhum Komandan IRGC Qassem Soleimani, dibangunlah sebuah visi perlawanan di tingkat regional yang melahirkan berbagai institusi, program, serta mekanisme koordinasi dan strategi yang saling terhubung.
Dengan tetap berpegang pada doktrin pertahanan yang menjadikan etika sebagai landasan utama, strategi pertahanan Sayyid Khamenei tidak berfokus pada ancaman penghancuran sebesar-besarnya, juga bukan pada upaya meniru persenjataan Barat yang mahal dan berorientasi pada kemewahan. Sebaliknya, strategi tersebut berorientasi pada memaksimalkan daya tahan, mengidentifikasi serta menyasar titik-titik lemah strategi pertahanan musuh, serta membangun kekuatan bukan melalui besarnya jumlah pasukan, melainkan melalui keyakinan dan keimanan yang tidak dapat dipatahkan.
Kepemimpinan Sayyid Khamenei yang berpegang teguh pada prinsip merupakan salah satu alasan terbesar mengapa beliau memperoleh dukungan luas di berbagai belahan dunia, termasuk di kalangan Syiah di kawasan. Tanpa pernah secara sengaja mengupayakannya, beliau akhirnya memikul peran bukan hanya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran atau seorang marja’ bagi umat Islam Syiah, tetapi juga sebagai pemimpin perjuangan melawan kesombongan global.
Bertahun-tahun propaganda yang disebarkan oleh negara-negara Barat melalui berbagai pihak yang menjadi kepanjangan tangan mereka untuk mendemonisasi Sayyid Khamenei runtuh ketika banyak orang menyaksikan hakikat sebenarnya dari sosok yang barangkali merupakan satu-satunya pemimpin negara yang bersedia mengambil tindakan nyata menentang AS dan Israel selama genosida di Gaza berlangsung.
Para pemimpin dan politisi yang menjunjung kedaulatan di berbagai penjuru dunia bukan hanya mengaguminya, tetapi juga memandang Sayyid Khamenei sebagai sumber dukungan, bimbingan, dan persahabatan. Mereka menghormati keteguhannya terhadap prinsip-prinsip, ketulusannya, kerendahan hatinya, serta kejujurannya.
Nelson Mandela pernah dengan penuh hormat menyebut Sayyid Khamenei sebagai “Pemimpin Saya” ketika bertemu dengannya pada tahun 1992. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas seluruh dukungan yang diberikan Republik Islam Iran kepada gerakan pembebasan Afrika Selatan, setelah Iran memutuskan hubungan dengan rezim apartheid Afrika Selatan.
Mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro, juga memuji Revolusi Islam ketika bertemu dengan Sayyid Khamenei. Ia mengakui bahwa revolusi tersebut telah “menghancurkan polisi regional terkuat bukan dengan senjata, melainkan dengan pemikiran Anda.”
Presiden Rusia, Vladimir Putin, dilaporkan pernah mengatakan kepada staf Kedutaan Besar Iran di Moskow setelah pertemuannya dengan Sayyid Khamenei pada tahun 2007 bahwa ia melihat sosok Nabi Isa pada diri Sayyid Khamenei, dan pertemuan itu terasa seolah-olah dirinya sedang bertemu dengan Kristus sendiri.
Di berbagai penjuru dunia, Sayyid Khamenei memperoleh kecintaan dan pengikut karena dukungannya kepada kaum tertindas tanpa memandang kebangsaan maupun mazhab. Mulai dari Bosnia hingga Palestina, dari Venezuela hingga Nigeria, dukungan Iran setelah wafatnya Imam Khomeini pada tahun 1989 meluas jauh melampaui kawasan Asia Barat.
Sayyid Khamenei, yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk perjuangan dan pembelaan terhadap kaum tertindas, sesungguhnya telah menetapkan jalan hidupnya sejak tahun 1963. Saat penangkapan pertamanya, beliau berkata kepada para petugas rezim Syah:
“Hal paling jauh yang dapat kalian lakukan hanyalah mengeksekusi saya… Lakukanlah apa pun yang kalian inginkan. Saya telah mempersiapkan diri. Setiap kali saya melangkah keluar dari rumah, saya telah siap menghadapi kematian. Karena itu, saya menyarankan kalian untuk tidak membuang-buang tenaga.”
Namun Allah memiliki ketetapan lain baginya. Allah menganugerahkan kepadanya usia yang panjang, sehingga beliau memiliki kesempatan membangun dan memperkokoh front perlawanan global melawan kesombongan. Allah juga mengaruniakan kepadanya sebagaimana doa Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad: “Panjangkanlah usiaku, ya Allah… selama usia itu diabdikan untuk berkhidmat kepada-Mu.” (*)
Penulis: Julia Kassem
Sumber: Al Mayadeen












