BERITAALTERNATIF.COM – Diperkirakan antara 12 hingga 15 juta orang mengikuti prosesi pemakaman Sayyid Ali Khamenei di Teheran. Menurut Financial Times, prosesi tersebut merupakan salah satu pemakaman terbesar dalam sejarah modern, sebuah peristiwa dengan skala yang sangat jarang disaksikan pada masa kontemporer.
Dari Teheran, koresponden Al Mayadeen melaporkan suasana duka massal yang berpadu dengan semangat perlawanan. Massa meneriakkan seruan untuk melakukan pembalasan “dengan tekad yang teguh” serta mengibarkan bendera-bendera merah yang melambangkan tuntutan pembalasan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan Sayyid Khamenei. Menurutnya, suasana dipenuhi bukan hanya oleh kesedihan, tetapi juga oleh tekad yang tetap kuat.
Para pelayat memenuhi jalan-jalan sambil berulang kali mengumandangkan “Allahu Akbar”, sebuah slogan yang selama ini ditekankan oleh Sayyid Ali Khamenei sebagai “senjata paling kuat dalam menghadapi musuh.” Takbir itu menggema di seluruh ibu kota sebagai ungkapan perpisahan sekaligus penegasan bahwa perjuangan akan terus berlanjut.
Koresponden tersebut menambahkan bahwa prosesi bersejarah itu dihadiri warga Iran dari berbagai generasi dan latar belakang sosial, sehingga ibu kota berubah menjadi lautan manusia yang bersatu dalam duka. Peristiwa itu menjadi momen emosional kolektif yang melampaui batas usia maupun kelas sosial.
Sementara itu, The Guardian melaporkan bahwa jutaan orang berkumpul di Teheran untuk menghadiri pemakaman Sayyid Khamenei. Surat kabar tersebut menilai besarnya jumlah peserta mencerminkan sebuah momen nasional yang luar biasa.
The Guardian juga menyatakan bahwa besarnya partisipasi masyarakat—terlepas dari persoalan penyelenggaraan acara—merepresentasikan “perubahan yang mencolok di sebuah negara yang hanya beberapa bulan lalu mengalami gelombang protes.”
Menurut laporan itu, pemandangan tersebut menunjukkan perubahan suasana di dalam negeri dibandingkan dengan ketegangan yang terjadi sebelumnya.
Prosesi pemakaman di Teheran berakhir pada pukul 17.00 waktu setempat. Jenazah pemimpin syahid tersebut kemudian dipindahkan ke kota suci Qom sebelum azan Maghrib berkumandang, demikian diumumkan seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Senin (6/7/2026).
Brigadir Jenderal Hassan Hassanzadeh, Komandan IRGC Wilayah Teheran Raya, mengonfirmasi jadwal rangkaian acara di ibu kota. Ia mengatakan bahwa masyarakat hadir dalam jumlah yang sangat besar sehingga menciptakan sebuah “epik bersejarah.”
Pemindahan jenazah ke Qom dijadwalkan berlangsung sebelum salat Maghrib sebagai tahap berikutnya dari rangkaian penghormatan dan masa berkabung.
Selain itu, Kementerian Perhubungan Iran mengumumkan telah menyediakan 400 unit bus dan enam rangkaian kereta api untuk mengangkut para pelayat yang mengikuti prosesi pemakaman Syahid Sayyid Khamenei.
Para pejabat juga mengonfirmasi bahwa upacara pemakaman terpisah di Irak akan dimulai pada Rabu pukul 06.00 pagi di Najaf, dengan kehadiran yang diharapkan dari para pemimpin tertinggi Iran.
Kerumunan besar mulai berdatangan ke ibu kota Iran sejak pagi hari 6 Juli untuk mengikuti prosesi pemakaman pemimpin syahid tersebut beserta anggota keluarganya.
Televisi pemerintah melaporkan bahwa jumlah peserta begitu besar hingga alun-alun utama dipenuhi lautan manusia, memaksa panitia mengubah rute prosesi.
Koresponden Al Mayadeen di Teheran melaporkan bahwa para pejabat Iran memperkirakan prosesi pemakaman berlangsung sekitar 12 jam.
Kendaraan yang membawa peti jenazah para syuhada, termasuk cucu perempuan termuda mendiang pemimpin tersebut, bergerak melewati lautan pelayat mulai dari Jalan Azadi.
Namun, setelah Lapangan Imam Hussein dan sejumlah titik utama lainnya mencapai kapasitas maksimum, titik keberangkatan prosesi dipindahkan ke Lapangan Enghelab, menurut laporan koresponden.
Hari ketiga penghormatan publik juga diwarnai terus berdatangannya massa ke berbagai jalan utama di Teheran. Para pelayat meneriakkan slogan-slogan di bawah spanduk yang menyerukan pembalasan.
Rangkaian prosesi ini menyusul dua hari penghormatan terakhir di Mosalla Imam Khomeini, yang berakhir pada malam 5 Juli setelah hampir 48 jam dipadati jutaan warga tanpa henti. (*)
Sumber: Al Mayadeen












