BERITAALTERNATIF.COM – Dalam bagian ini, pembahasan ditekankan pada “persaingan dingin rezim Zionis dan Suriah di awal perang saudara Lebanon”.
Tasnim dalam serangkaian catatan tengah meninjau kembali pasang surut kehidupan para pemimpin perlawanan Islam Lebanon. Dalam konteks itu, kisah hidup Sayyid Hassan Nasrallah, Sekjen Hizbullah yang syahid, dibahas dalam seri Kehidupan dan Zaman Sayyid Hassan Nasrallah yang diterbitkan dalam bentuk artikel bersambung. Kini bagian ke-44 hadir di hadapan pembaca.
Sejauh ini, tiga bab telah dipublikasikan. Bab pertama membahas “masa kanak-kanak dan remaja” Nasrallah. Walau penting, bab itu dilalui dengan cepat untuk fokus pada bagian berikut. Bab kedua menelusuri “akar terbentuknya perang saudara Lebanon” dengan tujuan membuktikan bahwa perang Lebanon bukanlah peristiwa mendadak, melainkan memiliki akar mendalam yang turut membentuk lahirnya Perlawanan Islam Lebanon dan mengubah jalan hidup Sayyid Hassan Nasrallah. Bab ketiga membahas peristiwa-peristiwa penting sebelum pecahnya perang saudara Lebanon, di mana fokus diberikan pada kronologi sejarah yang langsung memicu perang.
Bab ketiga ditutup dengan kisah kepulangan (migrasi balik) keluarga Nasrallah ke kampung asalnya di pinggiran kota Shur (Tyre). Dari bagian ke-33, dimulai bab keempat yang mengulas masuknya Suriah ke dalam perang saudara Lebanon.
Dalam bab ini, artikel meninjau suasana Beirut dan dinamika perang saudara pasca kepulangan keluarga Nasrallah ke selatan. Meski tidak berhubungan langsung dengan kehidupan pribadi beliau, peristiwa-peristiwa ini berperan penting membentuk semangat perlawanan di masyarakat Lebanon.
Di tengah Perang Dingin, sulit dibayangkan ada satu negara menginvasi negara lain tanpa restu salah satu dari dua superpower. Suriah kala itu sekutu Uni Soviet, dan karena itu dipercaya Moskow. Di sisi lain, Soviet punya hubungan dekat dengan PLO dan menolak wacana perlucutan senjata atau pengusiran mereka dari Lebanon. Seperti dijelaskan di bagian ke-20 Kemunduran Kiri, Munculnya Perlawanan Islam, sekutu terdekat Soviet di Lebanon adalah Kamal Jumblatt.
Adapun soal Amerika Serikat, di bagian ke-37 Suriah dan Ambisi Dominasi Lebanon telah disebutkan bahwa Washington setuju dengan kehadiran militer Suriah di Lebanon. Mengutip buku Diplomasi Amerika tentang Lebanon, dijelaskan bahwa Henry Kissinger saat itu menilai kehadiran Suriah bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan Damaskus agar mengikuti kerangka kebijakan AS di kawasan, sekaligus menjadi alat menekan kelompok kiri Lebanon. Departemen Luar Negeri AS akhirnya menyetujui “pendelegasian relatif” Lebanon kepada Suriah, meski CIA punya pandangan berbeda.
Seperti dijelaskan sebelumnya, AS tidak hanya menyetujui langkah Suriah, tetapi juga berhasil mendapatkan dukungan Yordania. Hal itu membuka jalan bagi Liga Arab untuk memberikan legitimasi resmi pada intervensi militer Suriah, meskipun dalam resolusi disebutkan pasukan tersebut berada di bawah kendali presiden Lebanon kala itu. Bahkan kuota tentara dari beberapa negara Arab ditetapkan: Arab Saudi dan UEA masing-masing 700 orang. Namun akhirnya, resolusi Liga Arab hanya menjadi lembar pengesahan bagi dominasi militer Suriah di Lebanon.
Seperti diuraikan, pada malam 31 Mei hingga 1 Juni 1976, pasukan Suriah resmi masuk Lebanon. Langkah ini memicu penentangan keras faksi kiri Lebanon dan partai-partai Marxis di dunia Arab. Empat hari kemudian, Wakil Presiden Suriah Abdul Halim Khaddam terbang ke Moskow untuk meredakan kemarahan itu dan bertemu Menlu Soviet Andrei Gromyko.
Menurut dokumen yang terungkap pasca jatuhnya Bashar al-Assad, Gromyko menegur Khaddam dengan keras, “Kalian pernah berkata mustahil Suriah setuju menghabisi perlawanan Palestina. Kalian selalu menegaskan bertentangan dengan Israel dan kebijakan AS. Lalu bagaimana kini kalian masuk Lebanon dan bertindak melawan Palestina? Bahkan ikut mengepung kamp mereka?!”
Khaddam menjawab bahwa operasi Suriah untuk mencegah genosida terhadap komunitas Maronit Kristen Lebanon.
Dia membantah terlibat pengepungan kamp Palestina, bahkan menegaskan sejak 1973 Suriah justru melindungi mereka dari serangan tentara Lebanon. Ia mengingatkan peristiwa Mei 1973 saat ia sendiri ke Beirut untuk menekan militer Lebanon menghentikan serangan ke kamp Palestina.
Khaddam kemudian menjelaskan prinsip Suriah: tidak ada kelompok atau sekte di Lebanon yang boleh dihapus. Semua harus hidup berdampingan. Ia menegaskan, “Apakah Tuan Gromyko kira sulit bagi Suriah menguasai seluruh Lebanon hanya dalam 10 jam? Itu mudah. Tapi kami tidak berniat menghabisi Kamal Jumblatt atau Yasser Arafat!”
Sejarah menunjukkan bahwa Damaskus memang tidak memberi tahu Moskow tentang operasi militer ini. Menurut buku Rahasia Tersembunyi Timur Tengah karya Yevgeny Primakov, intelijen dan diplomat Soviet bahkan mendapati fakta bahwa Suriah sengaja menyembunyikan rencana ini. Primakov, yang kala itu bertugas mengumpulkan laporan di Lebanon, menyatakan bahwa Soviet benar-benar dipaksa menerima “fait accompli”.
Bahkan saat Perdana Menteri Soviet Alexei Kosygin berada di Damaskus pada akhir Mei, tidak ada pejabat Suriah yang menyebut sedikit pun tentang operasi ke Lebanon. Ketika kabar invasi keluar, Kosygin terkejut dan berkata Soviet kini terjebak dalam pilihan sulit: membela sekutu tanpa ikut campur, atau justru menambah api konflik dengan bereaksi keras.
Tujuan Damaskus jelas: menunjukkan supremasi penuh di Lebanon, sekaligus memainkan berbagai peran berbeda di dalam negeri dan luar negeri. Di Lebanon, Suriah menggunakan sekutunya dari kalangan Palestina dan faksi internal, sambil memperbesar jurang antara kanan moderat dan kanan ekstrem, serta mengendalikan ulang dinamika di faksi kiri.
Di luar negeri, Suriah mencari legitimasi penuh Liga Arab, menggandeng restu Departemen Luar Negeri AS, sambil pada saat yang sama mengacaukan perhitungan rezim Zionis, dan memaksa Soviet menerima keadaan yang sudah terjadi. Dengan begitu, Damaskus bisa bergerak leluasa melawan faksi kiri Lebanon dan PLO tanpa terlalu terikat pada Moskow. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












