BERITAALTERNATIF.COM – Imbauan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk membuka ruang pengelolaan Participating Interest (PI) bagi daerah menjadi angin segar bagi pemerintah daerah di Kalimantan Timur (Kaltim).
Khusus di Kaltim, peluang tersebut menjadi penting karena pemerintah daerah masih menantikan kepastian hak kelola PI pada sejumlah blok migas yang beroperasi di wilayah tersebut.
Dorongan tersebut membuka ruang bagi daerah agar tidak hanya menerima manfaat dari aktivitas migas, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam pengelolaannya.
Peluang tersebut turut menjadi perhatian PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) sebagai satu-satunya BUMD milik Kutai Kartanegara (Kukar) yang bergerak di sektor migas.
Direktur Utama PT MGRM, Efri Novianto, mengatakan sejumlah wilayah kerja, kegiatan produksi, hingga infrastruktur migas berada di wilayah Kukar.
Karena itu, pengelolaan PI dinilai tidak semestinya hanya terpusat di tingkat pemerintah provinsi, tetapi juga dapat dirasakan pemerintah kabupaten sebagai daerah yang bersentuhan langsung dengan kegiatan migas.
Skema Bisnis MGRM
Efri mendorong agar Kukar dapat mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan PI, termasuk pada blok-blok yang lokasinya berada di wilayah Kukar.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah North Ganal. Jika MGRM berhasil mendapatkan PI sebesar 10 persen dari blok tersebut, perusahaan mengaku telah menyiapkan strategi bisnis untuk memastikan gas yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi bisnis energi di Kukar.
Dia menyebut MGRM mulai menyiapkan strategi bisnis jangka panjang untuk memperkuat sumber pendapatan perusahaan di tengah tantangan industri minyak dan gas bumi.
Salah satu yang disiapkan adalah rencana bisnis gas yang berkaitan dengan proyek North Ganal.
Jika MGRM mendapatkan PI 10 persen di blok tersebut, perusahaan telah memiliki gambaran mengenai bagaimana gas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi bisnis energi di Kukar.
Rencana tersebut tidak hanya diarahkan pada penjualan gas, tetapi juga pemanfaatannya untuk kebutuhan listrik, industri, hingga bahan bakar kendaraan.
Salah satu yang tengah disiapkan adalah bisnis gas dengan memanfaatkan potensi alokasi gas dari proyek North Ganal.
Gas tersebut direncanakan dialirkan melalui jaringan pipa menuju Terminal Santan di Marangkayu, Kukar.
Ia menyebut rencana tersebut merupakan bagian dari cita-cita perusahaan agar daerah tidak hanya menjadi penghasil energi, tetapi juga memiliki peran lebih besar dalam pemanfaatan energi yang berasal dari wilayahnya sendiri.
“Tentu kita punya cita-cita bagaimana kemudian Kukar ini menjadi tuan rumah energi di negeri sendiri. Dalam hal ini lebih spesifiknya energi,” ujar Efri dalam pemaparannya kepada awak media Berita Alternatif pada Rabu (19/8/2026).
Untuk mewujudkan rencana tersebut, MGRM telah mulai mengupayakan alokasi gas dari North Ganal.
Gas dari proyek tersebut direncanakan mengalir melalui pipa menuju Terminal Santan di wilayah Marangkayu, yang merupakan bagian dari Kukar.
Berdasarkan perkiraan yang disampaikan, fasilitas tersebut ditargetkan mulai on stream pada akhir 2027 atau awal 2028.
“Beberapa kali saya ceritakan, kita minta alokasi gas atas North Ganal yang akan mengalirkan pipanya ke Terminal Santan Marangkayu,” jelasnya.
Menurut dia, permintaan alokasi gas perlu dilakukan sejak awal sebelum jaringan pipa tersebut tersambung.
Hal ini berkaitan dengan karakteristik gas yang berbeda dengan komoditas energi lainnya. Gas tidak dapat dengan mudah disimpan dalam waktu lama sehingga membutuhkan kepastian pemanfaatan dan penyaluran.
“Nah, sebelum pipa ini nyambung, kita sudah minta alokasi. Karena gas itu kan khusus, dia enggak bisa disimpan dalam waktu yang lama dan harus mengalir terus,” katanya.
MGRM mengincar alokasi gas sekitar 10 MMSCFD atau sekitar 10 juta kaki kubik standar per hari. Angka tersebut akan menjadi salah satu sumber pasokan yang diproyeksikan untuk mendukung pengembangan bisnis energi MGRM di Marangkayu.
Gas tersebut tidak direncanakan hanya dijual dalam bentuk gas mentah. MGRM memiliki rencana untuk mempersiapkan industri hilirisasi agar nilai penjualannya meningkat.
Salah satu target pemanfaatannya adalah mendukung kebutuhan listrik di kawasan industri Marangkayu.
“Nanti alokasi gas ini kita konversi menjadi CNG, menjadi LNG, menjadi suplai untuk listrik di kawasan industri Marangkayu karena ada rencana pengembangan di sana,” terangnya.
Dengan adanya rencana pengembangan kawasan industri di Marangkayu, MGRM melihat kebutuhan energi akan ikut meningkat.
Selain listrik, gas tersebut juga direncanakan untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas bagi kendaraan.
MGRM secara khusus membidik kendaraan operasional perusahaan-perusahaan sebagai pasar awal.
“Termasuk juga nanti suplai BBG, bahan bakar gas, kendaraan, khususnya kami menarget kendaraan-kendaraan dari perusahaan,” katanya.
Meski peluang bisnisnya cukup besar, MGRM mengakui realisasi rencana tersebut tidak mudah. Selain membutuhkan waktu yang panjang, pembangunan fasilitas pengolahan gas juga membutuhkan modal yang cukup besar. “Ini enggak gampang,” ujarnya.
MGRM memperkirakan pembangunan fasilitas pengolahan tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp 250 miliar.
Dalam perencanaannya, fasilitas yang disiapkan mencakup pembangunan LNG plant dan CNG plant. Karena kebutuhan investasinya cukup besar, MGRM tidak ingin menanggung seluruh kebutuhan modal tersebut sendiri.
Perusahaan mulai membuka peluang untuk menggandeng pihak swasta dalam mengembangkan bisnis tersebut. Salah satu pertimbangannya adalah memastikan sejak awal sudah tersedia pasar untuk produk energi yang dihasilkan.
MGRM menyebut calon offtaker atau pembeli dari pihak swasta sudah mulai tersedia. Kehadiran calon pembeli tersebut dinilai penting karena pembangunan fasilitas energi dengan investasi besar membutuhkan kepastian pasar.
Dengan begitu, bisnis yang dibangun tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi memiliki tujuan yang jelas dari sisi penyerapan produk.
Tidak Ingin Terus Bergantung pada PI
Pengembangan bisnis gas juga berkaitan dengan strategi jangka panjang MGRM.
Perusahaan menyadari bahwa kondisi industri migas tidak akan selalu sama seperti sekarang. Karena itu, MGRM mulai memikirkan bagaimana perusahaan dapat bertahan dan berkembang dalam beberapa tahun mendatang.
“Kita harus berpikir juga satu tahun ke depan bagaimana, dua tahun, tiga tahun, empat tahun. Mungkin bahkan sampai Kutai Kartanegara ini masih ada, ini MGRM mau jadi apa?” ujarnya.
“Bisnis migas ini kan kecenderungannya turun, karena minyak-minyak kita kan minyak tua semuanya,” sambungnya.
Karena itu, perusahaan mulai mendorong agar bisnis migas di Kukar tetap memiliki sumber pendapatan ketika kontribusi PI terhadap perusahaan mengalami penurunan.
Rencana bisnis gas tersebut menjadi salah satu langkah MGRM untuk membangun sumber pendapatan baru di luar PI.
Jika alokasi gas terealisasi dan fasilitas pengolahan dapat dibangun, MGRM menargetkan gas dapat diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik, industri, dan transportasi di daerah.
Dengan konsep tersebut, MGRM berharap Kukar mulai mengambil posisi sebagai daerah yang ikut mengelola dan memanfaatkan energi untuk kebutuhan ekonominya sendiri.
MGRM ingin memiliki model bisnis lain yang dipersiapkan guna memperkuat pendapatan asli daerah dan perekonomian daerah dalam jangka panjang.
“Ke depan dia harus, bukan meninggalkan PI, tapi harus sudah siap-siap ketika PI tidak ada lagi. Nah, ini yang kami coba siapkan,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











