Search

MGRM Garap Proyek Penanggulangan Longsor Terminal Lawe-Lawe Senilai Rp 16,8 Miliar

Direktur Utama PT Mahakam Gerbang Raja Migas, Efri Novianto. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

BERITAALTERNATIF.COM – PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) mengerjakan proyek penanggulangan longsoran di Terminal Lawe-Lawe, Penajam Paser Utara (PPU), yang menjadi salah satu bagian dari rantai pasok minyak mentah menuju fasilitas Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Terminal Lawe-Lawe memiliki fungsi sebagai tempat penampungan crude oil atau minyak mentah, baik yang berasal dari Kaltim maupun dari luar daerah.

Minyak mentah yang ditampung di terminal tersebut kemudian dialirkan melalui jaringan pipa menuju fasilitas pengolahan di Balikpapan.

“PPU itu menampung minyak mentahnya, pengolahnya ada di Balikpapan,” ujar Direktur Utama PT MGRM, Efri Novianto, Rabu (19/8/2026).

Dalam proyek penanggulangan longsoran tersebut, MGRM tidak menjadi kontraktor utama. Perusahaan masuk sebagai subkontraktor dari PT Pertamina Maintenance & Construction (PertaMC).

MGRM sebelumnya mengikuti proses tender yang dilakukan PertaMC. Setelah itu, perusahaan dipercaya mengerjakan bagian pekerjaan di lapangan.

Efri menerangkan, sejumlah pekerjaan di lingkungan Pertamina memang terlebih dahulu ditangani oleh anak perusahaan Pertamina.

Apabila pekerjaan tertentu membutuhkan dukungan pihak lain, pengerjaannya kemudian dapat melibatkan perusahaan swasta sebagai mitra atau subkontraktor. “Jadi, kita support di sana. Kita dibawa PertaMC,” katanya.

Pola kerja serupa juga diterapkan MGRM dalam sejumlah pekerjaan di kawasan RDMP Balikpapan.

“RDMP juga kita subkontraktornya PertaMC juga. Kita support,” ujarnya.

Untuk proyek di Terminal Lawe-Lawe, pekerjaan utama MGRM adalah melakukan penanggulangan longsoran pada area yang dinilai berpotensi mengganggu fasilitas di sekitar terminal.

Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah pemasangan turap menggunakan batu bronjong atau gabion untuk memperkuat bagian lereng yang mengalami longsor. “Turap itu dari batu-batu yang diikat dengan gabion,” jelasnya.

Batu kemudian ditempatkan dan diperkuat menggunakan kawat bronjong untuk menahan material tanah di sisi lereng.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena di sekitar lokasi terdapat fasilitas Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT). Jarak antara area yang mengalami longsoran dengan gudang PHKT disebut hanya sekitar 2–3 meter.

“Bisa longsor masuk ke Lawe-Lawe. Makanya kita turapi di situ,” katanya.

Setelah pemasangan turap, pekerjaan dilanjutkan dengan pembuatan saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan sehingga tidak kembali memperparah kondisi lereng.

MGRM juga melakukan penanaman atau hydroseeding pada bagian tanah di atas lereng. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu memperkuat permukaan tanah melalui pertumbuhan rumput sehingga material tanah tidak mudah tergerus dan jatuh ke bawah.

“Di atasnya, tanah itu kita tutupi dengan hydroseeding untuk rumput, untuk memperkuat supaya tanah itu tidak kembali jatuh ke bawah,” ujarnya.

Selain memperkuat lereng, MGRM melakukan perapian dan pengerasan pada bagian jalan di sekitar lokasi pekerjaan.

Pengerasan dilakukan dengan menambahkan material batu, bukan melalui pengecoran beton. Langkah tersebut bertujuan mengurangi dampak aliran air ketika hujan deras. “Menghampar batu supaya air ketika hujan itu tidak menggerus parit,” jelasnya.

Menurutnya, karakteristik tanah di kawasan Lawe-Lawe menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan longsor membutuhkan perhatian khusus.

Ia menyebut kondisi tanah di kawasan tersebut relatif lunak dan memiliki struktur yang mudah mengalami perubahan ketika terkena air dalam jumlah besar.

“Memang Lawe-Lawe itu tanahnya tanah lunak. Beda dengan tanah liat yang kuat ikatannya. Ketika hujan deras, secara strukturnya bisa hancur karena memang lemah sekali,” katanya.

Untuk pekerjaan penanggulangan longsoran tersebut, nilai kontrak yang diterima MGRM disebut mencapai Rp 16,8 miliar.

Nilai tersebut merupakan nilai pekerjaan antara MGRM dan pihak kontraktor yang menaunginya, bukan keseluruhan nilai proyek yang diterima kontraktor utama dari Pertamina.

“Pastilah Pertamina ketika masuk kontrak, pasti dia mengambil keuntungan juga. Enggak mungkin sama dengan nilai kami,” jelasnya.

Dengan demikian, nilai Rp 16,8 miliar merupakan nilai pekerjaan yang menjadi bagian MGRM dalam proyek tersebut.

Pekerjaan tersebut pada awalnya ditargetkan selesai pada Agustus 2026. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat kemungkinan penambahan pekerjaan berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan.

Pihak MGRM menyebut pekerjaan tambahan dapat dilakukan apabila selama pengerjaan ditemukan kebutuhan lain yang sebelumnya belum masuk dalam perencanaan awal.

“Kalau target selesainya harusnya bulan ini selesai. Cuma kadang-kadang ada istilahnya kerja tambah,” ujarnya.

Menurutnya, pola pekerjaan di lingkungan Pertamina memungkinkan adanya penambahan pekerjaan apabila memang dibutuhkan. Penambahan pekerjaan tersebut juga akan diikuti dengan penyesuaian nilai anggaran.

“Mereka bisa saja ketika proyek berjalan, ‘saya minta tambahin’. Bukan tambah muatan, tambah kerjaan. Tapi tentu nilainya akan ditambah juga,” katanya.

Penambahan tersebut biasanya muncul karena terdapat kondisi di lapangan yang sebelumnya belum diperhitungkan dalam perencanaan awal.

“Dari sisi perencanaan mereka yang dulunya tidak dikira bakal ada, mereka nambahin. Tapi anggarannya tetap ditambahin,” jelasnya.

MGRM menyebut salah satu alasan perusahaan kembali dipercaya mengerjakan pekerjaan tersebut berkaitan dengan rekam jejak dan portofolio pekerjaan yang dimiliki.

“Portofolio MGRM kan cukup bagus. Mungkin secara kinerja di mata mereka, sehingga kita ditunjuk kembali,” ujarnya.

Selain proyek Terminal Lawe-Lawe dan RDMP Balikpapan, MGRM juga mengerjakan sejumlah pekerjaan facility maintenance di lingkungan Pertamina Group melalui mitra seperti Pertamina Patra Jasa.

Pekerjaan tersebut mencakup pemeliharaan sejumlah fasilitas, seperti rumah dinas, fasilitas terminal, hingga fasilitas pendukung pengisian bahan bakar pesawat di sejumlah bandara.

Di Samarinda, misalnya, MGRM menangani pekerjaan pemeliharaan fasilitas di Bandara APT Pranoto.

Sementara itu, untuk kawasan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, terdapat rencana pekerjaan serupa pada fasilitas pendukung pengisian bahan bakar pesawat.

MGRM menegaskan pekerjaan tersebut lebih berfokus pada pemeliharaan dan perawatan fasilitas.

Dengan sejumlah pekerjaan tersebut, MGRM kini tidak hanya mengandalkan satu jenis pekerjaan, tetapi mulai memperluas portofolio jasa konstruksi, pemeliharaan, dan dukungan operasional di lingkungan Pertamina Group. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA