Search

Perang Gaza Membuat Mesin Propaganda Israel Kehilangan Kredibilitas

Survei global terkemuka, termasuk yang dirilis oleh Pew Research Center, menunjukkan bahwa pandangan negatif terhadap rezim Zionis meningkat tajam di berbagai negara dunia. Fenomena ini menandai perubahan besar dalam persepsi global terhadap Israel dan efektivitas mesin propagandanya yang dikenal dengan nama Hasbara. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Hasbara, yang dalam bahasa Ibrani berarti penjelasan atau interpretasi, merujuk pada strategi resmi propaganda dan diplomasi publik rezim Zionis. Sejak awal berdirinya gerakan Zionis, Hasbara telah menjadi alat utama untuk membentuk opini publik internasional, melegitimasi kebijakan pendudukan, dan menutupi berbagai pelanggaran terhadap rakyat Palestina.

Awalnya, istilah ini digunakan sebagai alternatif dari kata propaganda—dengan kesan yang lebih halus dan positif—tetapi dalam praktiknya, Hasbara adalah sistem yang kompleks dan terorganisir yang menggabungkan unsur media, diplomasi, hubungan publik, dan operasi informasi.

Tujuan utama Hasbara adalah menciptakan citra bahwa tindakan-tindakan Israel, termasuk pendudukan, pembangunan permukiman ilegal, dan serangan militer, merupakan langkah yang dapat dibenarkan.

Untuk itu, Israel membangun jaringan luas yang melibatkan juru bicara pemerintah, lembaga think tank, media, serta pelatihan khusus bagi aktivis dan jurnalis yang sejalan dengan kepentingannya. Dengan cara ini, Hasbara berfungsi sebagai tameng komunikasi global bagi Israel—melawan kritik, mengubah narasi, dan memanipulasi persepsi publik.

Akar Hasbara dapat ditelusuri sejak awal abad ke-20, ketika gerakan Zionis menghadapi gelombang penolakan terhadap rencana pemukiman Yahudi di Palestina. Tokoh Zionis Nahum Sokolow kemudian memperkenalkan konsep ini untuk menjelaskan kebijakan Zionis dengan cara yang “dapat diterima” oleh masyarakat internasional. Seiring waktu, sistem ini berkembang menjadi mesin propaganda global yang terhubung dengan lembaga-lembaga diplomatik dan media internasional.

Pada dekade-dekade berikutnya, terutama setelah tragedi seperti pembantaian Sabra dan Shatila serta perang-perang di Lebanon dan Gaza, Hasbara menjadi semakin terorganisir. Dalam Konferensi Yerusalem 1983, Israel menetapkan strategi komunikasi baru untuk mengalihkan fokus kritik dari isu pendudukan ke isu antisemitisme.

Dengan demikian, setiap kritik terhadap kebijakan Israel sering kali dikategorikan sebagai bentuk kebencian terhadap Yahudi, bukan sebagai protes terhadap kejahatan perang—sebuah strategi yang efektif dalam menekan oposisi dan menjaga dukungan Barat.

Namun, munculnya teknologi digital dan media sosial dua dekade terakhir mengubah lanskap ini. Hasbara kini menggunakan akun palsu, bot, dan algoritma kompleks untuk mengarahkan opini publik, menekan suara pro-Palestina, dan membatasi jangkauan konten yang mengungkap pelanggaran Israel.

Berbagai laporan menunjukkan adanya kerja sama antara lembaga pemerintah Israel dan perusahaan teknologi besar dalam menyensor atau menurunkan konten yang dianggap “anti-Israel”. Bersamaan dengan itu, ribuan relawan di berbagai negara dilatih untuk ikut menyebarkan narasi pro-Israel di dunia maya.

Namun efektivitas Hasbara mulai menurun drastis, terutama sejak perang Gaza 2023. Gambar dan video yang memperlihatkan pembunuhan massal anak-anak serta kehancuran total infrastruktur sipil tersebar luas di media sosial dan tak dapat lagi disembunyikan.

Narasi resmi Israel yang menggambarkan perang sebagai “pembelaan diri” dipatahkan oleh bukti nyata yang disiarkan langsung dari lapangan. Suara para jurnalis independen dan aktivis kemanusiaan di Gaza berhasil menembus dinding propaganda yang selama ini kokoh.

Hasilnya, opini publik global berubah signifikan. Survei internasional menunjukkan peningkatan sentimen anti-Israel di negara-negara seperti Turki, Indonesia, Belanda, Spanyol, bahkan Amerika Serikat sendiri. Gelombang simpati terhadap rakyat Palestina membesar, sementara klaim Israel sebagai “korban” mulai kehilangan daya pengaruhnya. Dunia kini melihat bahwa narasi Hasbara tidak lagi mampu menutupi kenyataan kejahatan perang yang terus berlangsung.

Di dalam negeri sendiri, Hasbara juga digunakan sebagai alat kontrol politik. Pemerintah Israel menekan media dan aktivis hak asasi manusia yang bersuara kritis dengan menuduh mereka “pengkhianat” atau “antisemit”. Langkah ini memang berhasil menekan oposisi dalam jangka pendek, namun juga menimbulkan keterbelahan sosial di antara warga Israel. Generasi muda, terutama keturunan imigran dari Ethiopia dan Uni Soviet, mulai mempertanyakan moralitas kebijakan negaranya dan menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap kritik.

Kini, Hasbara menghadapi tantangan paling serius sepanjang sejarahnya. Di era keterbukaan informasi dan transparansi digital, sulit bagi Israel untuk mengendalikan narasi global sepenuhnya. Fakta dan kesaksian langsung dari lapangan dengan cepat menembus batas propaganda terorganisir. Dunia semakin menyadari bahwa di balik slogan “keamanan nasional” dan “hak membela diri”, terdapat sistem penindasan yang sistematis terhadap rakyat Palestina.

Masa depan Hasbara kemungkinan besar akan tetap menjadi bagian dari strategi politik Israel, tetapi pengaruhnya tidak lagi mutlak seperti dulu. Kekuatan media independen, jaringan jurnalis internasional, dan kesadaran publik global telah mengikis kemampuan Israel untuk mendikte kebenaran.

Perang Gaza telah memperlihatkan bahwa tidak ada mesin propaganda yang mampu menutupi kenyataan penderitaan manusia—dan di sinilah letak kegagalan paling mendasar dari Hasbara. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA